Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 35. Hadirnya Sang Suami


__ADS_3

"Pergi kau dari sini!!!!"


Semua yang ada di halaman rumah begitu tersentak mendengar suara teriakan yang sangat memekakkan telinga.


Habis sudah kesabarannya kali ini melihat kelakuan Sendi yang tak kenal lelah terus mengejar istrinya. Kekhawatiran di diri Sendi tak mampu membuatnya menurut apa perintah pria di hadapannya saat ini.


"Ruth, bangun Ruth." Sendi kembali ingin menyentuh tubuh Ruth yang tak sadarkan diri kala itu.


Namun pergerakannya seketika langsung terhenti, Dava mendorongnya dengan kasar.


"Usir dia." pintahnya pada beberapa anak buahnya yang berdiri sedari tadi.


Hanzel dan kawan-kawan segera menyeret tubuh Sendi yang memberontak untuk memasuki mobilnya. Sedangkan Dava kini sudah berjalan menggendong sang istri masuk ke dalam rumah.


Mbok Nan dan Putri pun melangkah di belakangnya membuntuti bak anak ayam.


"Mbok, tolong kunci pintu rumah." ucapnya tanpa menatap lawan bicara.


Langkah kakinya bergerak menuju kamar dan setelah sampai, perlahan ia meletakkan tubuh lemah itu ke atas kasur yang empuk.


"Ruth, wajahmu sangat pucat." lirihnya menatap paras ayu di depannya.


Tanpa sadar, tangan kekar itu bergerak mengusap pelu yang terlihat di kening mulus sang istri.


Tok Tok Tok


"Tuan, ini air hangat untuk Non Ruth." ucap Mbok Nan yang baru saja masuk ke dalam kamar bersama dengan Putri yang terus mengekor sejak tadi.


Ia bahkan tak berani untuk mendekat pada Dava. Suara teriakan yang benar-benar keras membuatnya sadar akan situasi yang sedang tidak baik.


Dava sadar akan ekspresi bocah mungil yang kini bergerak mengikuti Mbok Nan yang meletakkan air hangat di nakas samping tempat tidur.


"Putri," panggil Dava pelan dan lembut seperti biasanya.


Putri menoleh namun kembali bergerak menengadah lalu menatap Mbok Nan. Mbok Nan menganggukkan kepalanya pelan.


"Iya, Paman." jawabnya sederhana.

__ADS_1


"Kemari," panggil Dava seraya merentangkan kedua tangannya.


Ia sungguh sangat rindu meski baru dua malam rasanya dirinya tidak bertemu. Dengan langkah ragu, Putri melangkah mempersempit jarak antar mereka.


Dan satu pelukan hangat yang saling menghangatkan dua tubuh itu akhirnya tersalurkan juga. "Paman rindu sekali denganmu..." Dava mencium pipi gembul Putri namun keningnya seketika berkerut.


Tangannya ia balik dan menempelkan punggung tangan itu pada dahi sang bocah. "Putri, badanmu panas. Mbok, ada apa ini? mengapa Putri dan Ruth sama-sama demam?" Dava tampak cemas melihatnya.


Mbok Nan menggaruk tengkuknya. "Tuan, Non Ruth kan belum sembuh tapi memaksa keluar rumah sakit. Kalau Putri...itu Tuan, semenjak Tuan Dava di sel badannya demam terus." terang Mbok Nan terpaksa jujur karena saat ini Ruth pun tidak bisa membantunya untuk menutupi keadaan Putri.


"Jadi Ruth berbohong, Mbok? Dia bilang Putri baik-baik saja di rumah." Dava benar-benar kesal. Dirinyalah penyebab ini semua terjadi, pikirnya.


Kalau saja ia tidak mengikuti permainan sang ayah dan rencana Tuan Deni yang akan membebaskan dirinya, semua tidak akan seburuk ini tentunya.


"Baru dua malam ku tinggal...semua jadi kacau." Dava menajamkan pandangannya ke arah pintu kamar.


Pelukannya pada Putri langsung terlepas begitu saja. Bahkan ia melangkah keluar kamar tanpa mengatakan apa pun.


Di  luar rumah. Plak! Plak! Plak!


"Apa yang kalian kerjakan? Hah?" Suara riuh terdengar kembali hingga masuk ke dalam rumah.


"Mbok, Paman malah sama Putli kah?" tanyanya dengan suara takut.


Mbok Nan mengusap poni lembut yang tertata indah di kening sang bocah. "Enggak Sayang. Paman itu hanya terlalu sayang sama Putri, jadi tegus om-om di luar tadi biar bisa jagain Putri sama Mamah dengan baik." tuturnya lembut.


Di sini kelima pria itu berusaha menjelaskan meski Dava terus melayangkan tangannya bergilir. "Tuan,"


"Diam kau!" hardik Dava sembari tangannya menunjuk wajah Roy.


