
Setelah hari demi hari, bukti semakin banyak tertuju pada dua sosok yang saat ini sudah menjadi tahanan sejak sebulan.
Kini semua wajah baru tampak berkumpul di ruangan persidangan yang memang sengaja menjadi sidang terbuka.
Mbok Nan tampak mengatakan yang sejujurnya tanpa mau menutupi apa pun saat di tanya oleh hakim ketua.
“Iya benar, Pak. Saya memang mengganti nama Non Ruth karena permintaan mendiang majikan saya...” Matanya yang mulai dalam karena pengaruh usia tampak berkaca-kaca.
Mbok Nan adalah wanita yang berhati sangat lembut. Ia tidak akan bisa tegar jika menceritakan kembali masalalu sang majikan.
“Dan...mengenai perusahaan tersebut saya memang tidak ingin membuat nyawa Non Ruth terancam.” Isaknya mengingat bagaimana kejamnya dua pria yang berada di depan sana.
Semua akan mereka lakukan dengan senang hati jika melihat merahnya lembaran uang yang akan mereka dapatkan.
“Baik. Semua sudah jelas. Lalu bagaimana dengan pemakaman yang saat itu anda lihat, Mbok? Apakah anda tidak merasa ada yang janggal hingga tidak mengetahui jika salah satu anggota keluarga tersebut ada yang selamat yaitu saudara Sendi Sandoyo alias Berson Nicolas?”
Satu demi satu pertanyaan terjawab. Namun, Mbok Nan yang tidak habis pikir akan pertanyaan yang barusan ia dengar kini menggelengkan kepalanya lemah. Air matanya menetes tak berdaya.
“Saya saat itu tidak bisa berbuat apa-apa, Bapak. Saya di halangi oleh para POLISI dan beberapa pria yang saya tidak kenal.” Mbok Nan menangis hingga tubuhnya ikut bergetar.
Ia mengatakan kebenaran dengan menekankan kata polisi saat mengingat ketidak adilan yang ia dapatkan di waktu kejadian yang mengenaskan saat itu.
__ADS_1
Semua tentu bisa terbaca jika ada pihak yang bermain dalam penanganan kecelakaan saat itu.
Matanya yang meneteskan air mata menatap tajam pada dua wajah pria yang berada di depan. Iwan dan Deni sama-sama menunduk merasa bersalah.
Rasa benci yang begitu dalam terus ia tahan dan membiarkan dirinya untuk belajar mengikhlaskan suatu hal yang sudah tidak akan bisa kembali padanya lagi. Yang terpenting saat ini hanyalah menata kehidupan di depan dengan baik tanpa memupuk kebencian hingga berakhir dengan pikiran yang terperdaya oleh makhluk jahat.
Di dalam ruang sidang semua berjalan dengan lancar. Namun, sebagai keluarga korban Ruth tidak hadir saat itu, hanya di wakilkan oleh Sendi.
Semua karena ulah Dava, sang suami tentunya.
Di sini, di ruangan yang tampak masih terlihat gelap meski di luar cahaya mentari begitu cerah menyilaukan mata siapa pun yang melihatnya.
Dengkuran nafas teratur membuat Dava ingin lagi menyentuh bibir menggemaskan itu dengan bibirnya. Di kecupnya sekilas hingga Ruth merasa terganggu dengan sentuhan itu.
"Em..." Ia menggeliat perlahan lalu mengusap kedua kelopak matanya dan kembali tertidur lagi.
Dava yang melihat hal itu terkekeh gemas. Istrinya sungguh menggoda imannya setiap kali melihatnya.
Di usap-usap naik turun pipi cuby itu yang begitu tampak natural namun sangat cantik jika di pandang.
"Kau pasti benar-benar lelah, Ruth. Maafkan aku atas kerakusanku malam ini hingga pagi tadi." Dava terus mengembangkan senyumannya mengingat bagaimana buruknya ia berjaga sedari malam hingga mentari terbit menyaksikan keringat yang terus mengucur deras di tubuh mereka.
__ADS_1
Flashback on
Usai suasana makan malam yang seperti biasanya, keromantisan terlihat di sepasang suami istri namun berbeda dengan suasana hati sosok Sendi.
Yang selalu terasa makan dengan makanan yang sudah berminggu-minggu membusuk. Napsu makannya selalu hilang tiap kali momen makan malam atau pun sarapan di rumah sang adik.
"Sayang, itu lagi dong." tunjuk Dava yang membuat sang istri terkejut saat ingin meminta Mbok Nan untuk membereskan piring mereka.
"Loh...Ayah tambah?" sahut Putri begitu terkejut.
"Dav, kau bercanda?" tanya Ruth saat itu juga setelah sang anak bertanya pada suaminya.
Pasalnya ini adalah porsi yang ke tiga kalinya. Tidak seperti biasanya, Dava selalu menjaga pola makan termasuk porsinya.
Dava mengangguk dan tersenyum yang selalu memberikan ketenangan bagi siapa pun yang melihatnya. "Iya, Ayah ingin tambah. Tidak masalah kan? perut Ayah sangat lapar sekali ini." Dava mengusap perut ratanya tanpa malu lagi.
Putri memperlihatkan deretan giginya yang sangat tidak beraturan itu karena tertawa tanpa suara pada sang Ayah. Ia benar-benar lucu mengingat porsi makan sang Ayah melebihi porsi makan orang-orang biasanya.
Setelah menjawab pertanyaan sang anak, Dava beralih menatap Ruth di sisinya yang sudah mengambilkan makanan di piringnya.
"Aku ingin menyiapkan tenaga malam ini." lirihnya di daun telinga sang istri saat tubuhnya ia bangunkan dari duduknya demi menggapai telinga sang istri yang sedikit menunduk.
__ADS_1