Super Sistem Detektif Kaya

Super Sistem Detektif Kaya
Eps. 170 Menyerahkan Data


__ADS_3

Akh! Di tengah rasa sesak yang menghimpitnya, Bella melihat seorang pria yang yang memegang tali yang menjerat lehernya.


“K-kau... K-kenapa K-kau m-melakukan i-ni p-padaku?” ucap Bella terbata-bata.


Pria misterius itu hanya mengulas seringai tipis, lalu menarik ikatan tahi tersebut lebih erat.


“Lemah sekali kau.” Ia merenggangkan tali di tangannya lalu melepaskannya dan melenggang pergi.


Sepuluh menit kemudian, Marcus barulah tiba di hutan.


Dor! Ia melepaskan tembakan ke udara.


“Bella! Keluar kau. Jangan bersembunyi di sini atau jika aku menemukanmu aku akan menembak kepalamu!” ancam Marcus.


Pria itu masih terlihat murka dan terus berjalan menyisir semak di tengah hutan untuk mencari keberadaan istri yang menurutnya bersembunyi dari dirinya.


“Bella! Awas jika aku menemukan mu.” Marcus makin menggeram setelah berjalan cukup jauh tapi belum menemukan sosok istrinya.


Tepat di saat ia memutuskan untuk kembali saja, dia melihat sesuatu tergantung di pohon dari kejauhan.


Apa itu yang tergantung di sana?


Secepat kilat Marcus berlari ke arah itu. Ia sampai memejamkan mata saat melihatnya. Bahkan kedua tungkai kakinya pun mendadak lemas tak berotot.


“Bella! Apa yang kau lakukan?” Marcus tak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Kenapa kau memilih mengakhiri hidupmu secepat ini?”

__ADS_1


Tiba-tiba saja melihat kondisi istrinya yang sudah tak bernyawa itu, pupus semua amarahnya yang tadi memuncak berganti sembilu perih yang menyayat hati.


“Bella!” Marcus histeris. Ia memeluk mayat istrinya. “Maafkan aku. Harusnya aku bicara baik-baik padamu bukan menakutimu dengan cara menekan seperti ini,” ucapnya penuh sesal.


Kesadarannya yang sempat menghilang, barulah kembali. Menyesal datang di ujung saat semuanya sudah terlambat.


“Bella!” Marcus memeluk erat mayat istrinya dengan mata berair.


***


Hari berikutnya, di Kantor Detektif Carl


“Permisi,” ucap seorang pria saat memasuki kantor.


“Oh, Ya Tuan. Silakan masuk, ada yang bisa dibantu?” Leo yang sedang menatap layar monitor di depannya, segera merotasikan pandangannya ke arah pintu.


“Ada yang bisa kami bantu, Tuan Dan Nyonya?” tanya Leo.


Wanita itu merotasikan sorot matanya, melirik pria di sampingnya. Sedangkan si pria menganggukkan kepala sembari menggenggam jemarinya erat.


“Begini, putri kami meninggal secara tidak wajar. Dia gantung diri. Tapi dia sama sekali tak punya masalah hidup. Sedangkan dari pihak kepolisian dan pihak rumah sakit menyatakan kematian putriku murni sebuah kecelakaan. Tapi kami masih merasa ada yang janggal saja dengan meninggalnya putriku. Apakah Tuan bisa membantu kami?” ujar wanita itu. Sebut saja dia Nyonya Paula.


Leo beralih menatap pria di samping Nyonya Paula. Dia tampak kalem dan tenang, tidak seperti istrinya yang saat ini sudah mengambil sapu tangan untuk mengusap sudut mata yang mulai mengembun.


“Tuan, aku membawa semua data putriku, Amy. Aku harap Tuan bisa membantu kami.” Tuan Colton menyerahkan berkas data Amy pada Leo.

__ADS_1


Leo tak langsung memutuskan untuk menangani kasus itu tapi membacanya dulu.


Ada foto Amy sebelum meninggal dan setelah meninggal, juga hasil rekam medis dari pihak rumah sakit.


“Lalu apa yang membuat Anda sangat yakin jika Nona Amy tidak bunuh diri, melainkan korban pembunuhan?” selidik Leo.


“Sehari sebelum kejadian, putri kami nampak baik-baik saja. Bahkan pagi hari sebelum kejadian, dia juga tidak nampak sedih sama sekali. Dia tak ada masalah sejauh ini. Karena kami tahu karakter putri kami seperti apa. Jika ia ada masalah, dia akan menumpahkan semua masalahnya itu pada kami.” Tuan Colton menerangkan.


“Baiklah Tuan Colton dan Nyonya Paula. Aku terima kasus ini. Mungkin beberapa jam ke depan aku akan ke rumah Anda serta ke lokasi untuk melihat keadaannya di sana secara langsung.”


“Kami sangat mengandalkanmu, Tuan.”


Setelahnya Tuan Colton dan Nyonya Paula berpamitan, Leo mempelajari kembali kasus yang barusan masuk tersebut.


Satu jam berikutnya.


Terdengar suara ketukan pintu tiga kali, yang membuat Leo yang masih berkonsentrasi dengan kasus yang barusan masuk menjeda sebentar aktivitasnya.


“Permisi, Tuan. Kami datang untuk menyerahkan berkas kasus,” ucap seorang pria yang datang bersama istrinya.


Leo berdiri menyambut kedatangan mereka, kemudian segera mempersilakan masuk.


“Kate, mana berkasnya?” pinta pria itu.


Nampak sang istri membawa berkas yang masih dipegang dengan tangan gemetar.

__ADS_1


“Ini, Tom.” Dengan tangan yang masih bergetar ia kemudian menyerahkan berkasnya.


“Tuan ini berkas putri kami. Kami sangat mempercayakan kasus ini padamu setelah pihak kepolisian dan Rumah Sakit angkat tangan dengan kasus ini. Kami yakin putri kami tidak bunuh diri, tapi dibunuh oleh seseorang,” ungkap Tuan Tom sembari menyerahkan map tersebut pada Leo.


__ADS_2