
Mobil pribadi keluarga Nicolas kini sudah pergi membuat semua yang ada di halaman pun mulai bubar satu persatu usai menyaksikan kepergian sepasang pengantin yang sudah lama itu.
"Kita pergi jalan-jalan mau?" ajak Dava menggapai lengan sang istri yang ingin ikut melangkah masuk ke dalam rumahnya.
"Dav, mau kemana?" tanya Ruth menatap wajah sang suami dengan tanya.
"Menghabiskan waktu libur kita. Besok aku akan mulai bekerja keras lagi. Apa kau tidak mau?" tanya Dava.
Belum usai Ruth menjawabnya, suara seorang wanita sudah terdengar memerintahnya. "Pergilah, Nak. Ajak Putri dan juga Rava berjalan. Kau pasti bosan kan selalu mengurung di rumah. Bunda bahkan tidak tahu bagaimana penampilanmu saat keluar dari rumah. Ayo." ucap sang bunda, Tarisya yang membujuk anak perempuannya itu.
Meski ia tahu bagaimana hubungan mereka saat malam pengantin hingga saat ini. Masih seperti orang yang belum menikah tentunya.
"Baiklah. Sebentar kami bersiap dulu." Ruth melangkah meninggalkan sang suami dan bunda. Ia membawa Rava dan mengajak Putri yang sudah lebih dulu di dalam rumah bersama dengan ketiga pelayan baru keluarga Nicolas.
Beberapa saat berlalu, kini akhirnya Ruth keluar dari kamarnya dengan penampilan yang sangat anggun. Dress berwarna cokelat dan rambut terurai lurus, sedikit polesan tipis di wajah cantik itu. Benar-benar sangat cantik di mata semuanya. Termasuk Dava.
Ia tersenyum melihat kehadiran sang istri yang menggendong baby Rava dan menggandeng tangan si kecil Putri.
Tanpa ba bi bu lagi, Dava segera menghampiri ketiga.
"Hup!" Ia menggendong tubuh sang anak yang sudah berpenampilan begitu lucu. Sepatu kets putih dan juga ikat rambut kuda yang begitu tinggi.
__ADS_1
"Ayah, kita mau kemana?" tanya Putri dalam gendongan sang ayah.
"Mau jalan-jalan. Putri rindukan berjalan dengan Ayah dan Mamah?" ucap Dava tersenyum.
Ia bahkan lupa kapan waktu terakhir mereka berjalan bertiga sebelum kelahiran baby Rava.
Setelah kepergian kedua pasangan pengantin lama, kini satu keluarga kecil yang masih hangat-hangatnya tampak berjalan keluar rumah.
"Ayah, Bunda, kami mau pergi jalan-jalan dulu." pamit Dava pada kedua orangtua angkatnya. Sekarang ia berjanji, untuk selalu menyempatkan diri untuk memberikan waktu pada kedua anak dan juga sang istri tercinta.
"Pergilah, Jeff. Hati-hati yah." Tarisya, sang bunda tersenyum mengatakan ijin pada mereka.
Hingga akhirnya kini Dava melesatkan kendaraan kijang besi itu ke arah jalanan besar. Suasana di kediaman Nicolas begitu sangat membahagiakan siapa pun yang melihatnya. Terlebih saat ini perusahaan D Group mulai berkembang sangat pesat.
Banyak hal yang membuat keluarga besar itu begitu menghargai apa yang mereka miliki saat ini. Tentu saja penderitaan yang sangat panjang jalannya, yang mengantarkan mereka hingga di tahap ini sekarang.
"Putri, apa yang mau dibeli untuk di sekolah, Nak?" tanya Dava mengusap kepala bocah kecil itu yang kini duduk di bagian tengah-tengah antara Ruth dan Dava.
Bocah itu tak mau tertinggal obrolan kedua orangtuanya, oleh sebab itu ia tak mau duduk sendiri di belakang.
"Em...apayah Ayah?" ia terlihat melirik ke awan mobil yang mereka naiki seolah mencari hal yang ingin ia dapatkan.
__ADS_1
"Buku? sepertinya masih banyak, Nak. Buku dongeng juga masih banyak. Bahkan Putri tidak pernah mau baca buku dongengnya." ujar Ruth mengingat sikap barbar sang anak yang sangat suka mengoleksi buku dongeng, namun tak pernah sekalipun membacanya.
"Benar Putri tidak pernah mau membacanya?" selidik Dava pada sang anak tanpa menatap wajah cemberut Putri.
"Mamah, kata mrs di sekolah kita kalau mau pintar harus punya buku banyak. Putri kan susah baca kalau di sekolah. Jadi yah Putri mau punya buku banyak biar pintar." sarkasnya dengan penuh keyakinan.
Mendengar itu, Ruth dan Dava menghela napas kasar. "Sayang, percuma punya banyak buku tapi tidak di baca. Bagaimana bisa pintar kalau tidak belajar?"
Kedua kalinya Putri menggelembungkan kedua pipi itu saat otaknya tak bisa menemukan jawaban yang benar menurutnya. "Uh...kok kepala Putri bisa buntu begini? Kan kalah sama Mamah sama Ayah..." gerutunya dalam hati.
"Sayang, sudahlah. Kita cari keperluan Putri dan Rava dulu, setelah itu baru kita belanja untukmu. Okey?" Tangan besar Dsva mengusap pucuk kepala sang istri yang tersenyum menatap ke arahnya.
"Dav, aku tidak ingin membeli apapun saat ini..."
"Kita harus cari dress terbaru untukmu, Aku ingin melihat istriku menikmati jerih payah suaminya. Bukan jerih payahmu sendiri." Selama mereka menikah, Dava memang tidak ingin jika sang istri bekerja.
Persatuan dalam ikatan pernikahan kali ini benar-benar membuat Dava tidak ingin menyia-nyiakan waktu mereka berdua.
"Dav,"
"Sssstt, Mah tidak baik bukan menolak niat baik orang? Apalagi itu Ayah. Iya kan, Ayah?" Bukannya Dava yang menghentikan ucapan wanita itu, justru sang putrilah yang terdengar dewasa saat ini. Tanpa di sadari keduanya, jika bocah itu terus tercengang mengamati perdebatan keduanya sedari tadi.
__ADS_1