Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 185. Jagoan Tampan Sang Ibu


__ADS_3

Di sini, ruangan yang bernuansa dominan putih itu terdengar sangat hening. Bahkan langkah kaki di luar ruangan pun tak dapat di tangkap oleh telinga penghuni kamar rawat 215.


Pandangan yang semula tertutup oleh kelopak mata, kini perlahan bergerak hingga tampaklah samar-samar dua wajah wanita dan pria yang menatapnya dengan senyuman yang begitu lebar.


Ada rasa sesak di dada yang hilang ketika melihat dua pasang mata cokelat itu terbuka. Kekhawatiran yang membuat mereka sangat gelisah kini berakhir sudah.


"Sayang," sapa wanita tua yang langsung menggenggam tangan dingin bertempelkan jarum infus.


"Bunda," sahut Ruth dengan lirih. Kepalanya terasa begitu pusing dan matanya masih tidak begitu jelas melihat.


Pertama kali yang ia pastikan adalah calon bayinya. Di elusnya perut yang masih terasa membuncit itu. Syukurlah janin yang ia bawa selama ini masih aman di dalam perutnya, pikir Ruth..


"Sudah kau baik-baik saja, Sayang. Jangan khawatir. Calon cucu Bunda sangat kuat kok." hibur Tarisya yang mengerti akan rasa takut sang anak ketika menyadari dirinya berada di rumah sakit.


"Besok adalah jadwalmu kontrol kandungan, Ruth. Tetapi Dokter sudah memeriksanya hari ini karena keadaanmu sangat mengkhawatirkan." Sendi yang sedari tadi diam tanpa mendekat pada sang adik segera bersuara.

__ADS_1


Selama ini, ialah yang menemani Ruth mengontrol ke dokter bersama dengan Dina hingga usia kandungan Ruth menginjak delapan bulan lebih. Dava yang tak pernah bisa ikut karena permintaan dari Ruth terpaksa hanya bisa mendengarkan penjelasan ulang dari sang dokter saat mereka sudah pulang.


Begitulah perjuangan kisah Dava selama ini yang tak pernah terlihat. Hatinya begitu sakit mengetahui penolakan dirinya dari sang istri. Ingin sekali ia bisa melihat perkembangan anaknya bersama-sama dengan sang istri, namun apa daya dirinya sudah tak bisa meminta lebih mengingat kondisi sang istri bisa drop jika mendapatkan tekanan lebih.


Mendengar ucapan sang kakak, wajah Ruth kembali sedih. Ia mengingat perlakuannya pada sang mantan suami selama ini. "Maafkan aku, Dav. Aku benar-benar egois padamu. Maafkan aku..." batinya begitu menyesali perbuatannya yang terlalu berlebihan.


"Aku menjauhimu karena aku tidak sanggup jika sering berhadapan denganmu. Tubuh ini selalu meminta dekat denganmu. Bahkan aku sendiri pun sangat sulit untuk mengontrolnya." jelas sekali bawaan bayi di dalam perutnya selama ini sangat menginginkan belaian sang ayah.


Namun sayang, hubungan kedua orangtuanya tak sebaik orangtua pada umumnya.


"Bagaimana kata Dokter, Kak?" tanyanya dengan kembali menatap wajah Sendi yang juga menatapnya sedari tadi.


"Sebaiknya aku tidak membahas ini dulu. Biarkan semuanya berjalan sesuai yang di inginkan Shandy." batin Tarisya dengan ragu.


"Semuanya baik. Keponakanku di dalam sangat hebat. Dokter bahkan bilang anakmu sangat kuat. Bulan depan kita akan kontrol kembali dan ada banyak makanan yang tidak boleh kau konsumsi terlalu berlebih." tambah Sendi lagi dengan wajah yang tersenyum ingin menghibur sang adik.

__ADS_1


Ruth mengernyit mendengarnya. "Makanan apa itu?" tanyanya kemudian.


"Makanan mu harus di kurangi porsinya...dan minuman manis atau pun es tidak boleh lagi. Kau tahu bayimu sudah sangat gendut di dalam. Lihat bahkan wajah ibunya saja sangat kurus hanya perut saja yang buncit. Ruth, dengar kau sudah seperti orang cacingan." Tarisya yang mendengar ejekan sang anak segera menyiku lengannya dan memelototinya.


Bisa-bisanya Sendi berbicara seperti itu di saat kondisi Ruth sedang down begini.


Tetapi lihatlah, justru Ruth terkekeh mendengar ocehan sang kakak. "Hehehe...benarkah? Kalau begitu biarkan aku makan lebih banyak lagi, Kak. Aku sangat suka dengan bayi yang gendut." serunya sembari tertawa ceria.


Bayangan di mata cokelatnya adalah bayi yang sangat montok bagian bokong, perut, dan kedua pipinya. Hatinya begitu sangat bahagia mengetahui anaknya sudah tumbuh begitu besar.


"Hei jagoanmu itu akan sulit keluar jika terlalu besar. Ini fotonya, lihat anakmu adalah pria tampan kelak, Ruth." Sendi menunjukkan hasil usg yang menampilkan hidung tinggi sang bayi.


Selama ini bayi itu bahkan sangat sulit untuk menunjukkan jati dirinya. Dan kali ini saat sang ibu tak sadarkan diri, ia justru menampakkan wajah tampannya pada sang paman.


Ruth yang mendengarnya pun ikut bersedih. Ia meneteskan air mata sedih dan bahagia yang bercampur menjadi satu.

__ADS_1


"Anak kita laki-laki, Dav. Dia sangat tampan sama sepertimu. Begitu besar cinta ini padamu, tetapi mengapa ujian tak pernah habis memisahkan kita? Aku benar-benar lelah menghadapi ini semua, Dav. Aku ingin mendapatkan kekuatan darimu. Tapi bagaimana bisa itu terjadi? Bahkan saat ini pun kau jauh lebih terpuruk dariku...maafkan cinta ini, Dav. Tak seharusnya kau ikut menderita karena cintaku."  Ruth terus memandangi lembar kertas di tangannya.


Bahkan Sendi dan Tarisya pun saling memandang melihat tangan Ruth yang bergemetar memegangi kertas itu hingga tanpa bisa ia tahan air mata pun jatuh begitu saja.


__ADS_2