
Detektif Carl masih berdiri di sana dan mematung menatap pintu yang sudah tertutup.
Entah kenapa ia tiba-tiba ada feeling untuk tetap berada di sana untuk bicara pada Foster Bridge.
“Aku harus segera bergerak tak mungkin berlama-lama di sini, bagaimana ya?” gumamnya, berpikir mencari ide.
Ia pun seperti mendapat pencerahan dan segera mengeluarkan ponsel dari balik saku bajunya. Tak lama kemudian pria itu menekan sebuah nomor.
Kring!
“Siapa yang meneleponku?” decak Briptu Scarlet, di tengah-tengah kesibukannya saat mengerjakan sebuah file.
Ternyata Detektif Carl yang meneleponnya.
“Ada apa dia meneleponku?”
Briptu Scarlet lalu segera mengangkatnya, “Ya Carl ada apa?”
“Ada sesuatu yang penting. Aku ingin minta tolong padamu. Tutup pintu mu dulu,” pintanya.
Karena sepertinya serius, maka Briptu Scarlet segera menutup pintunya. Mungkin saja sifatnya rahasia yang ingin dibicarakan.
“Sudah, sekarang bicaralah,” pintanya lalu duduk kembali di kursinya.
“Begini. Di sana ada Foster Bridge, bukan? Dia sudah bukan lagi agen polisi, tapi kenapa ke sini?”
__ADS_1
Briptu Scarlet kemudian menjelaskan jika memang pria itu sering datang ke sana. Sekedar untuk bicara dengan rekan-rekan seangkatannya dulu. Terkadang juga minta bantuan pada mereka untuk membantu pengamanan di perusahaannya.
“Satu lagi, ini terkait dengan kasusku saat ini. Dia menjadi salah satu orang yang teridentifikasi sebagai pelaku pembunuhan. Aku ingin minta tolong padamu carikan aktivitas terakhirnya sebulan ini, termasuk siapa saja wanitanya.”
Tak hanya itu saja, bahkan Detektif Carl juga menceritakan kronologis kejadian perkaranya pada Briptu Scarlet.
“Ya, baiklah. Aku akan membatumu,” timpal Briptu Scarlet lalu mematikan sambungan telepon.
“Masa iya seorang Foster Bridge menjadi tersangka pelaku pembunuhan?” lirihnya tak percaya.
Namun meskipun begitu tetap saja, Briptu Scarlet carikan informasi untuk lelakinya.
Detektif Carl percaya pada Briptu Scarlet. Ia pun segera masuk ke mobil. Dia berpikir dan memutuskan siapa yang akan dia temui terlebih dulu.
Ia berniat menemui 5 orang pria teman Sarah Michelin.
Mobil kemudian melaju ke sebuah kantor. Kebetulan sekali di tempat parkir dia melihat mobil Dale Fox baru masuk saja masuk. Jadi dia menunggunya.
“Oh, Detektif Carl, ada apa kemari?” ucapnya langsung, saat pria itu menghampirinya.
Karena sosok Detektif Carl yang terkenal membaca langsung mengenali pria itu hanya dengan sekali lihat saja.
“Begini, Tuan Dale Fox. Aku kemari hanya ingin bicara sedikit denganmu terkait masalah meninggalnya Sarah Michelin,” balasnya berbisik. Karena saat itu juga ada beberapa staff lain yang keluar masuk area parkir.
Tentu tak etis jika yang lain sampai tahu dia melakukan investigasi.
__ADS_1
Dale Fox mengerutkan keningnya. Jika Detektif Carl sampai turun tangan, berarti kematian Sarah bukanlah bunuh diri tapi kasus pembunuhan. Celakanya lagi pria di depannya itu mencurigai dirinya.
“Aku sama sekali tak ada hubungannya dengan kematian Sarah,” bantahnya tegas.
“Jangan salah paham dulu, Tuan. Aku hanya meminta kesaksianmu saja,” desak Detektif Carl.
Dale Foster, lelaki berusia 35 tahun itu diam sejenak. Ia menundukkan kepalanya. Ia masih benar-benar terpukul atas kematian Sarah, tapi harus bersaksi dan bisa jadi dia di jadikan salah satu tersangkanya. Begitu analisanya.
“Rambutnya beberapa ada yang putih?!” pekik Detektif Carl dalam hati, tak sengaja melihat beberapa helai uban yang mulai tumbuh.
Entah kenapa uban itu bisa tumbuh di usianya yang masih tergolong muda. mungkin saja pikirannya terlalu berat hingga membuat beberapa rambutnya memutih.
“Baiklah, kita cari tempat yang nyaman untuk bicara,” ucap Dale Fox pada akhirnya.
Ia bersedia menjadi saksi, karena semuanya demi Sarah Michelin. Jika memang dia dibunuh, maka ia ingin lagunya segera ditangkap. Selain itu hanya dengan ini dia sedikitnya akan membuat Sarah tersenyum padanya dari surga sana.
Dale Fox akhirnya masuk ke kantor. Dia mengajak Detektif Carl untuk masuk ke sebuah ruang tamu dan menutupnya.
“Maaf sebelumya Tuan, aku melihat dari riwayat panggilan telepon pada ponsel Sarah, terlihat kalian berdua sering berhubungan lewat telepon. Apa kalian berdua menjalin sebuah hubungan?”
Dale Foster terbelalak seketika dengan pertanyaan barusan. Matanya tempat tidak tenang, juga bergetar.
“Aku hanya teman dekatnya Sarah, bukan kekasihnya,” timpalnya dengan hati yang miris.
Bagaimana tidak miris jika memang dia menjalani hubungan yang tidak jelas dengan Sarah.
__ADS_1
Ia tahu wanita itu sudah punya kekasih, Lexy. Tapi di belakang Lexy, Dale Fox yang memang mencintai Sarah pernah menjebaknya hingga membuatnya hamil. Dan berharap dengan adanya benih darinya di rahim Sarah, ia akan mendapatkan cintanya.