
Setelah kepergian sepasang suami istri itu dari kamar, kini hanya tersisa anak-anak dan Mbok Nan saja.
Mata mereka saling memandang bergantian, tetapi tidak dengan Ruth yang terus saja memandang wajah Dava sembari sesekali meletakkan pelan-pelan alat kompres itu di beberapa bagian yang nampak membiru.
“Dav, bangunlah segera...apa kau masih tidak mau melihat kekhawatiran kami hilang? Apa yang ada di dalam pikiranmu saat ini, Dav? Tidak begini caranya menyelesaikan masalah kita...” Ruth berkata dengan suara yang begitu kecil.
Keadaan mereka masih saja sama seperti itu, Sendi duduk di sisi ranjang milik Dava. Mbok Nan memilih berdiri di belakang tubuh Ruth yang membelakanginya.
Sedangkan di kamar yang berbeda, mereka tidak tahu tengah terjadi apa saja.
Tuan Wilson menangis dengan sekuat tenaga ingin mengatakan sesuatu. “Ayah, Bunda mohon jangan seperti ini, Ayah.” Sedih sekali Tarisya melihat keadaan sang suami yang semakin tak terkrontol saat ini.
Pikirannya yang semula senang mendadak jadi sangat sedih. Ia tidak menyangka dengan perkembangan sang suami yang sudah berubah justru membuat keadaan mentalnya terlihat memburuk.
Dengan tidak mengakui anak-anaknya sendiri sudah cukup menjadi tanda tanya besar baginya. Apakah karena daya ingat yang masih tertinggal beberapa tahun lalu sehingga membuat Tuan Wilson meyakini jika anak-anak mereka masih bayi? Atau karena memang Tuan Wilson yang menolak untuk mengakui anak-anaknya karena alasan kesehatan yang merusak pikirannya?
“Me-re-ka...bu-bukan a-anak k-kita.” Itulah ucapan yang terus ia suarakan pada telinga sang istri sampai saat ini. Tangisannya begitu pilu jelas terlihat.
“Ayah...tenanglah. Mereka adalah anak kita. Ayah jangan terlalu memaksakan emosi Ayah. Bunda mohon, Ayah.” Ucap Tarisya menggenggam tangan sang suami dengan erat dan memeluk tubuh yang masih duduk bersandar di
ranjang mereka setelah ia membantu sang suami beranjak dari kursi rodanya.
“Sya...Jeff...dia bukan anak kita. Shandy...d-dia juga a-anak orang l-a-“
“Apa maksud Ayah? Jeff bukan anak kita? Dan Shandy anak oranglain yang itu berarti juga bukan anak kita, Ayah?” Tarisya begitu syok mendengar penuturan sang suami.
Ia menggelengkan kepalanya tak percaya sama sekali dengan apa yang di katakan sang suami. Baginya keadaan psikis sang suami sangat terganggu sepertinya.
Tuan Wilson menganggukkan kepalanya, barulah ia bisa tenang dan tak menangis lagi. Melihat sang istri sudah bisa mendengar dengan baik penuturannya.
Flashback on
Senyuman tampak merekah kala melihat pesan dari seseorang yang baru saja masuk di ponsel miliknya.
“Ayah, ini sudah jam empat sore. Ingatkan janji Ayah mau bawa Bunda jalan-jalan di taman?” Begitulah isi pesan dari wanita tercinta yang tengah bahagia menunggu kepulangan sang suami sore itu.
Mentari indah yang perlahan-lahan mulai merubah warnanya dari kuning muda menjadi sedikit kegelapan dan menjadikan warna orange tampak begitu indah sempurna dengan sinarnya yang begitu pekat.
Wajah lelah seketika sirna melihat sapaan penuh cinta dari sang istri. Hatinya tampak berbunga-bunga kala menyadari akan kehadiran sosok malaikat kecil yang sebentar lagi akan hadir ke dunia.
Wajah sempurna berkat perpaduan dua orang yang berasal dari keluarga yang berbeda tampak membuat Wilson sangat tidak sabar menantinya.
Jemari besarnya pun mengetikkan pesan yang membuat sang pemilik ponsel di seberang sana juga ikut tersenyum bahagia.
