
Octo membuang harimau yang tadi didapatnya begitu saja. Dia kemudian mengambil kijang, buruan yang lebih kecil dan ringan untuk dibawa.
“Sepertinya sudah ada yang mendapatkan beruang. Tapi belum ada lima tembakan beruntun di udara, jadi belum ada yang berhasil membawa beruang ke perangkap,” desisnya.
Aturan dalam perburuan ini jika ada seseorang yang menembakkan lima kali tembakan beruntun di udara itu sebagai pertanda jika orang tersebut lah yang sudah menyelesaikan misi sekaligus memenangkannya.
“Mudah saja bagiku menangkap beruang.” Octo kembali berjalan.
Tepat di saat dia hampir sampai di arah Detektif Carl berada, Detektif Carl menyelipkan dirinya di tengah rerimbunan pohon agar tidak terlihat oleh Octo.
“Seoertinya aman. Dia sudah pergi sekarang.” Lima menit kemudian barulah Detektif Carl keluar dari persembunyiannya.
Ia mengikuti Octo dari kejauhan dengan ekstra hati-hati agar tidak ketahuan.
“Suara berisik apa di belakang sana?” Octo berhenti dan segera Mengayunkan senapan laras panjangnya.
Dor! Suara lesatan peluru itu membuat Detektif Carl ikut menghentikan langkahnya.
“Ada apa di depan sana?” pekik Detektif Carl, kemudian mundur. Khawatir jika Octo mengetahui keberadaan dirinya.
Ternyata meskipun mengikuti si merah dari belakang tetap saja rasanya tak aman seperti ini.
__ADS_1
Detektif Carl menunggu, Octo datang, nyatanya dia tidak mendengar suara terhadap langkah kaki menuju ke arahnya. Tapi mendengar sebuah suara berdebum ke tanah.
Ternyata Octo menembak ular. Ck, hampir saja aku ketahuan, batin Detektif Carl mengintip dari balik sama dan melihat seekor ular besar ambruk di sana.
Sedangkan Octo yang berada lima meter dari tempat ular itu terjatuh hanya meliriknya saja.
“Hanya seekor ular saja, tak berguna bagiku.” Ia kembali melangkahkan kaki mencari buruan.
Baru melangkah tiga langkah kaki, Octo kembali melesatkan peluru ke udara.
Dor! Kai ini ada seekor hyena. Dan pria itu menembak tepat di saat hyena itu akan melompat ke arahnya.
“Aneh sekali, kenapa hari ini banyak binatang yang mengikutiku? Apa ada sesuatu di tubuhku?”
“Tak ada apapun di tubuhku.” Ia sudah memeriksa dari bagian ujung kaki sampai kepala namun tak menemukan sesuatu yang aneh.
Tak puas setelah memeriksa, ia pun mencium bagian tangannya untuk apakah ada zat kimia yang melekat di tubuhnya sehingga mengundang banyak binatang.
“Ternyata tak ada apapun di sini. Mungkin hanya kecurigaanku saja.”
Setelah tidak menemukan aroma yang mencurigakan pada tubuhnya, Octo kemudian kembali melangkahkan kakinya.
__ADS_1
Di depan sana ada suara langkah kaki berat disertai desisan. Octo yang sudah terbiasa berburu bisa menebak binatang apa yang ada di depannya saat ini.
Tanpa perlu menyingkap rerimbunan yang menjadi sekat dan menutupi dirinya dengan binatang itu, Octo segera mengayunkan senapan laras panjangnya.
Dor-dor! Tak hanya satu peluru yang melesat, tapi dua selongsong peluru sekaligus menembus rerimbunan semak.
Groar! Terdengar erangan setelahnya.
Octo bukannya lari menjauh dia malah berlari mendekat ke sumber suara erangan tersebut.
Seekor beruang hitam dengan tinggi dua meter lebih menatap Octo dengan mata merahnya. Bahu kirinya terluka, terkena tembakan barusan darinya. Namun itu tak berarti sama sekali bagi beruang tadi.
“Sepertinya aku akan menang lebih dulu kali ini. Tinggal menyeretnya ke perangkap,” ujar Octo.
Aturan perburuan kali ini jika sudah mendapatkan beruang maka harus menyeretnya sampai ke perangkap sampai beruang itu tergantung di sana, baru dinyatakan menang. Tak peduli apa kondisinya, masih hidupkah atau sudah mati.
Kali ini Octo tak menembaki beruang itu lagi, dia malah berjalan dengan santai, maju ke depan seolah membiarkan beruang itu mengikutinya. Dia bahkan tidak berlari saat beruang itu sudah berada tepat di belakangnya.
Pria gila macam apa dia? Harusnya tinggal tembak saja, bodoh. Beruang mati tinggal seret saja ke perangkap. Dia malah mengumpankan dirinya, decak Detektif Carl dalam hati, mengintip dari balik semak.
Groar! Ada seekor beruang lagi keluar dari sisi timur Octo dan mendekatinya.
__ADS_1
“Apakah dia beruang milik yang lainnya yang lepas dan lari kemari?” pikir Octo.
Ia malah mengulas senyum seringai lebar tatkala dua beruang itu kini mengepungnya.