
Detektif Carl mengendarai mobil putih Roll Roycenya bersama Scarlet melewati jalan. Serasa jalan kali ini hanyalah miliknya saja dan lainnya menumpang.
“Carl, aku merasa sesak. Udara ada di sini pengab,” ujar Scarlet tiba-tiba.
Padahal hal itu sebenarnya disebabkan karena memang mobilnya masih baru sehingga aroma barang baru masih lekat tercium dan belum menguap.
“Kau merasa pengab? Baiklah, aku akan membuatmu merasa sedikit lebih segar.”
Detektif Carl yang menatap Scarlet kemudian kembali menatap ke depan, tepatnya pada beberapa tombol di sana.
Klik! Detektif Carl menekan sebuah tombol dan segera setelahnya bagian atas mobil terbuka.
“Astaga, Carl! Udaranya benar-benar terasa sejuk.” Scarlet sampai berdiri dan membiarkan rambut panjangnya tergerai lalu terjaring oleh angin.
Scarlet benar-benar tak menyangka, jika kekasihnya itu bisa membeli mobil mewah. Padahal seperti yang ia tahu, Detektif Carl kliennya tidak sebanyak dulu. Namun ia tak ambil pusing dari mana pria itu bisa mendapatkan banyak uang untuk membeli mobil mewah tersebut.
Setelah memutari jalan sampai ke ujung dan bensin hampir habis, mereka pun berhenti di sebuah restoran yang ada di dekat pom bensin.
“Kau tunggu dulu di sini dan pesan makanan. Aku akan isi bahan bakar dulu di samping.” ucap detektif Carl menekan sebuah tombol dan pintu secara otomatis terbuka.
“Kau mau pesan apa?”
“Apa saja yang kau pesankan untukku akan kumakan.”
Scarlet kemudian turun dari mobil dan masuk ke rumah makan sendirian. Sementara Detektif Carl segera masuk ke pom bensin yang terletak 20 meter di samping restoran tadi.
__ADS_1
“Kukira tak perlu mengantri,” desaunya lemas melihat antrian agak panjang.
Di luar restoran ada sebuah mobil merah meluncur.
“Itu, aku seperti melihat sosok Briptu Scarlet?” gumamnya, Karena penasaran ia pun memarkirkan mobilnya.
“Si batu Carl tak ada disini,” gumamnya lagi setelah melihat tak ada mobil biru butut di sana. “Ini kesempatanku.”
“Carl?” panggil Scarlet mengira yang datang dan berhenti di belakangnya adalah kekasihnya, “Darcy?” pekiknya terkejut, ternyata yang datang bukan Detektif Carl.
Senyumnya yang terkembang kini menguncup kembali melihat Detektif Darcy.
Sejujurnya, wanita itu tidak begitu menyukai Detektif Darcy. Bukan karena Detektif Carl tidak suka pada pria itu, melainkan pria itu begitu menyebalkan.
Detektif Darcy selalu memaksa agen Kepolisian untuk memberikan data yang bersifat informasi padanya dengan memberikan sejumlah uang sebagai pelicin, dan itu sangat bertentangan dengan prinsip Briptu Scarlet yang menjunjung tinggi kode etik agen kepolisian.
Belumlah wanita itu menjawab, Detektif Darcy segera duduk manis di sampingnya.
Cih, pria ini. Kenapa bisa dia ada sini? Batin Briptu Scarlet, lalu menggeser duduknya menjauh.
“Kau sendirian ke sini?” tanyanya antusias.
Detektif Darcy sebelumnya memang pernah menaruh simpatik pada wanita itu karena performa kerjanya yang bagus. Namun lambat bangun rasa simpati itu berubah menjadi rasa suka.
Sayangnya, ia sudah keduluan dan kecolongan hingga Detektif Carl yang menjadi kekasih Briptu Scarlet. Namun demikian pria itu tak pernah mengakui dirinya sebagai pecundang.
__ADS_1
“Tidak,” jawabnya menghemat kata untuk menghemat tenaga.
“Briptu, aku barusan menyelesaikan kasus 5 klien dalam dua hari ini. Berbeda dengan seseorang yang hanya bisa dihitung dengan jari saja kliennya,” celetuknya menyindir seseorang, dan wanita itu langsung tahu siapa yang disindir oleh pria itu.
Briptu Scarlet diam, tak merespon.
Namun tidak dengan Detektif Darcy yang terus mengoceh sana-sini. Bahkan dia memamerkan kemampuannya lebih mumpuni daripada Detektif Carl.
Ck! Batin wanita itu seolah ingin menutup saja mulutnya Detektif Darcy yang berbuih. Carl cepatlah datang. Kenapa kau lama sekali hanya isi bensin saja.
“Akhirnya aku keluar juga dari pom bensin ini.” lirih Detektif Carl, segera menginjak gasnya, setelah keluar dari 10 antrian mobil.
Ia pun segera kembali ke restoran di samping pom bensin. Manik matanya tiba-tiba terkunci pada sebuah mobil merah yang terparkir di depan restoran.
“Darcy?!”
Ia hafal di luar kepala, mobil rival abadinya itu. Bahkan saking bencinya Ia pun sampai menghafal nomor plat mobil Detektif Darcy.
Apa yang dia lakukan di dalam sana? batinnya.
Detektif Carl meremat tangannya lalu masuk ke dalam. Tak sabar ingin menendang rivalnya.
“Darcy!!!” hardiknya tegas dan lantang. Sampai-sampai pengunjung restoran yang lainnya ikut menatap ke arah Detektif Carl.
***
__ADS_1
Tak ada yang minta update, tak ada yang kasih komen. Lemas. Nulis dapatnya receh juga.