Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 60. Pulang Bersama Sendi


__ADS_3

Ruth dan Dava menatap bersamaan ke arah pria yang masih mematung di ambang pintu ruangan rawat itu. Sekilas manik mata cokelat milik Ruth bergerak menangkap jejak infus di punggung tangan sang kakak. Wajah pucat Sendi pun sudah cukup menjelaskan jika dirinya tengah tidak sehat.


"Kak...apa kau sakit juga?" Ruth begitu cemas melihat keadaan sang kakak.


"Ruth, jangan turun-"


"Tidak, Dav. Aku baik-baik saja." Ruth memotong ucapan sang suami yang mencegahnya untuk turun dari ranjang pasien.


Ruth menyibakkan selimut rumah sakit di tubuhnya dan menghampiri Sendi. Langkahnya tertatih karena masih begitu lemas ia paksakan demi menggapai tubuh sang kakak.


Di peluknya tubuh lemas tak berdaya itu dengan tangisan yang sudah banjir di kedua pipinya. "Kak Berson...hiks hiks." Ruth memeluknya semakin erat.


Dava hanya diam mematung menyaksikan hal yang ada di depannya saat ini. Memejamkan mata dan memalingkan pandangan adalah satu-satunya cara untuk bisa terlihat ikhlas membiarkan sang istri berpelukan dengan pria lain.


"Ruth, i miss you." lirih Sendi perlahan mengangkat tangannya dan membalas pelukan sang adik.

__ADS_1


"I miss you too, Kak." Ruth mengucapkan di sela-sela tangisnya. Ia mengendurkan pelukan itu dan menengadah menatap wajah tampan Sendi. "Kak..."


"Ruth, apa yang terjadi denganmu? Mengapa sampai di rumah sakit? Katakan padaku. Apa dia menyakitimu?" Sendi menunjuk ke arah Dava.


Ruth menggelengkan kepalanya cepat. "Kak, aku hanya cemas memikirkanmu." sahutnya tidak terima jika Dava yang di salahkan.


"Bagaimana denganmu, Kak? Apa yang membuatmu di rumah sakit ini?" tanyanya dengan penuh perhatian sembari memperhatikan seluruh tubuh sang kakak.


Sendi terlihat sedikit tersenyum melihat perhatian yang sudah lama ia rindukan. Matanya terus memperhatikan wajah cantik nan lembut di depannya.


Bagaimana pun Sendi hanya satu-satu saudara yang ia miliki. Rasanya sungguh tidak bisa membuatnya terima jika sang kakak terus di buat menderita seperti ini. Sudah cuku semuanya setelah sekian tahun mereka menderita, kali ini mereka harus bisa bersatu melawan keluarga yang membuatnya sengsara.


"Ruth, aku baik-baik saja. Aku senang melihatmu seperti ini denganku..." Sendi mengeratkan pelukannya kembali pada sang adik.


Wajahnya yang pucat tampak begitu teduh. "Ruth, aku benar-benar merindukan pelukan ini, Sayang. Aku sangat merindukan aroma ini..." Matanya terpejam menikmati setiak tarikan nafas yang merasakan aroma yang sangat ia rindukan.

__ADS_1


"Aku sangat senang melihatmu seperti ini denganku, kecemasan seperti ini yang selalu kurindukan, Ruth. Apa pun akan ku lakukan demi mendapatkan apa yang ku inginkan." Sendi tersadar dari lamunannya saat Ruth berusaha melepaskan pelukan itu.


"Kak Berson, kita pulang yah?" Dava yang mendengar hal itu sontak membulatkan matanya terkejut.


Begitu pun dengan Sendi, ia sangat kaget. Akan tetapi bukan kaget sama seperti Dava. Ia kaget tak menyangka jika Tuhan begitu mudah memberikannya jalan.


"Kak, kita akan tinggal di rumah Ayah dan Bunda bersama. Kakak tidak boleh pergi lagi." lanjut Ruth menatap penuh harap sang kakak yang masih terdiam.


"Ruth, bisa kita bicara sebentar?" Dava berusaha menyela percakapan keduanya untuk memberikan masukan pada sang istri.


"Dav, aku mohon berikan aku kesempatan bersama kakakku selama ada waktu untuk kami. Sudah lama kami berpisah, Sayang." Ruth menatap pada sang suami yang sudah berwajah tampak menahan sesuatu.


"Sayang? Ruth, bagaimana bisa bahkan kau sudah memanggilnya dengan panggilan seperti itu padanya? Hatiku sakit, Ruth. Aku tidak rela dengan panggilan yang kau berikan untukku justru untuk pria itu." Sendi menatap nanar pada sang adik.


Dua netra miliknya tampak berkaca-kaca menahan sesak di dada yang benar-benar menyakitinya hingga membuatnya kembali lemas. "Sebesar itukah sudah cintamu untuknya?" Mengapa aku tidak bisa rela melepaskanmu, Ruth? Aku tidak ingin posisiku terganti siapa pun juga." Sendi terus bersitegang dengan pemikirannya sendiri.

__ADS_1


"Tatapan itu? aku tahu maksud dari tatapannya...Lihat Sendi, apa pun yang kau lakukan, aku tidak akan membiarkannya begitu saja terjadi." Dava menatap terus setiap eksrpesi dari Sendi pada sang istri.


__ADS_2