
Sherif Sharma lalu berjalan cepat hingga melewati pria dengan kedua telapak tangan terbalut perban tadi.
Puk! Secara tak sengaja, ia menyentuh baju pria tersebut saat menyejajarinya.
Itu..., batinnya melangkah pelan dan menoleh ke samping kiri.
Ia melihat telapak tangan pria itu terluka.
Apakah dia pelaku yang sebenarnya? batinnya lagi, melihat bagian telapak tangan lainnya juga terluka.
Pria dengan kedua telapak tangan terluka tadi, secara tak sengaja menoleh ke samping. Ia melihat pria berseragam polisi.
Astaga ada polisi di sini. Apa dia tidak mengetahui keberadaanku? Tidak, tahu maupun tidak, aku harus segera kabur dari sini sebelum dia menangkapku. batinnya, lalu mempercepat langkahnya tanpa bergerak mencurigakan.
Sherif Sherma yang saat itu sedang mengeluarkan ponsel, segera menghubungi akhirnya untuk kemari. Tidak mungkin ia akan menangkapnya sendirian.
“Ke mana dia?” pekiknya, setelah selesai melakukan panggilan ternyata dia sudah tak ada di depannya lagi.
“Berarti, dia memanglah pelakunya dan kabur secepat kilat dariku.” umpatnya kesal, kehilangan targetnya.
Saat akan mencarinya dua agen polisi datang dan menghampirinya.
“Cepat cari dia di sekitar sini. Kurasa dia masih ada di sini.” titah Sherif Sherma pada bawahannya.
“Siap, Sherif!”
__ADS_1
Dua agen polisi tadi kemudian bergerak cepat menyisip di antara pejalan kaki untuk mencari buronan. Tak hanya dua agen polisi saja yang datang saat itu tapi ada satu mobil patroli yang ikut datang membantu pencarian kali ini.
“Cepat menyebar!” titah seorang agen polisi.
Mereka semua berpencar dan melakukan pencarian. Namun mereka menemukan pria dengan perban di bagian telapak tangan.
“Di mana dia sebenarnya?” gumam seorang agen polisi, memeriksa semua orang.
Bahkan mereka pun sampai masuk ke sepanjang pertokoan yang ada di jalan itu.
Dari sudut jalanan yang tak diperkirakan berjalan pria dengan perban di kedua telapak tangannya.
Aku berhasil mengelabui mereka semua, agen polisi bodoh! batinnya seringnya senyum di bibirnya.
Pria itu berniat untuk mencari sarapan pagi sebelum berangkat ke kantor polisi.
“Semua tempat yang kudatangi tampak penuh. Lebih baik aku cari tempat yang sepi saja. Kasihan lambungku tak kuat kosong lama.” cicitnya, sembari mencari tempat makan yang sepi.
Dia menuju ke sebuah tempat makan yang terlihat agak sepi dibandingkan yang lain, terletak empat blok dari tempatnya berada sekarang.
Tiba-tiba di tengah jalan dia berhenti setelah berpapasan dengan seorang pria.
“Pria tadi, dia punya luka dikedua telapak tangannya. Apa dia?” gumamnya lirih.
Langsung saja ia berbalik kemudian berjalan dengan tenang seperti sebelumnya.
__ADS_1
“Ya, tak salah lagi. Itu pasti dia. mana ada kebetulan yang sama persis seperti ini? Aku beruntung kali ini.”
Setelah memastikan benar-benar bukan orang yang salah, maka Detektif Carl kembali berjalan di belakang pria tadi.
“Permisi, Tuan.”
Tepat di saat dia menjatuhkan sesuatu dan akan mengambilnya di depan pria tadi, ia mencondongkan tubuhnya.
Klik! Dengan gerakan cepat ia mengeluarkan burger dan segera memborgol satu tangan pria tadi.
“Shiit! Apa ini?!” pekik pria dengan luka di telapak tangannya, terkejut saat merasa tangannya terikat.
Tepat di saat ia menoleh untuk melihat siapa yang telah memborgolnya, Detektif Carl segera memasang borgol satunya pada pergelangan tangan kirinya.
“Kau tak bisa lari lagi saat ini.” ucapnya, karena buruannya itu kini sudah terikat dengan tangannya jadi tak akan bisa bergerak bebas, malahan dia akan bergerak sesuai dengan keinginan detektif.
Dengan menahan rasa lapar yang membuat perutnya semakin melilit-lilit, Detektif Carl hanya melempar pandangan sejenak pada pria bermata lebar dan berambut hitam di sampingnya itu.
Mungkin ini juga bukan wajah aslinya. batinnya segera berjalan.
“Siapa kau lepaskan borgol ini!” hardik pria dengan telapak tangan yang terluka.
“Ya, aku akan melepas borgolnya, tapi setelah ini. Temani aku sarapan pagi dulu.”
Detektif Carl tersenyum kecil, lalu berjalan dengan cepat menuju ke salah satu tempat makanan, karena benar-benar sudah tak tahan lagi dengan rasa perih yang semakin menjadi.
__ADS_1