
Setelah puas mengajukan banyak pertanyaan dan aktifkan mengakhiri sesi investigasinya dengan Tuan Adolf.
“Aku permisi dulu, Tuan.”
Detektif Carl berpamitan untuk melakukan investigasi lanjutan di kantornya saja atau langsung ke TKP.
“Aku tunggu kabar baik darimu, Detektif Carl.”
“Maksimal tiga hari. Aku akan membawa pelakunya padamu, Tuan Adolf,” janjinya.
Ia sendiri geram, karena pelaku sampai mengirim bom padanya. Bagaima jika dia mati sungguhan terkena ledakan bom? Dia masih ingin menikmati hidup bersama Scarlet, berumah tangga layaknya pasangan umum lain.
“Ya, Detektif Carl.”
Tuan Adolf yakin pria itu bisa dipegang ucapannya dan tak akan bohong padanya.
Detektif Carl lalu masuk ke mobilnya. Di sepanjang jalan, ia berpikir apa motif pelaku membunuh Sarah Michelin? Namun tak kunjung membuahkan ide juga.
Din! Suara klakson mobil dari arah belakang mobil Detektif Carl.
“Siapa yang membunyikan klakson, aku tidak melakukan pelanggaran dan mengemudi dengan benar,”cicitnya. Lalu langsung melihat kaca spion.
Ada mobil patroli polisi, hanya saja sirinenya dimatikan. Menandakan polisi itu sedang off tugas.
“Detektif Carl, kau dari mana?”
Mobil patroli tadi menyalip dan kini sejajar dengan mobilnya.
“Oh, Sherif Sherma. Aku dari rumah klien,” jawabnya, kemudian menurunkan kaca mobilnya setelah mengetahui siapa yang ada dalam mobil patroli tersebut.
“Jika tidak terburu-buru mampirlah ke kantor ku sekarang.” undangnya, sedikit memaksa.
__ADS_1
“Ada apa Sherif?”
Jika pria itu meminta dirinya untuk membantu lagi dalam investigasi sebuah kasus dia tak bisa membantunya kali ini, karena misinya sedang berlangsung.
“Kau terlalu banyak berpikir. Kali ini aku hanya memberimu tanda jasa saja. Bagaimana?”
Beberapa waktu yang lalu Sherif Sherma pernah bilang padanya akan memberinya tanda jasa karena menjadi mitra dan membantunya menyelesaijkan kasus pembunuhan berantai.
“Tapi aku buru-buru,” bantahnya.
“Jika begitu sebentar saja.”
Sherif Sherma tetap memaksa.
“Ya, baiklah. Aku mampir sebentar saja untuk mengambilnya lalu akan kembali.”
Mereka berdua kemudian menuju ke kantor polisi.
Detektif Carl lalu duduk, menunggu Sherif Sherma yang sudah masuk ke ruangan.
“Carl, kenapa kau kemari?”
Briptu Scarlet yang melihatnya segera menghampirinya.
“Aku ingin menemuimu dan mengajakmu kencan,” celetuknya asal untuk menggoda kekasihnya.
“Tutup mulutmu, aku sedang kerja,” ucapnya pelan tapi sangat mengena di hati Detektif Carl.
Briptu Scarlet tak bisa di ajak bercanda rupanya. Dia selalu serius. Tapi entah kenapa Detektif Carl menyukainya. Padahal dia juga tidak romantis.
“Ini untukmu, Detektif Carl.”
__ADS_1
Tiba-tiba Sherif Sherma datang dengan membawa sebuah kotak berisikan lencana kehormatan.
Saat itu Briptu Scarlet yang akan marah lagi, ketika terdiam ketika melihat Sherif Sherma kini menyematkan lencana penghargaan itu sendiri pada tuxedo Detektif Carl.
Aku telah salah mengerti. Ternyata dia kemari untuk mengambil lencana itu, batinnya baru menyadari.
Ia pun segera kembali ke ruangannya karena dua pria itu kini terlibat sebuah percakapan.
Sepuluh menit berikutnya Detektif Carl berpamitan karena ia harus secepatnya menyelesaikan kasusnya.
Di depan kantor polisi dia berpapasan dengan seorang pria yang baru saja memarkir mobilnya.
“Foster Bridge?!” pekiknya, terkejut.
“Kenapa dia kemari?” lirihnya.
Foster Bridge dulunya merupakan seorang agen polisi. Dia merupakan keturunan orang kaya. Dan dia menyatakan resign dari tugasnya sebagai agen Polisi setelah 10 tahun berdinas.
Umurnya hampir 40 tahun. Seharusnya dari usia dia terlihat matang, ada beberapa rambut yang mulai memutih. Tapi pria itu rambutnya hitam, tak ada satupun yang putih.
Mungkin karena dia beralih profesi menjadi seorang pengusaha sekarang dan membuatnya banjir uang yang membuatnya awet muda.
“Halo, Detektif Carl.”
Pria itu menyapa Detektif Carl lebih dulu. Tatapannya sekilas tajam namun ia segera mengalihkan pandangannya dari Detektif Carl dan buru-buru masuk ke kantor. Bahkan sebelum Detektif Carl menjawab sapaannya pria itu sudah masuk ke kantor.
Detektif Carl lalu berhenti dan berbalik.
“Kenapa aku merasa pria itu seperti menghindar dariku atau tepatnya lari dariku?” gumamnya lagi.
Ia kemudian juga teringat jika pria itu ada hubungannya dengan Sarah Michelin.
__ADS_1
Muncul pertanyaan besar, bagaimana pria itu bisa ada hubungan dengan Sarah Michelin yang terpaut usia sepuluh tahun lebih.