
Hari-hari terlewati dengan banyaknya kebahagiaan yang Dava berikan pada orang-orang sekelilingnya. Terutama pada wanita yang menjadi bintang di hidupnya. Tak perduli betapa sakitnya ia setiap kali menahan perasaan yang terus ingin membuncah dalam dadanya.
Kebahagiaan dan sakit memang akan terus beriringan sepanjang masa. Yang Dava tahu saat ini, ia hanya ingin tawa bahagia dari wajah sang istri. Sekalipun itu sangat salah jika terus ia lakukan.
Ada kalanya manusia akan menjalani pilihan dalam hidupnya. Jika memang ia adalah sosok pria yang benar-benar memiliki kehidupan sempurna sebelumnya, tentu saja itu sangat salah besar.
Mungkin hanya dengan caranya saja, Dava mampu menjadikan hidupnya seperti sempurna. Ia mampu mengatasi segala kehancuran dalam keluarganya dengan jiwa bijaknya sebagai seorang pengusaha sukses. Namun sayang, nyatanya kali ini ia tidak bisa menutupi takdir yang ia dapatkan dengan sikap bijaksananya lagi.
Tanpa bisa ia hentikan atau hindari lagi, hari ini adalah persidangan putusan. Dimana para keluarga tentu akan hadir. Begitu pun dengan Ruth yang sangat antusias dengan persidangan hari ini.
"Sayang," Dava berjalan dengan langkah tegapnya pagi itu. Senyuman di wajahnya tampak secerah mentari hari ini.
"Dav, jangan tersenyum. Kau sudah menyembunyikan satu hal dariku." ketus Ruth yang menatap sang suami dengan tatapan sadisnya.
"Iya, aku minta maaf. Aku hanya takut kau akan drop lagi. Ku mohon..." Dava tampak bersimpuh di hadapan sang istri sembari mencium tangan wantia pujaan hatinya.
Ia tahu benar, jika wanita di depannya kini paling tidak bisa tegas kala melihat wajahnya yang menyedihkan. Ruth berdecak kesal.
"Hais, Dav. Aku sangat kesal. Itu adalah persidangan yang aku tunggu-tunggu. Bagaimana mungkin kau membiarkan aku tidak hadir? Bagaimana jika pelaku-pelaku itu mendapatkan keringanan dari pihak lain? Bagai-" (Dava menekankan jari telunjuknya di bibir sang istri hingga membuat bibir itu terbelah dua bagian).
Ia menggelengkan kepala pelan, "Tidak. Itu tidak akan kubiarkan, Sayang. Aku dan Sendi yang akan pasang badan jika sampai mereka melakukan hal itu." ujar Dava meyakinkan sang istri.
"Lalu...bolehkah aku tahu kau tau itu semua dari siapa?" Dava berusaha mencari tahu dari mana istrinya bisa tahu tentang agenda persidangan beberapa waktu lalu itu.
"Aku mengetahuinya dari...maaf." Ia tampak menunjukkan wajah bersalahnya dengan suara lirih.
"Mendengar percakapanmu dengan Polisi itu tadi." Ia menunduk menunjukkan wajah rasa bersalah.
Memang hal menguping tidaklah baik, meskipun di sini pelaku bersalah yang sebenarnya adalah Dava, tapi ia sangat bisa merubah sikap sang istri menjadi begitu penurut dan sopan.
__ADS_1
"Ruth, aku bahkan sudah berkali-kali mengatakan padamu, Sayang. Itu tidak boleh kau lakukan...sekalipun pada suamimu." tutur Dava yang merasa salah tingkah karena sudah tertangkap basah.
"Dav, kapan persidangan berikutnya?" Ruth bahkan enggan menanggapi ucapan sang suami. Ia lebih memilih untuk mencari tahu perkembangan kasus keluarganya.
"Masih bulan depan. Oh iya hari ini kau di rumah istirahat. Karena nanti malam aku akan membawamu keluar kota untuk bertemu klien penting." Dava mengusap rambut panjang nan lembut wanita bermata cokelat itu.
"Tapi, Dav...bukankah aku sudah baik-baik saja?"
"Tidak, Sayang. Kau harus istirahat. Okey?" Dava berlalu pergi dari rumah itu setelah mencium kening sang istri.
"Selamat pagi, Tuan," sapa Mbok Nan yang melihat kedipan mata dari Dava. Ia mengangguk patuh dan bergegas mengunci pintu utama rumah mereka setelah memastikan Dava keluar dari rumah.
Sikap Mbok Nan sungguh membuat Ruth merasa curiga tentunya, ia berjalan mendekati Mbok Nan lalu bertanya dengan penasaran.
"Loh, Mbok kok pintunya di kunci? Kita di dalam kan? Oh iya, Putri mana, Mbok? Apa kita antar Putri saja ke sekolah hari ini?" Ruth sungguh enggan berdiam diri di rumah. Sehari-hari ia harus menurut ucapan sang suami untuk tidak mengelola perusahaan selama masa kehamilan.
