
Sepuluh menit berselang setelahnya sebuah mobil berhenti di depan Ok Barbershop.
Klak!
Tampak pria eksentrik turun dari sana setelah pintu mobil terbuka.
Seorang barber keluar dan menyambutnya.
“Tuan Foster Bridge, selamat datang. Aku sudah menunggumu,” ucap seorang pria bertato tapi dengan logat dan gaya yang sedikit kemayu layaknya wanita.
“Ya, Steve.”
Foster Bridge lalu melelahkan lagi masuk ke salon tersebut.
Di sana sepi, hanya ada dirinya seorang. Bukan karena salon itu sepi pengunjung atau tak laku, tapi memang Steve telah mengosongkan semua jadwal untuk pengunjung salonnya sampai dua jam ke depan demi melayani Foster Bridge. Pengunjung Vip nya.
Tentu saja Foster Bridge membayarnya dengan cukup mahal, tiga kali lipat dari tarif normalnya.
“Sebelum melakukan toning, aku mau kau merapikan sedikit rambutku karena rasanya sudah agak panjang dan waktunya untuk dipotong,” ucapnya, sembari mengacak rambutnya.
“Baiklah, Tuan Foster. Aku akan mencuci dulu rambutmu,” tukas Steve.
Pria itu lalu membawa Foster Bridge untuk keramas. Bilasan air pertama membuat kulit kepalanya bersih. Bilasan kedua, tentunya setelah mengaplikasikan shampoo kedua, membuat warna rambut pria itu pudar.
Tampak setelah Foster Bridge kembali duduk, warna rambutnya kini ada beberapa bagian yang berwarna putih.
“Anda hampir telat melakukan toning, Tuan. Karena kali ini hampir saja uban Anda kelihatan,” tukas Steve, yang mulai menggunting rambut.
“Ya, kau tahu sendiri. Aku ini orang super sibuk sekali,”
__ADS_1
Steve hanya tersenyum tipis dan menggerakkan guntingnya dengan cepat sebelum memulai toning, mewarnai rambut pria itu dengan semir warna hitam.
***
Klak! Suara menutup mobil.
“Sampai jumpa, Tuan Foster. Aku tunggu kedatangan Anda lagi,” ucap Steve, pengantar pria itu sampai ke depan salon.
Foster Bridge tak menjawab dan hanya menganggukkan kepala saja. Pria dingin itu bahkan langsung menjalankan mobilnya bergegas dari sana setelah apa yang diinginkannya terwujud.
“Jika sepuluh pengunjungku seperti Tuan Foster Bridge, maka aku akan cepat kaya,” cicit Steve, memasukkan tips pemberian Foster Bridge plus pembayarannya.
Detektif Carl masih ada di sana dan terus memantau. Bahkan ia belum beranjak dari tempatnya sama sekali.
Beberapa saat kemudian datanglah pengunjung salon tersebut. Kali ini sudah tampak normal, ada tiga sampai empat pengunjung yang datang ke sana.
“Saatnya aku keluar,” gumam Detektif Carl. Melihat timing yang tepat.
Detektif Carl keluar dari mobil lalu berjalan menuju ke tong sampah tempat, Steve membuang rambut Foster Bridge tadi.
Langsung saja ia buka tong sampah tersebut, untuk mengambil rambut Foster Bridge.
Jadi rambutnya memang aslinya sudah beruban dan dia menutupi ubannya itu dengan rutin toning, sampai me-booking salon ini agar tak ada yang mengetahuinya? batinnya, melihat banyak uban di tong sampah.
Detektif Carl mengambil beberapa helai rambut putih tersebut dan setelah kembali ke mobilnya setelah menyimpannya di tempat yang aman.
“Foster Bridge. Aku akan memberikan hadiah balasan untukmu. Semoga kau menyukainya nanti,” gumamnya tersenyum dengan seringainya yang mengerikan.
Sepertinya Foster Bridge sudah salah bermain hingga membangunkan singa yang tertidur. Dan sekarang saatnya singa itu bangun dan balas mencakarnya.
__ADS_1
***
“Detektif, apa yang Anda lakukan?” tanya Leo di kantor, setelah pria itu kembali.
Detektif Carl, tampak membawa barang-barang dan peralatan keluar dari mobil yang sekarang di rakitnya.
“Aku sedang merakit bom, apa kau tak lihat? Bantu aku.” titahnya, tegas juga serius.
Leo sampai mengerutkan keningnya.
“Untuk siapa, Detektif?”
“Tentu saja untuk orang yang sudah memberikan hadiah berupa bom padaku terlebih dulu,” tandasnya cepat.
Leo hanya diam saja. Ia pun ikut membantu merakit bom agar cepat selesai.
“Setelah ini selesai, tugasmu mengirimkan paket ini untuknya,” desis Detektif Carl, dengan tersenyum lebar.
***
Leo sudah terlihat rapi jali. Dia menyulap penampilannya dan merubahnya menjadi sosok kurir Express dengan pakaian hitam dan topi hitam, yang tak lupa ia pakai.
Terakhir dia menambahkan kumis tipis di bibirnya untuk membuat penyamarannya lebih terlihat sempurna lagi.
“Paket!” serunya, di depan pagar rumah Foster Bridge. Membawa kue berisi bom untuk pria itu.
****
Kak semua mampir ke sini juga ya💕
__ADS_1