"Tuan, ini diluar kuasa kami. Nona Ruth hanya ingin menyelesaikan masalahnya dengan kakaknya saja. Bukan lainnya." Sudut bibir yang membiru ia paksakan untuk tetap menjelaskan demi kelangsungan hidup dirinya dan kawan-kawan.


"Apa? Kakaknya?" Ayunan tangan Dava mengambang di udara seketika mendengar penuturan Diko.


"Iya, Tuan. Apa tegar belum melaporkan pada anda? bahwa kami menemukan satu kenyataan tentang keluarga Nona Ruth?" ucap Ronal kali ini yang baru mau angkat bicara setelah wajahnya sudah membiru.


Dava terdiam membisu. Kedua telinganya ia pasang dengan baik kali ini.

__ADS_1


"Lalu apa hubungannya dengan kalian membiarkan si pria brengs*k itu mendekati istriku? Apa kalian mendukungnya untuk mencari kesempatan dekat dengan istriku? lalu menjadi pahlawan bagi istriku? karena sudah membantunya menemukan kakaknya? jawab!"


Amarah Dava semakin memuncak kala menyadari dirinya yang terlalu lengah saat itu. Hingga kehadiran Sendi tepat pada waktu dan kondisi.


Semua tertunduk mendengar kemarahan Dava kali ini. Dalam hati mereka mulai sadar akan perhatian yang pelan-pelan Dava berikan untuk sang istri tanpa sadar.


"Tuan...saya rasa anda tidak perlu secemburu itu, karena..."


"Hei, apa katamu? cemburu? Aku sudah berjanji akan melindungi Ruth. Jangan mengatakan hal lain kalian." kilah Dava dengan wajah yang tampak kebingungan ingin berbicara apa lagi.


"Maaf Tuan. Tapi, Sendi Sandoyo adalah kakak Non Ruth, Tuan. Makanya kami-"


"Apa? kakaknya Ruth?" Mata Dava bahkan membulat mendengarnya.


Mimpi buruk apa ini? tidak mungkin takdir menggariskan ini sungguhan kan? Apakah pertikaiannya dengan Sendi harus berakhir menjadi perdamaian dan permohonan restu sebagai adik ipar?


"Cih...bercanda apa ini? Kalian sudah ku gaji besar-besar untuk menjalankan perintahku. Kalian justru berbohong. Apa kalian mau ku potong semua gaji kalian? Hah!"


"Tuan! Tuan, Dava!" Teriakan dari dalam rumah membuat Dava berhenti beradu mulut di depan halaman itu.


Ia menyipitkan matanya usai menoleh ke arah pintu utama. Di sana Mbok Nan tengah berlari ke arahnya dengan langkah beratnya.


"Non Ruth panasnya semakin tinggi Tuan." ucapnya dengan wajah khawatir.


Tanpa banyak bertanya, Dava pun berlari memasuki rumah dan menuju kamar sang istri.


Bagaimana ia bisa lupa, jika istrinya bahkan sedang sakit? Dirinya malah sibuk mengurusi kecemburuan yang belum tampak ujung masalahnya.


"Ruth bertahanlah. Ku mohon jangan membuatku khawatir seperti ini." ucapnya dalam hati sembari melajukan mobil yang baru saja meninggalkan halaman rumah dengan sang istri dan membawa Putri bersama Mbok Nan juga.


Sesekali pandangan matanya tertuju pada spion di depannya. "Mbok, pastikan Putri dan Ruth baik-baik saja. Saya akan mempercepat laju mobil ini sekarang."


"I-iya, Tuan." jawab Mbok Nan sedikit merinding ketakutan karena mobil yang mereka tumpangi saat ini benar-benar laju sekali.


Di kursi belakang, Mbok Nan menatap punggung pria yang mengemudikan mobil kala itu. Dan perlahan matanya tertuju pada wanita yang ia pangku kepalanya saat ini.


Tangan keriput itu bergerak mengusap anak rambut yang berjajar rapi di kening milik Ruth. "Non, Tuan Dava benar-benar mencintai, Non. Dia suami yang tepat untuk Non Ruth. Mbok bahagia, Non. Non bisa menemukan pria baik dan tepat untuk Putri juga. Semoga kelak...saat Mbok sudah tiada, Non Ruth tetap bahagia bahkan jauh lebih bahagia dari yang Mbok harapkan bersama Putri dan Tuan Dava, yah Non." tuturnya dalam hati seraya tersenyum penuh ketulusan.

__ADS_1


Anak gadis yang sudah lama tumbuh bersamanya sungguh membuatnya tak bisa lepas tangan begitu saja. Sekalipun Tuhan datang menjemputnya, mungkin hal yang pertama kali ia pintahkan hanya memohon untuk sedikit lebih sabarr memanggilnya pada sang kuasa. Karena ia masih ingin memastikan kebahagiaan anak gadis yang sudah seperti anak kandungnya sendiri itu.


__ADS_2