
Di meja makan yang di penuhi dengan hidangan-hidangan sederhana namun sangat menggiurkan mata yang memandang kini terlihat sosok bocah terus menatap tanpa bisa berkedip.
Berulang kali pun ia meneguk kasar salivahnya. Malam yang indah bukan? sebelum tidur di suguhkan dengan berbagai rasa makanan yang menemani makan malamnya.
"Aduh...Ayah sama Mamah mana yah? Pelut Putli udah godain mulu nih dari tadi." celotehnya meremas perut buncit di bali baju tidur itu.
Sedangkan Mbok Nan hanya terkekeh melihat tingkah Putri layaknya orang yang tengah menunggu detik-detik buka puasa.
"Ya Allah Putri Putri...kamu lucu sekali sih. Sama persis dengan Ayah Dava waktu kecil dulu. Suka nggak sabar kalau lihat makanan seperti itu. Bedanya dulu Mbok yang masakin, tapi kalau sekarang sudah ada Non Ruth." Mbok Nan merasa rindu akan masa lalu yang kini sudah tidak akan mungkin ia dapatkan lagi.
Kenangan indah memang selalu membekas di hati, bukan hanya kenangan buruk saja. Bahkan terkadang sebagian orang tidak sadar untuk merasakan moment indah itu, hingga ketika di kemudian hari merindukan moment bahagia itu ia baru menyesal.
Bersyukur di usianya yang senja kini, Mbok Nan sudah memberikan pelayanan yang terbaik untuk orang-orang yang ada di sekelilingnya. Meski terkadang ia rindu, tapi ada rasa bangga pada dirinya sendiri. Setidaknya semua yang pernah hidup dekat dengannya, mereka sangat bahagia.
"Mamah...Ayah!" seru Putri antusias menyambut kedatangan kedua orangtuanya dari arah kamar.
"Hei, Sayang." sapa Dava tersenyum dan duduk di samping Putri.
"Lama banget sih Ayah? Dengalin nih pelut Putli sudah nyanyi-nyanyi dari tadi. Ayah tahu nggak dia bilang apa balusan pas habis nyanyi?" tanyanya dengan wajah menengadah menatap wajah tampan sang ayah.
"Hem? Nyanyi? Bilang? Memangnya perut Putri bisa ngomong?" tanya Dava meladeni celotehan sang anak sedangkan Ruth terkekeh sembari menggelengkan kepalanya.
Lagi-lagi Putri bercerita bodoh pada sang ayah sebagai pengantar makan malam mereka kali ini. Dan anehnya Dava selalu tidak pernah mencegah hal itu berhenti. Justru ia akan membuat pembahasan mereka semakin menarik.
__ADS_1
Putri mengangguk. "Iya, Ayah. Katanya gini 'ayo kita habisin saja makanannya kalau ayah kamu nggak datang-datang juga.' Mau nyanyi lagi pun perut Putli sampai nggak kuat Ayah. Mereka sudah kelapalan loh." Dava terkekeh geli melihat ekspresi menggemaskan sang anak.
"Heh...kamu ini yah? Ayah benar-benar ingin gigit kamu loh gemas sekali. Lihat ini pipi apa roti gembung besar banget?"
"Sudah sudah. Ayo makannya. Nanti bercandanya lagi di lanjut." Ruth segera memberikan nasi di piring sang suami beserta lauk pauknya.
Dava memulai makannya bersama dengan Putri dan juga Mbok Nan. Sementara Ruth tampak memperhatikan mereka tanpa bisa menyentuh makanannya.
"Sayang? ada apa?" tanya Dava melihat sang istri yang tidak makan sama sekali.
"Ah, tidak. Tidak ada apa-apa, Dav." ucapnya dengan wajah tersenyum.
"Mengapa tidak memakannya?" sahut Dava lagi.
"Mamah halus makan, nanti kalo nggak makan kasihan dedeknya juga loh. Nanti kulus kayak Putli juga."
"Ah ya ampun...Dav, lihat anakmu aku tidak tahu harus berbicara apa." Ruth yang lesu kini terhibur dengan ucapan sang anak.
Dava terkekeh hingga wajah putihnya memerah. Namun seketika ia ingat apa yang di katakan Putri barusan. "Sayang, ayo makan. Apa yang di katakan Putri ada benarnya. Kasihan anak kita jika kau tidak makan." Ia menyendokkan makanan ke mulut sang istri.
"Dav..." Ruth berucap dengan lemas menolak untuk mengisi perutnya.
"Ayo, makan Sayang. Sedikit saja." pintahnya dengan penuh permohonan kali ini.
__ADS_1
Suasana hangat di meja makan itu berlangsung beberapa saat lamanya. Sementara suasana yang sama juga terjalin di rumah yang berbeda.
"Sendi, ayo makan, Nak." Wuri membuyarkan lamunan Sendi saat berada di meja makan.
Sedari tadi tangannya menjadi tumpuan wajahnya, makanan di piring yang di ambilkan oleh Dina sama sekali tidak ia sentuh.
Wuri, Sarah, dan juga Dina saling memandang saat Sendi sama sekali tidak menggubris ucapan sang Ibu.
"Andai saja kita bukan sedarah...mungkin malam ini dan malam-malam seterusnya kita bisa makan bersama. Dan mungkin kita sudah memiliki anak yang tampan dan cantik saat ini. Atau mungkin kita sedang menunggu detik-detik kelahiran anak kita, Ruth. Huh...mengapa bisa sampai ada takdir seperti ini di dunia? Mengapa harus menjadi saudara jika kita saling mencintai?"
Rasa penyesalan telah lahir ke dunia seakan membuat Sendi ingin meminta di lahirkan kembali ke dunia dengan sosok yang berbeda.
"Sendi," panggil Wuri pelan namun dengan genggaman tangan hangat yang ia berikan pada sang anak.
"Hah? I-iyaa, Ruth?" Sendi sampai terperanjat karena terkejut mendapat panggilan dari sang Ibu.
Ruth? Semua mata saling menatap ke arahnya bergantian dengan menatap satu sama lain. Sementara Dina justru tak berniat menatapnya. Ia memilih tersenyum kecut dan menundukkan kepalanya. Tangannya terus menyendokkan makanan ke dalam mulut, meski air mata di kedua matanya sudah menggenang memenuhi kelopak mata itu.
Suapan demi suapan ia lakukan, tentu saja dengan air mata yang penuh di kelopak mata ia sampai kesulitan melihat arah sendoknya.
"Sadar, Dina. Sampai kapan pun kau tidak akan bisa mengambil hatinya. Nama wanita itu sudah cukup kuat di sana. Kau hanya bisa mengambil statusmu sebagai istri saja. Selebihnya jangan pernah terlalu berharap. Hal itu sangat mustahil. Tidak akan pernah terjadi." Dina hanya bisa berucap di dalam hatinya menyadarkan siapa dirinya di hati sang suami saat ini dan seterusnya.
"Maaf, aku tidak lapar." Sendi beranjak dari kursi dan berjalan menuju halaman depan rumah. Teras yang begitu kecil yang terdiri dari dua kursi saja dan satu meja kecil bundar. Di sana ia duduk sembari menatap hampa ke depan rumah yang tidak ada sama sekali pemandangan indah seperti rumah sebelumnya.
__ADS_1
"Sadar Sendi, mau sampai kapan kau terus seperti ini? Mau sampai kapan kehidupanmu akan pahit begini?" Ia berusaha sekuat tenaga melawan isi hatinya dengan semua pikiran-pikiran yang positif.