Super Sistem Detektif Kaya

Super Sistem Detektif Kaya
Eps. 80 Perintah Mencari Sindikat


__ADS_3

Klien yang sedang duduk di depan Leo sedang membeberkan semua masalahnya pada pria itu.


Leo mendengarkan dengan seksama dan sesekali mengangguk, menjadi pendengar yang baik.


“Baiklah, kurasa semua sudah aku ceritakan padamu, tuan. Aku harap masalah ini segera diselidiki. Dan aku sangat berharap sekali masalah ini tak berlarut-larut.” ucap klien itu mengakhiri penjelasannya.


“Baik, Tuan Anthony. Kami akan menyelesaikan kasus ini secepatnya, serta mengungkap siapa pencuri brankas pribadi Anda.” tutur Leo, dengan tegas dan mantap.


“Terimakasih, Tuan,” balas pria itu, kemudian keluar dari kantor detektif.


“Aku seperti mendengar suara seseorang bicara?” gumam Detektif Carl, membuka mata lalu duduk.


Karena merasa waktu tidurnya sudah cukup, maka pria itu pun kemudian keluar dari ruangan.


“Leo, barusan aku seperti mendengar suara seseorang di sini,” ucap Detektif Carl, menatap kursi depan yang kosong.


Hanya ada Leo seorang di sana.


“Oh, Detektif Carl. Anda sudah bangun,” jawab Leo, lalu menoleh ke belakang.


Detektif Carl lalu duduk di depan dan menatap sebuah berkas yang ada di meja. Jika ada berkas di sana berarti ada klien baru yang datang, pasti itu.


“Siapa klien yang datang barusan?”


“Tuan Anthony, Detektif. Dan ini berkasnya.” Leo menyodorkan berkas dalam map berwarna jingga itu ada atasannya.

__ADS_1


Detektif Carl menerima berkas tersebut. Ia lantas membuka dan membacanya, namun hanya sekilas. Setelah mengerti garis besar masalahnya, ia menaruh kembali berkas itu ke meja.


“Berkas ini untukmu.” Ia menggeser berkas itu mendekat pada Leo.


Leo sampai menyipitkan biji matanya, mendengar itu.


“Ya, agen kepolisian sektor minta tolong padaku untuk membantu mereka menangani masalah pembunuhan berantai yang belum di temukan titik terangnya juga, sudah dua pekan lewat. Jadi kasus itu untukmu.” jelas Detektif Carl.


Bukan tanpa alasan ia melepas kasusnya begitu saja pada asistennya itu, tapi selama ini setelah beberapa kasus ia serahkan pada Leo, ternyata masalah itu beres. Menurutnya sudah saatnya dia membuat Leo terjun ke lapangan karena sudah 5 tahun lebih ikut dengan dirinya.


“Baik, detektif.” Leo mana tempat senang karena atasannya itu percaya pada dirinya.


Sementara di Kantor Kepolisian Sektor A, Sherif Sherma kembali memanggil semua bawahannya. Mereka melakukan meeting, membahas masalah pembunuh berantai yang baru saja mendapatkan sedikit petunjuk.


“Bagaimana rencana kita selanjutnya, Sherif Sherma?” tanya salah seorang agen kepolisian, yang merupakan tim dalam kasus tersebut.


Memang praktek di lapangan lebih sulit daripada semua yang di ucapkan oleh ketua mereka yang tahu beres saja. Tak peduli mereka bekerja 13 jam, kadang 15 jam mencari petunjuk meskipun masih nihil.


“Sherif, jika pelakunya merupakan pencuri organ. Maka bisa dipastikan pelaku masuk jaringan human trafficking net. Atau bisa jadi pelaku bekerja untuk penjual gelap organ.” ucap Briptu Scarlet menimpali, di saat yang lain tak berani mengemukakan pendapat mereka, meskipun jelas sudah paham akan hal itu.


“Jika begitu, kalian periksa semua sindikat human trafficking net yang ada disini. Pasti pelakunya masuk ke jaringan itu.” titah Sherif Sherma, tegas.


Membuat agen kepolisian lainnya yang tidak di sana tertunduk diam. Mereka sempat menatap ke arah Briptu Scarlet. Namun wanita itu pura-pura tak melihatnya.


“Kenapa diam saja, apa kalian semua mengerti?” ucap Sherif, karena mereka semua diam menunduk.

__ADS_1


“Siap, mengerti Sherif!” jawab mereka semua serempak meski dalam hati, mereka semua mengumpat.


Urusan mereka sudah banyak dengan kasus pelanggaran kecil lainnya, kini harus mencari sindikat perdangangan manusia yang tentu saja akan sangat menyita waktu mereka.


“Jika begitu, kalian bergerak sekarang.” titah Sherif Sherma.


Para agen kepolisian, menarik kursi mereka kemudian berdiri dengan lemas. Baru saja beberapa jam mereka kembali setelah melakukan autopsi. Kini sudah ditugaskan kembali.


Aku lelah sekali. Batin para agen kepolisian tersebut.


Itulah yang mereka benci dari Sherif Sherma, terlalu disiplin kelewat batas yang menyengsarakan mereka saja. Namun mereka tak berani mengumpat ataupun menghujat dan hanya bisa mengikuti perintahnya saja.


20 menit setelah ntar agen polisi tadi keluar seseorang membuka pintu kantor.


“Detektif Carl....” ucap Sherif Sherma, melihat pria itu masuk saat dirinya akan kembali ke ruangannya.


Pria itu kemudian duduk, tanpa dipersilahkan karena sudah terbiasa ke sana, seperti rumah keduanya.


“Bagaimana Sherif Sherma, apa ada petunjuk lagi mengenai kasus pembunuhan berantai ini?”


“Benar yang kau ucapkan sebelumnya jika semua korban organ hatinya hilang.”


Detektif Carl hanya bisa menarik nafas panjang mendengarnya.


***

__ADS_1


Terimaksih untuk akun kk Afrizal aal dan kak Niel Naru yang sudah memberi tips koin. Semoga berkah dan rejeki kk semakin berlimpah.


__ADS_2