Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 297. Kurangnya Perhatian Sang Ayah


__ADS_3

Sosok pria yang tengah mendengkur halus beberapa kali tampak mengerjapkan matanya. Sesuatu yang aneh terasa begitu mengusik tidur lelapnya kali ini.


"Hem..." keluhnya tanpa mau membuka kedua mata dan menggeliatkan tubuh di dalam mobil itu.


"Astaga apa sih ini mengapa rasanya geli sekali?" gerutunya saat menyadari rasa geli semakin merasuki seluruh tubuhnya.


Tanpa sadar di sisinya ada seorang wanita yang tengah asik terkekeh geli kala melancarkan gerakan tangannya pada pinggang sang suami.


Di detik berikutnya Sendi pun membuka matanya perlahan dan mendapati wajah yang sangat familiar terkekeh ke arahnya.


"Dina..." tuturnya lirih.


"Maafkan aku." Dina meminta maaf pada sang suami sembari terkekeh tanpa bisa henti.


Perlahan Sendi pun memutuskan untuk bangun dari tidurnya. Di bantu dengan sang istri.


Keduanya pun keluar dari dalam mobil dan tentu saja pemandangan manis itu tertangkap jelas pada kedua pasang mata sang ayah dan bunda yang tengah bermain dengan Rava.

__ADS_1


"Ayah legah saat ini, Sya. Di usia kita yang sangat senja anak-anak kita sudah menemukan kebahagiaannya sendiri-sendiri." tutur Tuan William pada sang istri tanpa menatap wajah ayu yang sudah berkeriput di sampingnya.


"Iya, setidaknya ketika kita pergi mereka hanya meneruskan kebahagiaan itu saja, Yah? Tugas kita sudah usai mengantarkan mereka pada jalan bahagianya." sambung sang istri yang menatap langkah sepasang suami istri yang masih muda berjalan mendekat ke arah mereka.


"Ayah, Bunda...ayo kita masuk. Sudah semakin gelap." Dina berseru kala sang suami menggendong Rava yang baru saja ingin berlari menjauh.


"Hayo...sini sama Om. Hap."


"Mau! mau!" Teriak Rava meronta enggan di bawa ke dalam gendongan sang paman.


Sedangkan di dalam rumah, Ruth yang melihat sang putri tengah tertidur lelap berjalan bergandengan tangan dengan sang suami mendekat pada tempat tidur mini itu.


"Sayang, tumben jam segini Putri tidur? Biasanya dia selalu menyambut kedatanganku?" Dava merasa ada yang aneh dengan sang anak hari ini.


"Iya, Dav. Kau tahu? Mbok Nan bilang kita harus ke sekolah besok." Kening Dava mengernyit kala mendengar penuturan sang istri yang masih belum jelas tujuannya.


"Ke sekolah?" tutur Dava mengulang ucapan sang istri dengan kening yang berlipat semakin banyak.

__ADS_1


Ruth menganggukkan kepalanya. "Hem, hari ini satu temannya jadi korban pukulan anak kita. Maafkan aku, Dav." Ruth menunduk merasa tidak enak pada sang suami.


Dava terdengar menghela napasnya dengan kasar. Ia paham di usia anaknya saat ini memang sangat butuh pengawasan ketat dari orangtuanya.


"Jangan meminta maaf. Seharusnya aku yang minta maaf. Aku sebagai Ayahnya kurang bisa memberikan arahan yang baik. Aku janji setelah ini aku akan jauh lebih memperhatikan anak kita. Jangan bersedih lagi yah?" Tangan besar Dava menarik kepala sang istri untuk masuk ke dalam pelukannya saat itu juga.


"Aku terlalu sibuk. Hingga lupa peran utamaku sebagai seorang Ayah."


Samar-samar mata bulat kecil itu terbuka tatkala mendengar suara dua orang sedang berbicara di dekatnya hingga tanpa sadar hal itu sempat masuk ke dalam mimpinya.


"Ayah, Mamah." sapanya saat mata bocah itu terbuka lebar dan melihat kedua orangtuanya tengah berpelukan erat.


"Sayang, kamu sudah bangun, Nak?" Ruth melepaskan pelukan dari sang suami saat mendengar suara anaknya telah terbangun.


Begitu pun Dava yang tersenyum menatap wajah sang anak.


"Hai gadis, Ayah? Ada apa hari ini? Sampai tidak menyambut pulangnya Ayah? Hem!" tanyanya sembari mengusap pipi gembul sang anak yang terduduk menghadap ke arah mereka.

__ADS_1


__ADS_2