
Di sudut Italia, Tuscany.
Kawasan pedesaan indah, di mana banyak terdapat perkebunan anggur. Juga terdapat Monumen Piazza del Campo.
“Oh, sungguh menyenangkan tinggal di sini. Lima hari tinggal di sini serasa tinggal satu bulan.” Seorang pria menikmati waktunya dengan duduk bersantai di depan hamparan kebun anggur.
Anggur merah dan anggur hijau terbentang luas di sana, tak ada habisnya. Seolah tempat itu memang surga dunia.
“Sayang sekali dua hari lagi aku harus kembali.” Pria itu enggan pergi dari sana.
Melihat para petani anggur yang sedang memanen anggur hijau saja rasanya tenang. Hilang semua rasa penat juga masalah pahit yang menghimpit.
Benar, pria itu adalah Darwin Hamington. Dia benar-benar menikmati waktunya di sana. Terlebih, tak ada yang mengejarnya sampai kemari.
“Mungkin mereka juga tidak tahu aku kabur kemari.” Darwin mengulas senyum tipis.
***
“Bagaimana, apakah kalian sudah mendapatkan info di mana Darwin Hemington berada?” tanya Sherif Tasman pada para anggotanya di kantor.
Para agen polisi itu tidak diam saja, dan terus mencari informasi mengenai keberadaan Darwin Hemington.
__ADS_1
“Belum, Sherif. Laporan terakhir dia berada di Milan, Italia. Namun saat kami menyisir tempat itu kami tidak menemukan keberadaan Darwin Hemington.” Seorang agen polisi melaporkan.
Sherif Tasman menghela napas berat, ia kemudian memutar bola mata dan berhenti pada ujung gagang telepon di meja. Ia kemudian menarik gagang telepon itu dengan cepat serta menekan nomor.
“Halo, agen kepolisian sektor Italia. Ini Sherif Tasman. Apakah ada kabar mengenai lokasi perbedaan terakhir warga kami, Darwin Hemington, di sana?” ujar Sherif Tasman setelah telepon tersambung.
Sherif Tasman memang meminta bantuan dari agen polisi Italia beberapa waktu yang lalu, dan sampai sekarang dia masih menunggu kabar. Karena belum ada telepon dari Italia maka dia meneleponnya lebih dulu.
“Sherif Tasman, ini kabar bagus. kami belum memberikan info pada anda karena memang target sering berpindah-pindah, jadi kami tak berani memberitahukan berita yang tidak pasti. Tapi kali ini sepertinya dia lama berada di sana,” jawab seseorang di telepon.
Agen polisi sektor wilayah Italia itu juga menjelaskan pada Sherif Tasman di mana lokasi tepatnya, Darwin Hemington berada, plus tempat menginapnya selama ini.
“Aku tugaskan kalian untuk pergi ke tempat ini sekarang juga.” Sherif Tasman menyerahkan secara ikhlas tempat dia menulis alamat yang didapatnya dari telepon tadi, pada anggotanya.
“Siap, Sherif!”
***
Beberapa jam kemudian, dua orang agen polisi tiba di Tuscany, Italia. Mereka melepas atribut polisi mereka dan mengenakan pakaian preman, seperti biasanya.
Kali ini Sherif Tasman hanya menugaskan dua orang agen polisi saja, karena percaya pada kemampuan mereka.
__ADS_1
“Bergerak sekarang, menurut alamat yang diberikan oleh Sherif Tasman, Darwin Hemington pasti ada di sini.” Seorang agen polisi tiba di lokasi tujuan.
Mereka sangat hati-hati sekali, agar tak dapat mencurigakan bagi warga sekitar ketika menyamar menjadi warga biasa.
Menurut mereka, mereka meyakini jika Darwin Hemington mungkin saja menyamarkan identitasnya selama berada di Tuscany. Bisa saja dia menyamar menjadi orang lain.
“Coba lihat orang itu, nampak mencurigakan sekali.” Seorang agen polisi menunjuk ke sebuah kebun anggur, di mana di sana nampak ramai.
Entah karena ada musim panen atau ada sesuatu yang lain, dua agen polisi kemudian bergerak ke sana. Biasanya di tempat keramaian seperti ini, target bisa ditemukan.
“Dia bukan Darwin, dia juga bukan. Yang itu ... juga bukan.” Agen polisi memeriksa satu persatu orang yang ada di sana.
Hingga akhirnya mereka menemukan satu orang yang mengenakan kostum berbeda dari warga di sana.
“Berhenti! Kau harus ikut kami!” Agen polisi benar-benar yakin pria itu berkemeja kotak itu adalah Darwin Hemington.
Darwin mengangkat kedua alisnya, melihat dua orang asing di depannya. Tepat, di saat dia menyadari. Agen polisi susah memasang borgol pada kedua tangannya.
“Tidak! Lepaskan aku! Kalian salah tangkap!” protes Darwin sembari berontak.
Satu agen polisi kemudian menarik kumis dan brewok palsu Darwin, yang membuat wajah aslinya terekspos.
__ADS_1