"Sendi? Kak Berson menemani Putri? Untuk apa, Mbok? Bukannya Kak Berson sudah tidak pernah kerumah lagi?" Ia merasa semua yang terjadi pagi ini begitu ganjal.
"Sudah Non. Mungkin Tuan Dava meminta Tuan Sendi agar lebih dekat dengan Putri lagi. Bagaimana pun mereka selama ini kan seperti tom and jerry, Non."
"Oh...baiklah. Yasudah sekarang Mbok Nan bareng saya saja yuk. Kita nonton televisi bareng. Semoga dengan nonton saya bisa ngusir rasa bosan ini..." Ia pun melangkah dengan menggandeng tangan wanita tua renta itu menuju ruang televisi.
"Haduh...gusti...akhirnya bebas dari pertanyaan yang bikin jantung ini mau copot." Mbok Nan terlihat tampak menghela napas saat melangkah mengikuti arah Ruth berjalan.
Ia tidak bisa jika terus menjawab pertanyaan dengan kebohongan-kebohongan yang sama sekali teksnya belum ia hapalkan. Alias harus banyak persiapan rencana kosa kata tentunya.
Keduanya pun duduk bersampingan menikmati serial kartun yang mempelihatkan banyaknya wanita dengan costum kupu-kupu berambut panjang begitu cantik.
"Hehehe Non Ruth sudah mau jadi ibu masih saja suka dengan film itu. Mbok kirain sudah lupa saking sibuknya bekerja." Mbok Nan tampak terkekeh lepas melihat wajah Ruth yang sangat antusias melihat tampilan di dalam layar televisi.
__ADS_1
"Hehehe iya nih, Mbok. Saya malah suka kangen pengen nonton ini. Yah biarpun nggak nyata tapi saya suka banget sama wajah-wajah mereka. Cantik dan anggun-anggun." pujinya takjub dengan desain para pengisi acara film kartun itu.
"Non Ruth juga sama seperti mereka, Non Ruth Barbie versi nyatanya. Cantik dan anggun, sama Non." Mendengar pujian dari Mbok Nan, Ruth pun terkekeh menggelengkan kepalanya.
Keduanya berbincang dengan hangat, meski tawa terus terdengar namun tak ada yang mengetahu bagaimana detak jantung Mbok Nan yang berpacu begitu kuat saat ini.
"Aduh Ya Allah...jangan sampai Non Ruth lihat acara televisi lainnya. Bagaimana ini? Kalau sampai ada berita yang menyiarkan persidangan hari ini? Tuan Dava...tolong Mbok, Tuan. Jantung Mbok bener-bener mau copot sekarang. Mendingan Mbok di suruh jagain Putri berjumlah 10 dari pada harus mencegah Non Ruth tahu tentang persidangan hari ini..." Mbok Nan tampak ketakutan.
Pasalnya kasus yang hangat di bicarakan publik belakangan ini memang menyangkut kasus keluarga Nicolas. Itulah sebabnya, Dava sangat tidak tenang jika sang istri ikut pergi ke kantor dan bertemu dengan banyak orang.
"Mbok, perut Ruth lapar nih..." Kedua tangannya mengusap-usap mata yang terasa mengantuk.
Ruth tahu ini adalah bawaan hamil. "Oh iya sebentar Mbok buatkan makanan yah, Non? pasti ini si dedek yang mau." Mbok Nan tersenyum gugup saat ia ingin beranjak dari dapurnya.
Pikirannya sudah terpenuhi dengan rasa cemas. Tugasnya di rumah saat ini adalah memastikan jika Ruth tidak mengetahui tentang hasil persidangan.
"Sebenarnya Tuan Dava takut bagaimana sih? Kan sudah pasti pelakunya dapat hukuman yang berat dengan banyaknya bukti begitu. Non Ruth tidak akan mungkin juga akan kenapa-kenapa selama pelakunya di hukum. Apa jangan-jangan Tuan Dava...ah tidak. Tidak mungkin lah Nani. Tuan Dava itu suami yang baik. Tidak mungkin dia menusuk keluarga istrinya dari belakang. Tapi...kenapa Tuan Dava Takut kalau Non Ruth tahu? Huh...jadi penasaran serba salah kan jadinya." Mbok Nan sungguh bingung dengan yang terjadi saat ini.
Yang ia tahu, Dava hanya tidak ingin Ruth mendengar tentang persidangan yang membuatnya akan terus bersedih dan bisa drop lagi.
"Mbok!"
"Mbok, Nan," Panggil Ruth saat melihat wanita di sebelahnya melamun tanpa mendengarkan kata-katanya lagi.
"Eh...hah? Iya ada apa, Non?" jawabnya dengan pertanyaan kembali.
"Oh iya, tunggu sebentar Non. Mbok buatkan makanan. Tapi, Non Ruth tidak mau ikut ke dapur?" ia memberikan penawaran agar setidaknya Ruth menjauh dari posisi televisi berada.
Ruth mengernyit heran kala mendengarnya.
__ADS_1