Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 215. Permintaan Maaf Putri


__ADS_3

Pelan dan lembut wanita berambut sebahu itu mulai mengusap lembut rambut bocah yang ada bersamanya saat ini. Kedua wanita itu tengah berbincang-bincang di dalam kamar.


"Putri boleh kok marah. Mamah sangat mengerti, dan terimakasih yah sayang. Sudah begitu perduli dengan Mamah." Ruth tersenyum dengan sangat lebar.


"Tapi, Mamah. Putri itu sayang dengan Ayah. Tapi sayang Putri lebi besar ke Mamah. Bagaimana pun juga, Mamah adalah orang yang selalu ada untuk Putri. Putri sangat marah dengan Ayah kali ini loh. Putri enggak main-main, Mamah." celetuknya kala melihat senyuman di wajah sang mamah seakan meragukan kemarahannya saat ini.


Ruth terkekeh lagi dan menganggukkan kepalanya cepat.


"Iya sayang. Iya, Mamah tahu Putri sedang marah beneran sama Ayah. Tapi...jika kepergian Ayah itu untuk syarat harus kembali bersama kita, bagaimana?" ucapan sekaligus pertanyaan yang membuat Putri tercengang penuh keterkejutan.


"Memang bisa, Mah?" ia mendekat pada Ruth dan menatap wajah sang mamah dengan penuh tanya.


Lagi-lagi ia melihat kepala di depannya itu mengangguk cepat. "Iya, Sayang. Kamu senangkan?" Ruth menggerai rambut Putri hingga turun ke bawah.


Wajah menekuk di sana seketika berubah menjadi tersenyum bahagia. "Kalau begitu Putri enggak jadi marah, Mamah." ia segera menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan sang mamah.


Sementara di ruang tengah terjadi kehebohan kala Tarisya, yang kedatangan Sarah dan juga Wuri di sana saling berebut ingin menggendong baby Rava.


"Nyonya, coba saya gendong sebentar." sahut Wuri yang menyambut tubuh kecil Rava dari gendongan sang nenek.


"Ah ya Allah...tampannya. Dav, ini mirip sekali dengan wajahmu dan juga Ruth. Perpaduan yang sempurna." ungkap Sarah dengan memperhatikan wajah bayi yang di gendong Wuri itu lalu berganti menatap wajah Dava yang juga tak jauh darinya.


"Terimakasih, Tante." sahut Dava sopan.


"Coba, aku ingin menggendongnya juga." sahut Sarah lagi yang tidak bisa diam jika hanya melihat sang sahabat menggendong bayi merah itu.


Sarah, Tarisya, dan juga Wuri terus bergantian menggendong Rava tak perduli dengan rengekan sang bayi yang mulai merasakan tubuhnya pegal karena terus di sambut dengan banyaknya tangan para nenek.

__ADS_1


Oek! Oek! Oek!


"Astaga..." Dava yang melihatnya tersadar seketika kala melihat tangan tiga wanita tua di sana sudah saling menyambut tubuh Rava.


Ramainya rumah pada hari itu membuat perasaan Tuan Wilson ikut bahagia. Ia tersenyum kala mendengar tangisan sang cucu di rumah miliknya kini. Sudah sangat lama ia menantikan kehadiran cucu dari anak-anaknya. Meski bisa di katakan Rava bukanlah cucu kandung untuknya. Tetapi ini semua tak lagi menjadi masalah.


Saat ia memutuskan untuk mengambil Ruth maupun Dava, sejak saat itu juga ia akan menganggap mereka semua berasal dari darah dagingnya dan juga rahim sang istri.


"Biarkan dia, Jeff." ucap Tuan Wilson mencegah Dava yang ingin mengambil sang anak dari gendongan para nenek rempong di sana.


"Tapi, Ayah..." Dava menghentikan ucapannya kala melihat senyuman bahagia di wajah keriput pria tua itu.


"Kemari, Rava pasti ingin aku gendong." Tarisya mengambil alih sang cucu.


"Astaga...Tarisya, lihat tanganmu sangat kaku. Kemari biarkan aku yang menggendongnya. Pasti Rava akan diam." Sarah mengambil dengan hati-hati tubuh bayi itu.


Ketiga wanita itu seakan sangat akrab karena kehadiran Rava di tengah-tengah mereka. Panggilan yang biasa terdengar dengan sebutan Nyonya, kini sudah hilang entah kemana.


Ia sangat tergesa-gesa melangkah saat mendengar suara tangisan sang anak.


"Ruth, Rava pasti haus. Dari tadi menangis. Untuk kau cepat datang." Dina sudah sangat lega melihat kehadiran sang adik ipar.


