Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 294. Bermasalah


__ADS_3

Waktu berjalan dengan sangat cepat, kini perjalanan pernikahan Ruth dan Dava sudah beranjak tiga tahun. Dimana anak-anak mereka tumbuh dengan sangat baik.


Si cantik Putri sudah menginjak bangku sekolah dasar kelas satu, dan baby Rava tampan sudah berlari dengan lincahnya.


Wajah, tentu saja mewarisi ketampanan sang ayah dan wajah cantik sang ibu yang menjadikan dirinya memiliki nilai plus di mata para yang melihat anak kecil itu.


Di sekolah, suara riuh tiba-tiba saja terdengar kala waktu menunjukkan pukul 10.00. Tawa dan ramainya tepukan tangan di depan salah satu sekolah mengundang para guru untuk mendekat ke sumber keramaian itu.


"Asataga ada apa yah, Bu di sana? Kok ramai sekali?" Mbok Nan yang kala itu baru dari mobil mengambilkan air minum untuk Putri makan siang mendadak bingung dan menghampiri salah satu guru yang berada di depan kelas lainnya.


"Saya juga kurang tahu, Bu. Ayo kita lihat kesana." ajaknya dan keduanya pun melangkah mendekat.


"Ayah dan ibuku orang baik-baik. Mereka bukan orang jahat." tangisan dan teriakan dari salah satu anak terdengar di sela-sela sorakan para anak lainnya.


Pasalnya satu bocah di sana tengah terduduk menangis dan menutup telinganya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Anak nakal anak nakal anak nakal."


"Memalukan,"


Begitulah suara ejekan yang terdengar hingga membuat Mbok Nan dan para guru lainnya sangat terkejut.


Disana Putri yang tak bisa lagi menahan diri tanpa berkata apa pun langsung melemparkan rantang bekal untuk ia santap siang itu.


"Aduh...sakit!"


"Hanse, apa yang terjadi? Astaga, kepalamu bengkak. Ayo ikut ke UKS. Dan Putri, segera masuk ke ruang Mrs." pintah wanita itu dengan tegas.


Dengan mata yang banjir air mata, Putri hanya bisa terlihat jatuh tanpa henti. "Sini sama Mbok."


Mbok Nan memeluk usai menghapus air mata di pipi gembul itu.

__ADS_1


"Mbok, Putri nggak salah. Mereka ledekin Putri Mbok. Putri nggak mau Ayah dan Mamah di jelekin sama mereka." tuturnya sembari terisak sedih.


Ini tentu pertama kalinya ia mendapatkan masalah dalam hidupnya.


"Apa kata mereka? kenapa Putri sampai semarah itu?" Mbok Nan menatap sedih pada bocah yang mendengarkan hembusan nafas di depannya kini.


"Mbok, Ayah sama Mamah katanya nggak bener nikahnya. Putri nggak terima pokoknya. Ayah sama Mamah orang baik kan Mbok?"


Mbok Nan menghela napas kasar usai mendengar aduan sang bocah. Tak habis pikir dengan pembahasan anak sekecil itu.


"Ibu, tolong untuk besok menghadirkan orangtua Putri. Karena saya juga akan memberikan surat panggilan ini pada orangtua Hanse. Ini tidak baik jika di biarkan terus seperti ini. Kita harus meluruskan sebelum orangtua Hanse keberatan melihat kepala anak mereka."


"Baik, Mrs. Saya akan sampaikan." Mbok Nan menyetujui usai kini jam pelajaran di sekolah berakhir.


Sepanjang perjalanan pulang terlihat jelas wajah Putri yang cemberut karena menahan kesal yang luar biasa. Baginya memukul kepal sang teman tidak cukup untuk memberi pelajaran telah menghina kedua orangtua yang paling ia sayang.

__ADS_1


"Mamah sudah cukup bersedih selama ini. Putri nggak akan biarkan siapa pun buat Mamah sedih lagi. Putri akan jaga Mamah." batinnya dengan mantap.


__ADS_2