
Ruth tersenyum kecut kala melihat siapa pria yang bersuara lantang dan tubuh yang terlihat sangat tegang. Manik mata kecoklatan milik gadis itu bergerak ke arah dimana Dava berdiri menatapnya dengan ekspresi datar.
"Yah, dialah pria yang tulus padaku dan juga TULUS DENGAN PUTRI, anakku." ucap Ruth melingkarkan tangannya dengan lembut setelah berhasil menjangkau jarak Dava yang tidak jauh darinya.
"Sendi, Sayang." panggil Dina dengan manjanya, matanya menatap kesal pada Ruth.
Sendi mematung, tanpa memperdulikan ucapan Dina.
"Ruth, tidak bisa semudah itu...Kau sudah melukaiku, apa kau pikir itu akan berlalu begitu saja? hah! Dan kau..."
"Sayang, hentikan!" teriak Dina menarik lengan sang suami agar berhenti mendekat ke arah sang mantan.
Dava yang sedari tadi tampak diam, kini melingkarkan tangannya di pinggang langsing milik Ruth. Bibir berwarna merah muda itu tampak menyunggingkan senyuman kecil dan bergerak mendekati daun telinga gadis cantik itu.
"Aku harap ini benar-benar dari hatimu, Ruth...Bersikap manja pada Tuan Dava Sandronata," ucapnya setengah berbisik.
"Sudahlah jangan terlalu banyak bicara," sahut Ruth memaksakan lebih mendekatkan tubuhnya lagi hingga benar-benar menempel sempurna di tubuh Dava.
"Om Sendi, tolong jangan malah-malah sama Mamah." teriak Putri yang entah dari mana keberaniannya seketika berlari dari arah Ruth dan Dava lalu mendorong tubuh Sendi.
"Putri," Ruth dan Dava serentak bersuara dan meraih lengan bocah mungil itu.
"Ruth, ayo ikut aku sekarang!" teriak Sendi begitu terbakar api cemburu.
Bagaimana mungkin ia akan tenang melihat Ruth dekat dengan pria lain. Mungkin dalam hal ini, ia begitu menjadi pria yang sangat egois. Sudah menikah, dan sebelum menikah pun dirinya tak pernah sanggup melindungi Ruth, sang kekasih dari segala trik jahat sang Ayah.
Dan nyatanya saat ini, ia baru menyadari jika selama beberapa bulan terakhir ini dirinya telah salah menebak isi hatinya sendiri. CInta yang ia yakini telah menghilang, ternyata masih bersarang utuh di hatinya tanpa berkurang sedikit pun.
Dan kecemburuan itu terasa jelas, kala melihat ada sosok pria yang berhasil mengganti posisinya kali ini. Tidak ada salahnya memiliki sifat cemburu, ketika kamu merasa takut akan kehilangan. Tapi tidak dengan Sendi.
Kali ini ia sudah berposisi sebagai seorang suami. Bahkan hubungan cintanya dengan Ruth saat ini sudah tertimbun dengan banyaknya perjalanan hidup selama emam bulan terakhir.
"Sendi, lepaskan!" Ruth memberontak cengkraman erat pria itu.
"Tidak, ayo ikut aku! Kamu tidak bisa seenaknya saja seperti ini, Ruth."
"Tolong lepaskan tangannya, atau saya yang memaksa melepaskan?" Suara dingin dan berat terdengar jelas di indera pendengaran seorang Sendi Sandoyo.
__ADS_1
"Heh..." Sendi tersenyum kecut menatap wajah tampan Dava.
"Dengar! tidak ada yang berhak memerintah saya di sini. Dan sebaiknya anda jangan ikut CAMPUR." Sendi berbicara dengan mengeraskan rahangnya.
Moment tarik menarik terus terjadi kala itu. Sendi menarik pergelangan tangan Ruth, Putri menarik baju sang Mamah, dan Dina yang menarik jas mahal milik sang suami.
Sepersekian detik, Dava yang jengan melihatnya segera menghempaskan tangan Sendi. Matanya menatap begitu marah.
Bugh! Bugh! Bugh!
"Sayang!" Dina berteriak histeris kala beberapa kali bogeman tangan Dava melayang di wajah Sendi.
"Ah...breng-sek" ucap Sendi terputus-putus menahan sakit di sudut matanya yang tampak terluka. Dan sudut bibir yang memar.
"Ayo, Putri masuk dan Ruth, ayo." Dava mengarahkan Putri untuk duduk bersamanya dan Ruth di kursi belakang.
"Pak Landu, jalan." pintah Dava tanpa menatap siapa pun lagi.
Sendi yang tersungkur di dasar parkiran tampak tidak terima dari segi tatapannya saat ini. Netra tajam miliknya bergerak mengikuti pergerakan mobil mewah yang keluar dari area kantor miliknya.
Dina yang memeriksa beberapa luka sang suami terdorong kala Sendi tak lagi mampu menahan kekesalannya.