Pasalnya ia pun tidak berani melerai ketiga wanita yang sedang berebut menggendong baby Rava di sana.


Tanpa pikir panjang, Ruth langsung menggendong sang anak dengan penuturan yang lemah lembut tentunya. "Bunda, tunggu sebentar yah. Biar Rava minum asi dulu." ia tersenyum dan ketiga wanita itu terdiam setuju.


Kini terdengarlah suara bocah yang begitu memekakkan telinga.

__ADS_1


"Ayah!!!" Putri berlari dan menghambur ke dalam pelukan sosok Dava yang tengah duduk bersama Tuan Wilson di sofa.


"Putri," tutur Dava dengan sangat senang.


Akhirnya ia bisa melihat kelincahan sang anak lagi setelah sekian lama.


"Maafin Putri, Ayah. Putri tadi sudah marah-marah sama Ayah. Putri minta maaf Ayah..." Dava terkekeh melihat ekspresi yang sungguh menyedihkan di wajah bocah ingusan itu.


Bahkan Tuan Wilson yang tadinya hanya tersenyum sampai menggetarkan tubuhnya menahan tawa. Ia geli melihat ekspresi Putri yang seperti orang dewasa saat mengungkapkan perasaan bersalahnya.


Tangan kekar Dava segera menangkup wajah Putri dan mengatakan, "Hei...apa yang kau tunjukkan pada Ayah, Sayang? Ayah tidak suka wajah seperti ini. Ayah mau wajah yang menggemaskan. Ayo cepat berikan." tuturnya sembari menarik kedua pipi gembul sang anak.


Namun Putri tak melakukan sesuai dengan permintaan sang ayah. Ia bahkan melontarkan satu pertanyaan lagi. "Ayah?"


"Hem?" sahut Dava.


"Apa benar kata Mamah? Ayah akan kembali seperti dulu bersama kita. Putri, Mamah, dan juga dedek bayi? Kita tidur bareng lagi? Dan Ayah akan peluk Putri sama-sama dengan Mamah Ruth?" celetuknya panjang lebar.


Rasa antusias Putri sungguh tak bisa ia tahan lagi. Selama ini ia hanya berdoa meski hal itu terasa sangat mustahil baginya. Tapi, kini Tuhan berkehendak lain. Angan-angannya kembali di hadirkan oleh sang kuasa. Betapa bahagianya rasanya sang bocah tersebut.


Pertanyaan panjang lebar itu langsung di jawab oleh Dava. "Iya, Sayang. Kita akan bersama segera." tuturnya tersenyum dan semua yang ada di rumah itu tentu ikut tersenyum bahagia mendengarnya.


Kecuali sosok pria yang bernama Sendi. Ia hanya bisa menampakkan wajah datarnya saat ini. Masalahnya dengan sang istri belum usai, kini ia sudah mendengar kabar Dava dan Ruth akan kembali bersatu.


"Seperti inikah jalan yang kau berikan untuk kami, Tuhan? Apa dengan ini semua doa-doaku untuk bersama Sendi akan terjawab perlahan? Jika memang benar, aku berterimakasih padamu...Aku percaya kau begitu baik dan sangat murah hati padaku. Dan aku tahu semua kesabaranku selama ini akan kau berikan hal yang indah. Mungkin selama ini aku hanya kurang bersabar menghadapi semua cobaan yang kau berikan..." batin Dina mengeluarkan segala unek-uneknya di dalam hati.


Di dalam sorot matanya, ia bisa memastikan betapa sakitnya tatapan mata Sendi saat tertuju pada wanita yang tengah menggendong bayi yang baru saja ia lahirkan itu.

__ADS_1


Sementara dari senyuman Ruth, ia hanya bisa berucap sangat bahagia di dalam hati.


"Ya Allah...aku tidak tahu dengan semua jalan yang kau rancang untukku dan juga keluargaku. Aku sudah berusaha kuat menghadapi ini semua, bahkan saat jalan buntu yang kurasa saat itu telah mampu ku kembalikan lagi. Namun, aku tak kuasa setelah sekian banyak sakit yang ku terima, aku harus menjauh lagi darinya. Aku sudah berada di jalanmu yang ku yakini akan membawa ku ke surgamu. Maka, bawalah keluargaku semua ke jalan lurusmu, termasuk dia. Dava Sandronata. Mantan suami yang akan menjadi suamiku di agama mu saat ini. Biarkanlah kami menata semuanya dengan baik dan benar. Permudahkanlah jalan kami semua, Ya Rabb. Ku percaya padamu, inilah jalan yang benar untuk kami semua."


__ADS_2