Super Sistem Detektif Kaya

Super Sistem Detektif Kaya
Eps. 231 Mengawasi Louis


__ADS_3

Agen polisi tadi memasang sebuah chip perekam, sebuah chip yang akan merekam segala aktivitas Louis tanpa sepengetahuan pria itu.


Semuanya beres, batin agen polisi yang berhasil memasang kartu chip di luar kamar Darwin.


Tak hanya memasang di luar kamar Louis saja, dia juga memasang chip di mobil Louis. Bahkan dia juga memasang chip di bagian dalam rumah setelah masuk ke ruang tamu tanpa sepengetahuan pemilik penthouse.


“Telur sudah diletakkan di beberapa tempat tinggal menetaskan saja,” ujar seorang agen polisi memberikan kode melalui mikrofon.


“Kembali sekarang sebelum target melihat,”balasan dari mikrofon.


Agen polisi khusuh tadi segera keluar dari ruang tamu dan mengunci kembali pintunya, tanpa suara juga tanpa jejak.


Dia kemudian kembali melompat di pagar untuk keluar dari penthouse tersebut.


“Misi pertama kita selesai,” tutur dua agen polisi yang kini sudah sampai di mobil rekannya yang menunggu.


“Baik, kita bisa laporkan hal ini pada Sherif Tasman, segera,” ungkap seorang agen polisi menanggapi dari dalam mobil.

__ADS_1


Dua agen polisi tadi lalu segera masuk ke mobil dan bergabung dengan tiga rekan lainnya. Mobil pun meluncur setelahnya.


Klak! Tepat di saat bersamaan, Louis keluar dari rumah. Ia membuka pintu karena mendengar suara di rumah mobil melaju di depannya.


“Tak ada siapapun di luar sana.” Ia memeriksa di teras, juga berjalan sampai ke pagar, menyisir jalanan di luar.


“Mungkin hanya perasaanku saja. Tidak mungkin ada yang mengawasiku. Mungkin itu hanya kendaraan biasa saja. Ini kan jalanan umum, jadi siapa saja boleh lewat sini.”


Karena tak melihat sesuatu yang mencurigakan, Louis pun kembali masuk ke penthousenya.


***


Tugas mereka sama dengan tugas agen polisi lainnya, mencari informasi kegiatan apa saja yang dilakukan oleh target.


“Di sini saja.” Mobil kemudian berhenti tak jauh dari apartemen Louis berada.


Pagi itu Darwin masih berada di rumah dan bersiap untuk berangkat ke Universitas Sorbonne. Dia sedang menikmati foie gras, olahan hati angsa dan bebek.

__ADS_1


“Aku harus cepat. Empat puluh menit lagi kelas masuk.” Darwin menghabiskan foie dengan cepat.


Sudah menjadi kebiasaannya untuk masuk 30 menit lebih awal dari jam kuliah. Dia harus menyiapkan semuanya, jangan sampai ada yang terlewat. Hari ini dia akan mengajar empat SKS.


Agen polisi yang berada di luar apartemen masih mengawasi tempat itu dengan ketat, bahkan sampai Darwin keluar dari rumah.


Mereka memang tidak masuk atau mendekat ke rumah karena beresiko besar untuk ketahuan.


“Bergerak sekarang,” ujar seorang agen polisi pada rekan timnya yang sudah berada di sekitar rumah Darwin.


Anggota tim itu ada tiga orang. Mereka memakai baju preman seperti biasanya, untuk menyamarkan identitas mereka.


Satu orang menyamar sebagai petugas kebersihan yang membersihkan jalanan di depan apartemen Darwin.


Satu orang lagi menyamar sebagai petugas sampah yang membersihkan sampah di lingkungan sekitar Darwin.


Satu orang lainnya menyamar sebagai pengemudi motor. Dia kemudian mengemudikan motor dengan cepat ke arah Darwin dan berhenti mendadak tepat di depannya, Hanya berjarak lima senti saja.

__ADS_1


“Maaf, Tuan. Aku buru-buru,” ujarnya.


“Ya, tak apa.” Tepat sebelum Darwis berjalan, petugas sampah lewat dan menyenggol pria itu. Ia dengan cekatan menempelkan chip pada tubuh Darwin.


__ADS_2