Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 107. Kepulangan Yang Di Sambut Dengan Hangat


__ADS_3

Di sini, Sendi yang baru saja tiba di depan sekolah Putri langsung turun dengan cepat.


"Paman, ayo cepat antal Putli ke lumah." pintah si bocah bergigi absurd yang kini sudah bergegas masuk ke dalam rumahnya.


Wajahnya selalu tampak ketus kala melihat wajah Sendi. Pasalnya ia tahu, sikap Sendi yang tidak begitu perduli padanya dulu tak pernah bisa ia lupakan. Berbeda dengan sosok Dava yang menjadi idaman para wanita. Ia juga sudah menduduki kursi nomor satu di hati sang bocah itu.


"Ayo, Mbok." ajak Sendi melihat Mbok Nan yang menatapnya dengan perasaan tidak enak.


"Kasihan Tuan Sendi. Tapi mau bagaimana lagi...Putri keras kepalanya luar biasa." batin Mbok Nan sembari masuk ke dalam mobil.


Kini mereka bertiga menuju pulang ke rumah. Meskipun hanya jam istirahat, Sendi menyempatkan untuk menemui sang adik terlebih dahulu sebelum kembali dengan pekerjaannya di kantor.


"Tuan, padahal biar kami naik taksi saja tidak apa-apa. Anda tidak perlu repot menjemput kami dan mengantar pulang." ucap Mbok Nan saat di perjalanan yang terasa hening.


Mata Sendi yang sedari tadi fokus pada jalanan di depan melirik wanita tua di belakang melalui kaca spion mobilnya. "Tidak apa-apa, Mbok. Saya sekalian ingin memastikan jika Ruth sudah benar-benar sehat." sahutnya dengan datar.


Mendengar perhatian dari pria itu, sontak mata Putri langsung mendelik kesal. Tangan kecilnya bersedekap dengan hempasan sedikit kasar di tubuhnya.


"Putli yakin...Mamah Ruth pasti baik-baik saja kok. Ayah selalu melindungi Mamah dengan cintanya. Iya kan Mbok Nan?" Putri mengedipkan sebelah matanya nakal.


"I-iya Putri. Kamu ini kecil-keci pintar sekali berbicara." tutur Mbok Nan yang merasa tidak enak hati pada Sendi.


Jika sebelumnya ia merasa ada ketidaksukaan pada pria di depannya, kini ia sadar bagaimana pun sikap buruk Sendi semuanya tentu terbentuk dari keluarga yang membesarkannya. Sementara keluarga yang sebenarnya adalah majikannya yang sudah tiada.


"Mamah!"

__ADS_1


"Ayah!" teriakan dengan suara cempreng khas Putri terdengar nyaring di telinga Dava dan Ruth yang masih memejamkan mata.


Hal itu tentu membuat keduanya langsung beranjak bangun dari tidurnya.


"Mamah!"


"Ayah!"


Tok Tok Tok


Ketukan dan seruan dari bocah itu membuat Dava segera bangkit dari kasur dan membukakan pintu kamar mereka.


"Hup!" Di gendongnya tubuh mungil yang masih berseragam sekolah itu.


"Anak Ayah baru pulang sekolah yah?" sapa Dava mencium pipi gembul Putri.


Bocah itu kini sedang berakting kesal, sementara Dava sudah terkekeh melihatnya. Tingkah yang selalu membuatnya terhibur jika berada di dekat Putri tentunya.


"Ayah harus jagain Mamah, Sayang. Kan Mamah harus di jagain terus sekarang." ucap Dava mencubit pipi bocah itu.


Putri tampak menatap dalam wajah sang ayah. "Memangnya Mamah nakal yah, Ayah? Kok halus di jagain telus. Ayah tenang aja Putli akan bantu jagain Mamah. Apalagi kalo nakalnya sama Om itu tuh." tunjuk Putri dengan bibirnya ke arah Sendi berdiri saat ini.


Dava menoleh melihat Sendi lalu berkata, "Masuklah." pintahnya dengan wajah tidak seperti biasanya.


Sikap agresifnya pada Sendi mendadak hilang.

__ADS_1


Sendi menatapnya heran. "Apa aku sedang mimpi? Ada apa dengan Dava?" batin Sendi penuh tanya.


Biasanya Dava selalu membuatnya berjauhan dengan Ruth. Namun belakangan ini, justru ia sangat memberikan Sendi waktu cukup lama untuk berduaan dengan sang istri.


Semuanya sangat membingungkan.


"Kini tidak ada lagi rasa cemburuku denganmu, Sendi. Kita sama-sama adik kakak yang akan menjaga Ruth. Adik kita satu-satunya. Cepat atau lambat semuanya akan segera terbongkar. Entah kapan? Entah kuat atau tidak diriku. Yang jelas aku tidak ingin memusuhi adik-adikku lagi."


Dava menatao dalam wajah Sendi yang juga menatapnya penuh tanya.


"Kalian adalah keluarga yang selama ini tidak pernah terbayangkan. Tetapi sangat aku harapkan." Dava kini menatap ke arah Ruth yang tersenyum ke arahnya.


"Non Ruth," sapa Mbok Nan yang masuk ke dalam kamar.


"Mbok..." Ruth tampak merentangkan kedua tangannya menyambut pelukan dari Mbok Nan.


"Non, bagaimana keadaan Non Ruth? Mbok sangat cemas saat Tuan Dava mengatakan Non tidak bisa ikut pulang dan di rumah sakit. Mbok cemas sekali Non. Non tidak boleh banyak pikiran sekarang. Yah?" Matanya sudah berkaca-kaca penuh harap.


Ruth langsung tersenyum hangat dalam pelukan wanita tua itu. Ia sampai terharu sekali, perhatian dari Mbok Nan tidak mengurangi perhatian sosok Ibu pada anaknya yang sangat di cintai.


"Mbok tidak usah khawatir." Ruth melepaskan pelukannya dan menatap wajah tua yang tampak sedih kini.


"Ruth baik-baik saja, Mbok. Hanya kurang darah saja. Semuanya baik, sudahlah jangan menangis seperti itu, Mbok." tuturnya mengusap lengan yang sudah sangat lembek itu.


Mbok Nan menatap dalam wajah ayu di depannya saat ini. Sungguh ia sangat menyayangi Ruth dengan hati yang paling dalam.

__ADS_1


"Jangan bersedih lagi, Mbok. Ruth sangat merasa bersalah jika terus seperti ini. Selama bersaa Mbok Ruth tidak pernah membuat Mbok Nan bahagia selain menangis karena nasib yang Ruth dapatkan." Ruth menunduk meratapi jalah hidupnya yang selalu membawa kesedihan pada setiap orang di sekelilingnya. Semuanya. Tentu saja, dari mulai kedua orangtuanya pergi bersama dua kakaknya. Di susul oleh Mbok Nan yang terus menyaksikan kepedihan jalan hidup Ruth.


Begitupun kedatangan Putri yang selalu menjadi masalah saat Ruth mulai membawanya ke dalam kehidupannya. Sendi, pria yang juga terlibat banyak masalah saat menjalin hubungan dengan Ruth. Dan kini, Dava sekeluarga juga ikut mendapatkan masalah saat hidup bersamanya.


__ADS_2