Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 171. Dava Tak Sadarkan Diri


__ADS_3

Dua mobil yang berbeda tampak menelusuri sepanjang jalan malam itu. Kekhawatiran jelas terlihat di wajah mereka. Namun kekhawatiran itu sangat berbeda, Sendi yang mengkhawatirkan keadaan Ruth, sedangkan wanita yang ia khawatirkan begitu sangat khawatir pada sosok pria yang entah berada di mana saat ini.


"Kak, tenanglah." suara pelan dan penuh keraguan akhirnya keluar juga dari mulut sang adik ipar setelah sekian lama mereka berada di dalam taksi.


"Seharusnya Bunda tidak membuatmu ikut sibuk malam ini. Maafkan aku." ucap Ruth yang merasa tidak enak hati pada wanita yang tentu masih memiliki rasa tidak enak padanya.


Dina merasa tidak enak mendengar penuturan sang kakak ipar. Ia pun menggeleng dan tersenyum. "Aku senang bisa menemani kakak pergi malam ini. Setidaknya aku masih berguna dan bisa membantu keluarga Kakak."


Tangan mungilnya menggenggam lembut tangan Ruth yang begitu terasa dingin. Perlahan meski ragu, Dina memberanikan diri untuk mendekat dan memeluk lengan sang kakak ipar. Ia sangat ingin memiliki saudara perempuan yang bisa menjadi teman sekaligus kakak untuknya.


"Maafkan aku, Kak. Aku pernah melukai Kakak. Begitu pun dengan ayahku..." tulusnya ucapan Dina membuat sikap acuh Ruth mulai merenggang. Ia bisa merasakan sikap yang bukanlah di buat-buat saat ini padanya.


"Sudahlah. Aku tidak ingin mengingat semuanya. Sekarang biarkan aku fokus mencari suamiku...em maksudku, Dava." ralatnya setelah keceplosan mengucapkan panggilan yang tentu salah itu.

__ADS_1


Dina seketika tersenyum. Ia mengerti betapa besar cinta itu hingga kini. Tidak akan mungkin bisa lepas begitu cepatnya. Sama halnya dengan perasaannya saat ini pada sang suami.


"Aku mengerti, Kak. Aku juga merasakan cinta yang begitu besar pada Sendi, tentu kita sesama perempuan yang sama-sama mencintai pria yang tak lain adalah suami kita sendiri. Tidaklah mudah untuk melupakan itu semua."


Keduanya pun saling mengusap lengan lawan bicara lalu mereka kembali meregangkan tubuhnya masing-masing.


"Stop! Stop, Pak." Ruth begitu kaget kala melihat seseorang yang seperti tidak asing tampak tersungkur di pinggir jalan besar itu.


"Astaga. Ya Allah, itukan Kak Dava." Dina langsung menyebut nama pria yang begitu melukai perasaan cinta Ruth setiap kali mendengarnya.


Air mata tak mampu terbendung lagi kala melihat sosok pria yang sangat di cintainya mengalami luka lebam di wajahnya. Dengan kedua mata yang sudah tertutup.


Menggelengkan kepala seolah merasa itu adalah mimpi melihat hal yang tidak pernah sama sekali terlintas di kepalanya.

__ADS_1


"Dav, apa yang kau lakukan? Apa yang kau perbuat di luar?" tangisnya histeris sembari memeluk wajah pria yang menjadi bayang-bayangnya.


"Dava..." panggilnya mengeratkan lagi pelukan itu. Beberapa kali ia mengecup kening yang berkeringat dingin.


Terasa jelas jika dari suhu tubuhnya yang dingin, Dava baru saja keluar dari ruangan.


Kening Ruth mengernyit saat menyadari aroma yang tidak sedap tertangkap oleh indera penciumannya.


"Bau apa ini?" tanyanya dengan suara lirih.


"Bau apa, Kak Ruth?" tanya Dina langsung segera mendekat.


"Hah? Kak Dava mabuk, Kak." jawabnya dengan yakin.

__ADS_1


Tentu saja ia sangat familiar dengan bau-bau alkohol seperti itu, karena memang dunianya sebelum mengenal Sendi hanya dunia hiburan dengan gaya hidup yang berfoya-foya. Berbeda dari sekarang, ia hanya fokus untuk mencari uang demi menyambung hidupnya bersama sang ibu.


__ADS_2