“Iya, Bunda. Segera Ayah pergi kesana. Ini Ayah sedang menunggu taksi untuk pulang. Sabaryah, Bunda jangan kemana-mana dulu. Tunggu di depan rumah saja.”
Kini langkah panjang Tuan Wilson saat melewati loby perusahaan dimana ia sedang bekerja dengan susah payah sebagai bawahan membuatnya tak melupakan kewajibannya sebagai suami meski pekerjaan begitu melelahkan tentunya.
Ketika ia terus melangkah menuju jalanan, tiba-tiba saja teriakan jerit seorang wanita membuatnya langsung terkejut.
__ADS_1
“Aaaaaa!!!”
“Tolong, sakiiiit!” suara wanita yang terdengar begitu mengundang semua yang mendengarnya semakin mendekat.
Termasuk pria yang sebentar lagi akan menjadi ayah ini.
“Ya Allah...ada apa ini?” tanyanya dengan panik namun matanya langsung tertuju pada cairan yang tercecer begitu banyak di bawah kaki wanita yang sudah terbaring lemas di jalanan.
“Sakit...tolong. Tolong saya, Pak. Ini sakit sekali.” Rintihnya memegangi perutnya yang sudah sangat besar.
Semua bergerak cepat. Ada yang memberikan jas mereka untuk
menutupi tubuh wanita itu, ada juga yang berlari mengejar salah satu pengendara
mobil yang kemungkinan bisa membawa wanita itu ke rumah sakit.
“Pak, Bapak sudah pulang kerja kan?” tanya seseorang
menunjuk Tuan Wilson seketika ia pun menganggukkan kepalanya.
“Yasudah, kami minta
tolong Bapak saja yang membawa ibu ini ke rumah sakit,” Tanpa bisa menolak,
dengan rasa iba akhirnya Tuan Wilson membawa wanita itu ke mobil yang baru saja
Ia membantu wanita hami itu hingga mereka pun menuju ke
rumah sakit. Pikirannya sepanjang jalan begitu kalut.
Di sini ada wanita yang bertaruh nyawa, sedangkan di rumah ada
wanita yang juga menunggunya pulang untuk menyenangkan sang buah hatinya di
dalam perut yang sebentar lagi akan lahir.
“Ya Allah...bagaimana
sekarang? Sya, maafkan aku. Aku tidak mendahulukanmu, Sayang.” Lirih Tuan
Wilson sembari membantu wanita yang berada di sampingnya untuk mengusap
punggung karena permintaan wanita itu.
Sepanjang jalan wanita itu terus saja mengeluh tanpa henti,
membuat pikirannya terasa tidak bisa konsentrasi memikirkan sang istri yang
berada di rumah.
__ADS_1
“Apa sebaiknya aku
kabari saja dia? Iya itu akan lebih baik. Kasihan dia menungguku. Maafkan aku,
Sya...” tangannya pun dengan yakin merogoh ponsel di dalam saku celana
kerja miliknya.
Namun di saat yang bersamaan, suara benda pipih itu
terdengar berdering.
“Sya, maaf-“ Kata-katanya terputus kala mendengar suara yang
tidak asing di seberang telepon.
“Tuan, Nyonya Tarisya sepertinya akan melahirkan. Ini
perutnya sangat sakit.” Bi Nan tak mau membuang waktu lebih lama lagi, ia pun
segera menjelaskan apa yang terjadi dan menjadi tujuannya untuk menelpon sang
Tuan.
“Apa? Bi, tolong. Tolong istri saya, Bi...” wajah pria
tampan yang sedari tadi tampak cemas menjadi sangat panik kala mendengar sang
istri yang sedang kesakitan di sana tanpa ada dia di sisinya.
“Kami tidak punya waktu
menunggu Tuan lagi. Saya harus segera membawa Nyonya untuk ke rumah sakit
terdekat, Tuan.” Kepala Tuan Wilson mengangguk cepat mendengar ucapan sang
pembantu.
“Baik, tolong Bi. Segera kabari saya jika sudah sampai. Kita
bertemu di sana.” Sambungan telepon pun terputus.
Jalanan di sore hari memang sedikit macet. Jalanan yang
begitu luas tampaknya tak mampu menampung banyaknya kendaraan yang berlalu
lalang mengantarkan semua pengendara yang ingin pulang ke rumah masing-masing
setelah aktifitas padat mereka di tempat semula.
__ADS_1