
Yakinlah, bukan kemewahan yang akan selalu membuatmu bahagia. Namun, keserdahanaan yang akan membuatmu tampak lebih istimewa.
Terkadang...hidup ini sangat sederhana, tetapi diri kita sendirilah yang sering kali bersikeras membuatnya rumit.
If it can be said... life is simple, as simple as the days we spent together surrounded by laughter wrapped in a sense of the universe, love.
Jika bisa di katakan...hidup itu sederhana, sesederhana hari-hari yang kita lalui bersama di lingkupi tawa yang terbalut dalam rasa semesta, cinta.
Suasana ramai namun tak seramai hati seorang pria yang bersorak bahagia dengan bocah mungil di hadapannya saat ini.
Tentu, kemewahan dalam kehidupan seorang Dava selama ini sangatlah tak berarti apa-apa di bandingkan dengan satu hari yang terhitung tidak dalam dua puluh empat jam. Satu detik saja, cukup dengan satu detik kali ini ia tersenyum, tertawa bahagia dengan sosok mungil di pangkuannya kala tengah mengendarai mobilan di arena permainan tersebut.
"Ahahahaha...Paman, pelan-pelan..." seru Putri yang tak henti-hentinya berteriak kegirangan kala memenangkan beberapa kali balapan dengan para pengunjung lainnya.
"Sudah, Paman akan menjadi pengemudi terhebat untuk Putri paman ini." teriak Dava bersemangat.
Di sela-sela tawanya, ada air mata yang bertahan di dalam kelopak mata tajam sosok pria tampan tersebut. Sejenak, bayangan masa kecilnya terlintas bgeitu saja.
Falshback on
"Mau jadi apa kamu, Dava? sudah Ayah katakan jangan ikut dengan kehidupan orang-orang bodoh di luar sana! Apa kamu masih belum paham itu? hah!" Suara bariton seorang Iwan Sandronata. Pria yang sudah menjadi bayangan harian dalam benak Dava Sandronata.
"A-ayah...Dava hanya-"
Plak!! Suara tamparan keras begitu terdengar jelas di telinga para pelayan yang tertunduk di rumah megah itu.
__ADS_1
"Ayah, sudah hentikan! Dia masih kecil, Ibu yang akan mengajarinya. Sudah, yah?" Sarah membela sang anak tanpa berani mendekat pada tubuh kecil Dava kala itu.
Terlihat jelas, tubuh kurus meski bertubuh yang cukup tinggi. Namun sangat jelas jika keadaan tubuhnya tidak baik-baik saja.
Sakit tubuh, sakit pikiran, sakit di dalam hati hanya bisa Dava simpan serapat mungkin. Bagaimana pun juga, Iwan bersikap tegas padanya karena kasih sayang seorang Ayah pada anak.
Tatapan penuh amarah terlihat jelas di kedua manik mata Iwan yang masih terus menatap penuh amarah pada sosok Dava kecil yang menunduk memegangi pipinya dengan warna yang memerah akibat pukulan keras sang ayah.
"Lihat! lihat ini! Nilaimu sangat buruk Dava. Percuma saja Ayah membayar banyak guru les untukmu belajar. Mulai sekarang Ayah sendiri yang akan mengajarkanmu."
Deg!
Detakan jantung Dava yang berpacu begitu kuat, mendadak berhenti. Mata yang berkaca-kaca sejak tadi akhirnya berhasil menjatuhkan buliran bening di pipi tirusnya.
Menolak? tidak mungkin bisa. Dava hanya akan menambah kemarahan sang Ayah jika berani bersuara sedikitpun. Bahkan sang Ibu sama sekali tidak berani bersuara kala mendengar keputusan sang suami.
Bukan suatu yang baik tentu jika sang Ayah yang sudah turun tangan. Ringan tangan pria itu bukan hanya terkenal di dalam lingkungan rumah tangga saja, tetapi di dalam kalangan bisnis pun sudah sangat terkenal dengan sikap arogannya.
Dan saat ini, anaknya pun menjadi korban sikap arogannya tersebut. "Ba-baik, Ayah." ucapnya dengan patuh.
Langkah kaki jenjangnya menaiki satu persatu anak tangga dengan raut yang sulit di artikan. Siang itu, bahkan saat ada meeting penting ia rela meninggalkan kantor kala mendengar laporan dari sang bodyguard anak semata wayangnya. Nilai raport Dava ada yang tidak memenuhi standar seorang Iwan Sandronata itu tentu yang menjadi kesalahan terfatal yang pernah Dava buat padanya.
Beberapa saat setelah usai mengganti pakaian, kini dua orang berwajah tegang tampak saling berhadapan berbatas meja kerja yang penuh dengan berkas-berkas penting.
