
Apa yang diharapkan oleh Detektif Carl seperti terwujud. Tak perlu susah-susah ia mencari pria itu, kini ia justru tak sengaja bertemu di tengah jalan seperti ini.
“Baiklah, mungkin aku sedang hoki saat ini. Kuharap dia benar pria kemarin yang juga merupakan pelaku pembunuhan berantai.” gumamnya lagi.
Tanpa pikir panjang, Detektif Carl lalu segera memarkir mobilnya di depan Mall tadi. Ia tak ingin sampai kehilangan buruan kali ini.
“Detektif Carl!” ucapnya, saat tiba depan pria tadi dengan menunjukkan kartu identitasnya.
Pria tadi menoleh dan menatap Detektif Carl. Benar, pria itu mempunyai wajah yang mirip sekali dengan pria yang kemarin melukai Briptu Scarlet.
Dari mata, hidung, alis juga perawakan pria itu 100% mirip.
“Kau sebaiknya ikut aku ke kantor polisi sekarang.” ucap Detektif Carl tegas, dengan sorot mata tajam siap untuk menghukum.
“Maaf, Tuan. Aku tak mengerti maksud Anda. Apa salahku sampai harus ikut bersamamu pergi ke kantor polisi?” tanya pria itu bingung.
Sedang ia merasa sama sekali tidak melakukan kejahatan sekalipun.
Namun Detektif Carl langsung menggelandang pria itu dan menyeretnya masuk ke mobil, tanpa pria itu bisa melawan.
“Duduk!” titahnya, setelah pria itu masuk ke mobil dengan paksaannya pula.
“Kubilang duduk!” hardiknya lagi, karena pria tadi tak kunjung duduk juga.
Pria tadi pun kemudian duduk dan tetap segera melanjukan mobilnya menuju ke kantor polisi.
Ingin saja rasanya menghajar pria itu habis-habisan saat ini, karena telah melukai kekasihnya. Tapi tak mungkin itu ia lakukan, karena masih ada hukum yang berlaku dan harus dipatuhi.
__ADS_1
“Keluar!” hardik Detektif Carl, begitu Ia turun dari mobil dan membuka pintu belakang.
Pria tadi pun turun.
“Tuan, aku benar-benar tak bersalah tolong lepaskan aku.” mohon pria tadi.
“Tidak. jika polisi melepaskanmu baru aku akan melepaskanmu.”
Detektif Carl menyeret masuk kuliah tadi ke kantor polisi.
“Dia...” Briptu Scarlet langsung mengenali sosok pria itu begitu melihatnya, pria yang sudah melukai dirinya.
“Aku sudah menangkap pelaku pembunuhan berantai itu.” Detektif Carl mendorong pria tersebut dengan kasar pada salah satu agen polisi bagian reserse.
“Ikut kami sekarang, dan jelaskan semuanya!” Petugas reserse tersebut segera membawa pria tadi ke sebuah ruangan introgasi demi kepentingan penyelidikan.
“Katakan padaku, apa motifmu melakukan semua pembunuhan berantai!” hardik agen polisi tak ada ramah-ramahnya sama sekali.
Pria tadi tempat gemetar setengah mati. berulang kali dia Berusaha menjelaskan jika dirinya bukanlah aku pembunuhan berantai, namun polisi tak mempercayai ucapannya.
Brak! Bahkan tabrakan keras pada meja tetap membuat pria itu bungkam seribu bahasa.
“Pukul saja dia biar mengaku!” ucap agen polisi lainnya juga ada di ruangan itu memberikan saran.
Terdengar suara pukulan keras menghujam ke dada pria tadi.
“Ampun. Pak Polisi, aku benar-benar orang biasa bukan pembunuh. Tolong ampuni aku dan lepaskan aku.” ucapnya tiada lelah memohon.
__ADS_1
Polisi terus melakukan investigasi hingga dua jam ke depan. Dan bisa dibayangkan Seperti apa sekarang pria itu keadaannya, babak belur!
Saat itu Briptu Scarlet dan Detektif Carl juga berada di ruang interogasi.
Apa benar memang pria ini pelakunya? Atau jangan-jangan aku... batin Detektif Carl berpikir ia telah salah tangkap.
“Tunggu!” ucapnya, lalu berdiri di samping pria tadi.
Detektif Carl langsung memeriksa telapak tangan kiri pria tersebut.
“Apa? Tak ada luka sama sekali di sini? Aku yakin telah melukai telapak tangan kirinya.” pekiknya terkejut.
Tangan pria itu benar-benar halus tak ada luka sedikit pun. Tidak mungkin bukan luka bisa sembuh dalam waktu sehari, bahkan tak meninggalkan bekas sedikit pun.
“Carl, apa mungkin wajah yang kita lihat kemarin bukan wajah asli pelakunya?” tanya Briptu Scarlet, ikut mendekat.
Detektif Carl pun terdiam tak bisa menjawab. Banyak kemungkinan dan salah satu kemungkinan pelaku memang memakai topeng lateks menggunakan wajah pria lain.
Polisi yang ada di sana kemudian memanggil salah satu pria dari sindikat penjualan organ.
“Katakan padaku, apa kau mengenal pria ini?” tanya agen polisi pada pria bertato ular.
Pria tersebut hanya menatapnya sekilas dan tersenyum tipis. “Tidak. Aku tidak mengenalnya.”
Lalu agen polisi tersebut bertanya pada pria tersangka tadi, dan dia juga mengatakan hal yang sama.
Briptu Scarlet segera menarik ke atas lengan pria bermata sipit tadi.
__ADS_1
“Tak ada tato ular di sini. Juga tak ada gelang itu.” pekiknya terkejut.