"Ah..." teriaknya. "Sayang, apa yang kamu lakukan denganku?"
"Dengar, Dina! Jangan lagi datang ke kantor sekalipun Ayah yang menyuruhmu. Mengerti?" Sendi melangkah meninggalkan sang istri yang masih tersandar di salah satu mobil yang terparkir di sana.
Sementara di sisi lain. Pak Landu yang tengah memutar musik romantis di dalam mobil beberapa kali melirik ke arah spion depan yang memperlihatkan keadaan di belakangnya.
Ruth menoleh ke arah jendela sebelah kiri, dan Dava menoleh ke arah jendela sebelah kanan.
Satu kode dengan gerakan mata yang entah berotasi berapa puluh derajat antara Pak Landu dan juga bocah kecil di tengah-tengah dua sosok dingin tersebut akhirnya berhasil menjadi satu misi.
Tawa yang hanya menggerakkan tubuh mungil Putri dan juga Pak Landu tanpa suara itu sangat menggemaskan bagi siapa saja yang melihatnya.
__ADS_1
Sepersekian detik, decitan mobil terdengar begitu mengejutkan secara tidak sengaja teriakan refleks dari arah kursi belakang terdengar.
"Ya Allah..."
"Ya Tuhan," Suara Dava dan Ruth tampak serentak menggema di dalam mobil kala kedua tubuh mereka sudah menyatu.
Dua pasang manik mata yang saling beradu pandang tak berkedip sekali pun saja. Tanpa mereka sadari, di kursi depan dua tubuh yang terus cekikikan menyaksikan rencana mereka berhasil.
"Kau,"
"Ehem" Dava berdehem demi menetralkan perasaan tegang di hati dan pikirannya setelah melihat wajah ayu Ruth dari jarak yang sangat dekat. "Maaf." ucapnya canggung.
"Pak Landu hati-hati jika membawa mobil." pintah Dava beralih ke sosok di depan sana.
"Hem...baik, Tuan." Pak Landu dan Putri terhenti dari sorakan gembiranya.
Kini mobil kembali berjalan setelah meyakinkan keadaan sekitar aman. Bukan keadaan sekitar sebenarnya, lebih tepatnya di dalam mobil yang memang membutuhkan keadaan yang tidak baik.
Mobil melaju dengan keadaan hening. Tak ada percakapan lagi setelahnya, namun siapa sadar jika di balik keheningan ada suara detak jantung yang saling beradu dalam keheningan kedua bibir tersebut. Sosok Dava kini hanya mampu menyunggingkan senyuman secara sembunyi-sembunyi.
"Baru saja mengenalnya...entah mengapa cintaku sebegitu cepatnya berlabuh pada wanita ini. Hah...kau sakit jiwa Dava. Dia wanita bodoh yang pernah kau temui selama ini." Dava terus saja beradu dengan pikiran dan hatinya.
"Benar, dia hanya wanita bodoh. Pria seperti itu saja bisa membuatnya begitu ceroboh. Bagaimana mungkin dalam hal lain dia tidak menjadi bodoh? Yah, sepertinya aku harus bertindak tegas dalam hal ini. Ini pasti hanya godaan setan. Godaan wanita bodoh dan lemah tidak pantas kau terima."
"Tapi...dia sangat..."
"Tuan, mari. Kita sudah sampai." Pak Landu sudah menampilkan jajaran gigi putihnya di depan sang majikan. Pintu mobil pun telah terbuka lebar. Di depan, Ruth tengah bergandengan tangan dengan Putri memasuki pintu kedatangan salah satu mall terbesar di Kota itu.
Dava yang menyadari langkah dua wanita telah menjauh darinya, dengan segera berlari keluar mobil.
Matanya terus tertuju pada dua wanita cantik berbeda generasi di depan sana. "Mah, Putli main itu yah, mah?" tanya bocah tersebut dengan ragu menunjuk salah satu permainan capit boneka yang sangat menggiurkan siapapun yang melihat.
"Putri, tidak usah sayang. permainan itu hanya membuang-buang waktu saja. Bagaimana kalau kita pergi ke taman belajar yang di sana tuh. Rame kan?" ajak Ruth yang menggenggam tangan sang anak.
Lagi dan lagi, Ruth membawanya ke dalam dunia yang selalu berhadapan dengan pembelajaran. Dan Putri hanya bisa menunduk kecewa. Perasaan lega yang ia dapatkan saat di ajak ke mall adalah untuk bermain. Bukan untuk belajar dan belajar lagi.
"Putri, kemari!" panggil Dava langsung menggendong Putri tanpa bertanya pada Ruth. Pria itu membawa Putri menuju arena permainan yang sangat ramai dengan anak-anak seusia Putri.
__ADS_1
"Putri bukan hanya untuk menjadi robotmu saja!" ucap tegas Dava setelah melewati Ruth dengan mata dinginnya.