Tatapan mata Iwan yang begitu tajam membuat Dava hanya mampu menelan salivahnya. Pria di depannya sama sekali tak pernah berhati hangat layaknya seorang ayah di luaran sana.
Dalam hati Dava hanya mampu mengungkapkan segala keinginan yang terpendam. "Ayah, apakah kau benar menyayangiku? kau adalah Ayahku...aku sangat menyayangimu. Tapi...mengapa untuk menggenggam tanganmu saja begitu sulit ku rasa? Ayah, aku ingin bersandar di pundakmu...memelukmu, aku sangat menginginkan hal itu, Ayah."
Sakit, sangat sakit rasanya. Kala perasaan rindu hanya mampu di pendam. Hanya mampu untuk kau pandang, namun tak mampu kau genggam. Hal apa pun tidak akan mampu melukiskan betapa perihnya luka itu, hanya air mata yang tahu bagaimana menjelaskan rasa sakit ketika mengalami rindu yang teraman sulit di jelaskan.
"Letakkan bukumu itu! Itu sama sekali tidak penting." pintah Iwan menatap sinis beberapa buku pelajaran Dava yang ia peluk sejak tadi.
__ADS_1
"Bu-bukankah...Ayah memintaku untuk belajar?" Bahkan untuk bertanya secara jelas saja, Dava sangat gugup.
Satu kata pun salah, tidak ada yang bisa menjamin tangan dingin itu akan kembali melayang.
"Lakukan apa yang Ayah perintah. Letakkan itu!"
Dengan tangan gemetar Dava pun meletakkan buku yang ia bawa dari meja belajarnya ke ruang kerja sang Ayah.
Dahinya seketika mengernyit melihat sang Ayah yang sudah menyalakan laptop di hadapannya tanpa berbicara sepatah kata pun.
"Lihat ini baik-baik." ucap Iwan kemudian mengerjakan beberapa perhitungan matematika di laptop kerjanya.
Dava dengan sigap menatap layar yang kini terarah miring ke arahnya. Beberapa soal tampak mulai di jelaskan dengan sang Ayah. Yah, nilai yang rendah di dalam raport miliknya adalah nilai matematika.
Tentu tak perlu di ragukan lagi kecerdasan seorang pembisnis handal di hadapannya kali ini. Tak lama penjelasan terdengar hening kala suara ketukan pintu di luar ruangan membuyarkan fokus keduanya.
Tok Tok Tok
Senyuman hangat terlukis indah di wajah Sarah, sang istri. "Ayah, ini kopinya. Di minum dulu yah. Dava biar makan dulu yah?" tanyanya dengan lembut.
Akhirnya napas lega bisa terhembus di diri Dava kala mendapatkan pertolongan dari sang Ibu. Namun, sekali lagi senyuman itu mendadak surut saat mendengar suara bariton sang Ayah.
"Cukup, Bu. Ini masih harus di selesaikan. Ibu keluar dulu, Dava harus bisa menyelesaikan ini semua baru keluar." Tegas, jelas, dan tak dapat di bantah lagi ucapan Iwan.
Sarah tersentak kaget, dan segera meninggalkan ruangan yang sangat mencekam tersebut. Ia tak berani berucap sepatah kata pun lagi saat ini.
Sementara di dalam ruangan Dava pun mulai mengerjakan satu persatu soal yang sudah di rancang dengan serumit mungkin perhitungannya oleh Iwan. Dengan tujuan sang anak harus jauh lebih menguasai logika dalam pemecahan masalah perhitungan tersebut.
Sejak saat itu, keseharian seorang bocah tersebut tampaknya di renggut oleh sang Ayah. Semua waktu yang kosong ia punya selalu menjadi waktu untuk sang Ayah mengajarinya. Tak lupa layangan tangan keras selalu medarat di wajah, tubuh, bahkan kepala Dava yang semakin hari semakin bertubuh kurus.
Satu perhitungan saja salah, sangat berakibat fatal tentunya. Hanya kemampuan berhitung Davalah yang akan mampu menolong dirinya dari pukulan maut tersebut. Bahkan seluruh pekerja dan sang Ibu di rumah itu tidak bisa menghalangi kekerasan seorang Iwan Sandronata.
__ADS_1
Meski kesungguhan, kekerasan Iwan terhadap sang anak membuahkan hasil yang sangat memuaskan, tetapi bagi Dava hal itu justru membuatnya menjadi trauma pada sang Ayah. Jangankan mendekat, mendengar sang Ayah sudah pulang dari kantor saja membuat tubuhnya bergemetar ketakutan.
Tiada hari tanpa pukulan, cambukan, atau tamparan di tubuhnya.