Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 151. Wanita Berambut Sebahu


__ADS_3

Jalanan sore yang begitu padat tentu saja sudah menjadi ciri khas kota metropolitan di kala semua pekerja akan menuju rumah mereka masing-masing.


Kendaraan beroda empat tampak sesekali maju dan berhenti kembali saat melihat jarak dari mobil satu ke mobil yang lain begitu dekat.


Di sini sang supir yang sesekali melirik ke arah penumpang di belakang merasa tidak enak hati karena perjalanan yang begitu padat. sementara sang penumpang sudah terus menangis sepanjang perjalanan.


"Maaf Non, soalnya jalanan agak macet. Jadi kita tidak bisa sampai lebih cepat." tutur sang supir taksi merasa kasihan dengan wanita yang duduk di belakangnya.


"Iya tidak apa-apa kok, Pak. Kalau begitu saya jalan kaki saja. Ini ongkosnya." ia menjawab usai mengusap air mata yang berjatuhan di kedua pipinya.


Sungguh sang supir begitu merasa tidak enak hati melihat wajah sedih penumpangnya di tambah lagi harus turun dari taksi karena macet. "Sekali lagi mohon maaf yah, Non. Ini uangnya separuh saja, kan Non tidak sampai di rumah saya antarnya." Ia mengembalikan separuh ongkos dengan cepat sebelum wanita itu lebih dulu keluar.


"Tidak usah, Pak. Ambil saja yah." Ia turun dengan wajah yang tersenyum tulus. Sungguh hatinya begitu kuat di saat perasaan sedih menghampirinya, ia masih bisa tersenyum pada orang asing di depannya.


Di sinilah, ia berjalan di trotoar dengan mata sembab dan wajah yang tertutup dengan masker. Pandangan matanya terasa begitu hampa setelah melihat kejadian yang tidak ia duga terjadi di rumah sakit tadi.

__ADS_1


Rasa percayanya pada sang suami hilang seketika, berganti rasa yang begitu sulit di jelaskan.


"Apa kembalinya kamu padaku hanya demi mengamankan jarak antara kamu dan adikmu, Sen? Apa aku hanya kau jadikan jembatan untuk kau bisa menyeberangi sungai dengan selamat?" Ia bergumam dengan meratapi dirinya sendiri yang begitu malang nasibnya.


Kepalanya menunduk dan tertawa kecut. Ia menertawakan dirinya sendiri saat ini. "Hehehe...bagaimana mungkin kau berharap lebih padanya Dina? Apa kau lupa siapa dirimu? Berapa besar kekurangan dirimu?" ia berucap merendahkan dirinya sendiri dengan mata yang sudah menggenang air mata.


Langkah kakinya terus melangkah tanpa arah, bahkan tak perduli dengan langit sore yang tampak begitu mendung, rambut hitam tebalnya pun terus bertiup mengikuti arah angin bergerak.


Sambaran petir ber-iringan dengan kilat terus terlihat seakan ingin menyuarakan jika hujan akan segera tiba. Namun bagi wanita yang tengah patah hati kini, hujan bukanlah hal yang menakutkan baginya.


Di peluknya tubuh yang kedinginan itu dengan kedua tangannya sendiri.


Hujan yang begitu deras turun untuk menemani wanita yang tengah menangis. Ia tidak tega untuk memperlihatkan pada pengguna jalanan jika wanita manis berambut sebahu itu tengah bersedih sendirian.


Sementara di sisi yang berbeda. Kini Sendi menuntun sang adik yang baru bisa menghentikan tangisnya menuju parkiran mobil berada.

__ADS_1


"Kak," lirihnya menatap Sendi dengan tatapan pilu.


Ia tidak ingin pulang ke rumah tanpa Dava. Bagaimana pun ikatan mereka saat ini masih suami istri, dan Ruth sama sekali tidak rela jika pulangnya dia kali ini mengartikan dengan di mulainya perpisahannya dengan sang suami.


Tidak. Ia tidak sanggup untuk membuat keputusan seberat ini.


Sendi menatap dalam sang adik. "Ayo, Ruth kita pulang sekarang. Hujan begitu deras tidak baik jika kamu berkeliaran di luar dengan cuaca begitu dingin." perhatian Sendi bahkan menjadikan Ruth tak bisa menahan kesedihannya lagi.


Air mata yang sudah tak jatuh sedari beberapa detik lalu, kini kembali berjatuhan. Perhatian yang selalu ia dapatkan adalah dari sosok Dava. Tapi, mengapa kali ini ia tidak muncul untuk mencemaskan keadaan istrinya yang jelas tengah mengandung anaknya.


Ruth menggetarkan kedua bahunya. Ia menangis tanpa suara. Sesakit inikah di lupakan oleh suami sendiri, pikirnya.


Menggelengkan kepala dan menatap dengan pandangan yang menyiratkan ketidak setujuannya pada ucapan sang kakak. "Tidak, Kak. Aku menunggu suamiku. Aku akan tetap pulang dengannya."


Sendi terus berusaha membujuk kerasnya hati sang adik, begitu pula dengan Ruth yang terus menolak bujukan sang adik.

__ADS_1


"Mengapa kau tidak menurut pada kakakmu, adik nakal? Mengapa kau masih mengharapkan hubungan kita yang tidak akan bisa di bawa kemana pun sampai kapan pun? Pulanglah, istirahatlah dengan baik, istriku. Aku mohon jangan buat hubungan ini semakin menyakiti kita..." Di sini Dava menahan sesaknya dada kala mengintip dari balik tiang.


Ia menyaksikan sedari tadi percakapan antara Sendi dan sang Ruth. Hatinya terasa begitu terhantam ribuan bongkahan batu yang teramat besar. Sungguh menyesakkan dada.


__ADS_2