
Pagi itu jam sudah menunjukkan hampir setengah sembilan. Setelah macetnya perjalanan, Dava kini telah sampai di halaman rumah sang bunda. Ia melihat kedua orangtuanya yang masih terasa asing itu tampak tersenyum bahahagia.
"Meskipun mereka sangat asing bagiku...tapi aku akan menyayangi mereka sebagaimana mestinya. Mereka adalah dua orang yang sangat berharga bagiku. Mencintaiku tanpa tujuan." batin Dava melihat wajah sang bunda dan ayah bergantian.
Sementara Sendi tampak lebih acuh darinya.
Hanya senyuman kaku yang ia tunjukkan pada sang bunda.
Sendi menempatkan kedua tangannya pada saku celananya. Ia tampak gelisah dengan pijakan kakinya di tanah halaman rumah.
"Berson, apa kau ingin bunda buatkan air hangat dan roti?" tanya Tarisya dengan lemah lembut.
"Em, tidak." sahutnya cepat.
Dava menoleh padanya begitu juga dengan tatapan kedua orangtuanya yang terlihat menghilangkan senyuman di wajah mereka seketika itu juga.
Segera setelah itu Sendi meralat ucapannya dengan penjelasannya yang lebih sopan. "Bunda, sudah tidak usah maksudku. Ini sudah sangat siang untuk kami ke kantor. Kami harus segera berangkat kerja." ucapnya dengan senyuman tipis di wajah manis itu.
Tentu saja mendengar ucapan sang anak, Tarisya langsung mengerutkan keningnya sedih. Ia beralih menatap wajah Dava kali ini. Seakan meminta waktu untuk keduanya lebih lama bersama mereka di rumah itu.
__ADS_1
Dava melihatnya. "Maaf, Bunda. Kami bukannya tidak mau berlama-lama di sini. Tetapi perusahaan kita masih sangat awal untuk di bawa bersantai-santai. Bahkan tenaga kerja di perusahaan pun belum begitu banyak untuk membantu kita."
Tarisya tertunduk. Inilah yang paling tidak ia sukai. Harta tentu saja akan merenggut segala kehangatan dalam keluarga. Bahkan jauh sebelum mereka di temukan, ia sangat lebih setuju jika keluarganya melepas semua harta itu pada yang menginginkannya.
Keluarganya, waktunya, momen bahagianya semua sudah di renggut oleh harta yang mereka miliki sendiri. Bahkan ia kini harus mendapati sang suami yang tak bisa bergerak sendiri. Dan tumbuh kembang ketiga anaknya, ia tidak bisa menikmati masa-masa itu.
Jika ia boleh iri, mungkin ia sangat iri dengan Mbok Nan. Wanita tua yang sama sekali tidak memiliki keluarga justru hidup beriringan dengan anaknya sampai sedewasa ini. Tarisya sangat iri dengan nasib baik yang di dapatkan Mbok Nan, meski dalam hidupnya ia sama sekali tidak bisa menikmati yang namanya kemewahan.
"Bukankah jika perusahaan akan membaik dan berkembang pesat, justru kalian akan sama sekali tidak punya waktu bersama kami, Jeff?" tanyanya lirih dan menatap dua wajah anaknya bergantian.
Mata sendunya tampak menggenang air mata di sana. Usia yang sudah tidak lagi muda, ia sangat ingin melampiaskan segala kerinduan itu pada anak-anaknya.
"Baiklah, nanti malam setelah kami selesai kerja kami akan menginap di sini, Bunda. Kalian istirahatlah dengan baik. Malam ini kita akan bersama." Dava mengucapkan keputusan itu tanpa persetujuan dari Sendi.
Sontak saja mata Sendi memelotot ke arahnya dengan wajah terkejutnya. Bermalam? apakah benar Dava akan tidur di rumah itu bersamanya? Lalu bagaimana dengan istri mereka masing-masing? Kebohongan apa lagi yang akan Dava ucapkan setelah ini?
Sendi pun hanya bisa menghela napas kasar.
Sedangkan Tarisya dan sang suami langsung tersenyum cerah.
__ADS_1
"Baiklah, Nak. Segeralah kalian pergi agar segera selesai pekerjaan di kantor." tuturnya dengan senang hati melepas kepergian sang anak.
"Kami pergi dulu, Bunda." Dava mencium kening dan memeluk sang Bunda, Mau tak mau Sendi pun juga harus mengikuti hal yang sama meski ia merasa itu bukanlah hal nyaman baginya.
Takdir sudah menunjukkan jika merekalah orangtua yang sesungguhnya untuk kalian.
***
"Hey Dav, apa yang ada di pikiranmu? Kau ingin kita benar-benar menginap di sana?" tanya Sendi sedikit meninggikan suaranya.
"Mereka patut bahagia, Sen. Mereka orangtua kita." begitulah jawaban Dava yang tidak memberikan jawaban iya atau tidak pada sang adik.
Sendi mengacak kasar rambutnya yang semula tampak rapi itu. "Astaga...aku tidak bisa semudah itu tidur bersama mereka. Aku belum terbiasa-"
Dava seketika memotong ucapan sang adik. "Jika bukan di mulai dari sekarang, lalu apa kau mau membiarkan waktu terus berjalan mengambil sisa umur mereka?"
Deg!
Ucapan Dava yang bertujuan pada Sendi sontak membuatnya juga seolah mereasa tersadar dengan ucapan itu. Mau sampai kapan ia menutupi ini semua dari orangtuanya? umur mereka akan semakin tua, bahkan tidak ada yang tahu kapan sang kuasa memanggil mereka?
__ADS_1