
Tuan Emmanoel Kant adalah seorang pengusaha anggur sukses di Swiss. Dia mempunyai banyak cabang di berbagai kota hingga saat ini.
Entah kenapa dia ingat pada sosok Detektif Carl, sampai mengirimi pria itu undangan segala untuk pembukaan cabang baru di Brisago Islands.
Mungkin karena dulu beberapa kali pria itu pernah membantu memecahkan kasusnya, hingga dia tak melupakannya.
“Tuan berangkat sendiri?” tanya Leo, masih duduk di sana.
Detektif Carl diam. Sebenarnya ia ingin pergi mengajak Briptu Scarlet. Tapi ia tak yakin wanitanya itu bisa pergi bersamanya. Karena selain jam tugasnya tak menentu, seringnya ada tugas mendadak ditambah jam lembur yang tak bisa dipastikan.
Dan sudah pasti dia menolaknya.
Pergi sendiri tidak enak, batin Detektif Carl. Terlebih jika pada acara santai seperti ini.
“Bagaimana jika kau ikut bersamaku saja?” tawarnya, pada Leo.
“Benarkah, tak apa jika aku ikut?”
Leo tampak riang saat Detektif Carl mengangguk. Dia memang butuh refreshing sekali atau dua kali, setidaknya untuk melepas penat selama bekerja.
Jujur saja semenjak biro agak ramai daripada sebelumnya, dia jarang memberikan hiburan untuk dirinya sendiri.
“Baiklah, bersiaplah nanti malam,” imbuh Detektif Carl.
Malam harinya tampak banyak orang berkumpul di rumah Tuan Noel. Beberapa orang pengusaha lain juga diundang ke sana, beberapa petinggi yang dekat dengan Tuan Noel dan yang lainnya.
Mungkin jika di hitung saat ini ada 50 orang yang sedang berada di sebuah dermaga.
Tempat berkumpul para tamu undangan bukan di rumah, tapi ada di dermaga sebelum mereka semua menuju ke Brisago Islands.
“Tuan Darcy, senang bertemu denganmu,” sapa seseorang dari kejauhan.
__ADS_1
Deg!
Detektif Carl meski berada di tengah keramaian pun bisa mendengar itu dengan jelas. Bahkan ia sampai menoleh ke arah sumber suara tersebut.
Sialan! Monyet itu ada di sini juga rupanya! batinnya, menggerutu kesal.
Jika saja ia tahu Detektif Darcy juga diundang di acara ini tentu saja dia akan menolaknya dengan keras. Malas berhadapan dengannya.
“Leo, kenapa kau tak cari informasi siapa saja yang diundang pada acara ini?”
“Ada apa memangnya, Tuan?”
“Lihat di sana,” Detektif Carl menunjuk dengan matanya dan segera mengalihkan pandangan. Nerd. Hanya melihatnya saja.
“Tuan tak memerintahkan itu padaku,” tandas Leo. Setelah mengetahui ada Detektif Darcy di sana.
Pria itu tak menyalahkan asistennya. Karena memang dia tak memberikan perintah itu padanya. So what? Meski ada Detektif Darcy pun dia tetap bisa menikmati acara kali ini.
Di dermaga itu telah ditata sedemikian rupa untuk acara malam ini. Ada beberapa meja dengan berbagai menu makanan dan minuman resep dan termewah, masakan dari koki ternama untuk menjamu para tamu undangan sebelum berangkat menuju ke Brisago Islands.
“Ya, Detektif Carl,” jawab Leo.
Pria itu pun kemudian berjalan mengikuti Detektif Carl yang sudah berjalan lebih dulu dan tiba di sana.
Leo mengambil segelas wine yang sama dengan Detektif Carl. Rasa wine exclusive memang berbeda dengan wine biasa. Meskipun sudah habis, rasa segarnya masih tertinggal tenggorokan.
“Setidaknya, aku makan sedikit di sini dan tak perlu makan ketika sampai di Brisago Islands nanti,” celetuk Detektif Carl, mengunyah stik daging paprika.
Beberapa saat setelahnya saat asik menikmati santapannya, terdengar suara familiar dan juga menyebalkan, menyapanya. Siapa lagi itu jika bukan Detektif Darcy.
“Oh, Carl. Kau ada di sini rupanya. Makanlah yang banyak, selagi tersedia makanan enak seperti ini. Aku tahu kau mungkin tak bisa membelinya setelah insiden yang menimpamu beberapa waktu yang lalu,” sindirnya dengan mencebik.
__ADS_1
Detektif Carl segera menaruh piring tersebut ke meja. Dia tak membalas ucapan Detektif Darcy, lalu segera pergi dari sana karena selera makannya sudah hilang. Selain itu dia tak mau cari masalah dengan pria brengsek itu.
“Hah! Rupanya kau takut padaku sekarang, ya? Takut karena kau telah kalah dariku. Banyak kalian lebih memilih diriku tinimbang dirimu,” gelaknya, kembali mencaci.
Sedari tadi Detektif Carl diam menahan amarahnya. Tapi kali ini perkataan detektif darksi benar-benar keterlaluan hingga membuat telinganya merah kebakaran.
“Apa kau bilang? Katakan sekali lagi!”
Detektif Carl berbalik dan langsung menghampiri Detektif Darcy, juga menarik kerahnya kasar. Ia sudah tak bisa mentolerir lagi perkataan pria itu.
“Memang benar yang kuucapkan. Kau pria miskin yang berlagak sok kaya.”
Detektif Darcy menarik kerahnya lalu mundur.
“Bicaralah sepuasmu dengan mulut kotormu hingga berbuih. Kau tak tahu saja, aku punya villa dan lain sebagainya yang tak kau punya. Kau yang miskin. Bahkan semua klienmu itu adalah klienku yang kau rebut. Dasar sampah perebut!”
Kali ini Detektif Darcy diam, tak bisa membalasnya. Karena benar, dia memang mengambil klien Detektif Carl di awalnya, meskipun klien yang sekarang banyak klien baru juga.
Setelah mengucapkan serapah dan makian kasar, Detektif Carl pun segera pergi. Baginya membuang waktu saja bicara dengan Detektif Darcy.
***
Satu jam setelahnya, Tuan Noel mengumumkan pada semua para undangan yang hadir untuk segera bersiap naik ke kapal ferry menuju ke Brisago Islands.
Toot! Suara kapal Ferry yang berlabuh.
“Akhirnya kita berangkat juga,” seru tamu undangan yang lain.
Mereka bersorak girang, tak sabar ingin segera tiba di sana.
Whir! Detektif Carl hanya memandang awan yang bergumpal malam ini, rasanya malam kali ini terasa penuh misteri, seperti gumpalan awan hitam yang muncul di cuaca yang cerah.
__ADS_1