
Para tamu undangan kini berkumpul di sebuah villa yang sudah disediakan sebelumnya oleh Tuan Noel, sebuah villa mewah tentunya yang ada di Brisago Islands.
Bukan perkara yang sulit membeli satu atau lebih dari villa mewah seperti ini untuk Tuan Noel dengan banyaknya bisnisnya yang sukses. Mungkin membeli pulau ini juga bisa dilakukannya, jika dia mau.
“Sayang sekali di luar masih gerimis, jika tidak aku akan keluar untuk berkeliling sebentar,” ujar Tuan Fisher, menatap ke luar jendela.
Di luar memang masih gerimis. Jadi memang tidak memungkinkan untuk keluar. Ditambah lagi hari sudah malam. Mereka datang molor dari jadwal akibat ada badai tadi.
“Sepertinya cuaca memang tak bisa diprediksi, di sini,” timpal Tuan Archer, orang yang berada di dekat jendela.
“Maaf, Tuan semuanya membuat Anda semua merasakan ketidaknyaman dalam perjalanan kemari. Sebaiknya Anda nikmati makan malam dulu, barulah beristirahat. Besok pagi barulah acara akan dimulai,” papar Tuan Noel panjang lebar memberikan sambutan.
“Yah, padahal sebelum istirahat aku ingin keliling sebentar untuk melihat daerah ini,” keluh seseorang kecewa.
“Tak apa Tuan Noire, di luar masih gerimis. Masih banyak waktu besok dan lusa untuk menikmati waktu disini,” ujarnya, menghibur.
Tuan Noire hanya mengulas senyum kecil saja, meresponnya.
Beberapa orang yang memang belum makan malam segera menuju ke meja jamuan di mana di sana sudah dihidangkan banyak sekali makanan mewah tentunya.
“Steak ini bisa menghangatkan tubuh di malam dingin ini,” gumam seseorang, menikmati salah satu menu hidangan.
“Tuan mau makan apa, aku akan mengambilkannya untukmu,” ujar Stuart pada atasannya.
“Ambilkan saja aku menu termewah di sini,” balas Detektif Darcy, sembari menaruh kedua tangannya di saku celana karena tak ada kerjaan.
__ADS_1
“Ya, Tuan.”
Stuart lalu segera pergi menuju ke sebuah meja untuk mengambil menu makanan mewah. Ternyata di sana ada Leo, yang sudah menikmati makanan lebih dulu dan mungkin malah hampir selesai.
“Ck! Minggir kau, aku mau ambil makan. Kau menghalangiku saja!” hardik Stuart, menatap tajam Leo.
Ternyata perangai atasan dan bawahan sama saja, tak ada bedanya.
“Kau ini yang menggangguku. Ambil ya ambil saja tak perlu pakai acara usir-mengusir segala. Banyak jalan yang bisa kau ambil. Atau jika perlu cari ke meja lain, yang masih banyak hidangannya,” sarkas Leo menimpali.
Sedikit pun ia tak bergeser dari tempatnya. Sengaja. Ia tak ingin mengalah pada Stuart, karena pria itu jika dikasih hati dia akan mengambil jantung. Menyebalkan bukan? Mirip sekali dengan sikap Detektif Darcy.
“Ya, Tuan. sebaiknya kau ambil di meja sebelah sana saja di sini hampir habis,” terang seseorang, dengan menunjuk ke meja lain.
Terpaksa Stuart pergi, setelah ia lihat memang menu di sana hampir habis. Jika saja hanya ada dirinya dan Leo saja, maka sudah pasti dia akan menghajar Leo.
Sedangkan Detektif Carl, dia hanya minum jus jeruk saja. Rasanya perutnya sedikit mual setelah turun dari kapal. Makanya dia redam dengan jus jeruk.
“Aku harap lusa saat pulang nanti, bukan aku nahkodanya,” keluhnya, berharap.
Jujur, ia lelah mengemudikan kapal. Selain itu tak bisa menikmati waktu yang ada. Tapi ia jadi heran, kenapa bisa kakeknya dulu semangat sekali saat bekerja?
“Entahlah, mungkin sebaiknya aku istirahat saja. Pundakmu masih kaku.”
Di saat Detektif Carl meninggalkan hal tempat makan malam diadakan menuju ke tempat peristirahatan yang sudah disediakan seseorang menghentikan langkahnya.
__ADS_1
“Detektif, masih sore begini mau ke mana?”
“Oh, Tuan Alberto. Aku mau ke kamar untuk beristirahat,” ujarnya, berhenti sebentar.
“Jangan pergi dulu, Detektif. Apa kau tak ingin menikmati wine super di sini? Sayang sekali jika melewatkannya, bujuknya, mencari teman minum.
Karena saat itu yang lain masih pada makan.
“Maaf Tuan Alberto, aku tidak bisa menemanimu minum kali ini, mungkin besok,” tolaknya halus.
Sebenarnya karena sebelumnya ia sudah minum jus jeruk dan tentu saja bahaya jika ia minum wine setelahnya, karena akan jadi zat arsenic yang akan meracuni tubuhnya. Dan ia tak mau itu.
Tuan Alberto pun kecewa, melihat punggung Detektif Carl yang berlalu, masuk ke sebuah kamar.
***
Baru saja satu jam memejamkan mata di tempat tidur, Detektif Carl terpaksa bangun saat mendengar suara berisik dari luar.
Akh! Seseorang berteriak.
Prang! Tak lama setelahnya ada gelas jatuh.
“Ada apa ini sebenarnya?!”
Detektif Carl membuka mata. Tapi tempatnya berada saat ini gelap gulita.
__ADS_1