
“Tidak mungkin ini pembunuhan.” Seorang tamu undangan langsung menimpali.
“Tuan Hitte?” Detektif Darcy, kemudian mengangkat kepalanya menatap pria tersebut. “Kenapa Anda bilang begitu, bisa jelaskan padaku?” imbuhnya, dengan mata berkilat-kilat.
Ia tak suka ada orang sipil yang tidak tahu apapun tentang kasus pembunuhan seperti ini menyangkalnya. Dan pada kesempatan ini ia ingin menunjukkan pada semuanya jika dugaan pria itu salah.
Saat itu banyak orang masih berkerumun di kamar Tuan Curtis. Dengan adanya pernyataan dari Tuan Hitte barusan, membuat pikiran yang lain ikut terprovokasi.
“Beberapa waktu yang lalu, aku melihat Tuan Curtis meminum sebuah obat. Itu menandakan jika dia sakit, bukan?”
Entah apa maksud Tuan Hitte menyangkal, untuk menunjukkan argumennya benar? Atau memang murni tak ada niat apapun? Siapa yang tahu?!
Detektif Darcy yang memang sebenarnya temperamen seketika geram dibuatnya. Sudah jelas ini kasus pembunuhan bukan karena sakit.
Dasar! Orang awam ini tidak tahu tapi masih berlagak sok tahu. Mau melawanku, hah?
“Tuan Hitte biar ku jelaskan padamu. Tadi pagi saat ke kebun anggur aku sempat bicara dengan Tuan Curtis. Dia memang terlihat pucat. Awalnya aku juga mengira demikian. Tapi setelah kuselidiki, itu sudah merupakan indikasi awal korban terpapar sesuatu yang yang sudah disiapkan oleh pelaku pembunuhan,” paparnya panjang lebar.
Tuan Hitte pun seketika diam tak berani bicara lagi. Mungkin memang salah beradu argumen dengan seorang detektif.
“Ini! Jika kalian tak percaya padaku kalau ini adalah kasus pembunuhan.” Detektif Darcy menunjukkan cari kertas yang di genggam erat oleh Tuan Curtis.
Pada secarik kertas itu memang ada sebuah pesan yang ditinggalkan oleh Tuan Curtis. Namun pesannya berupa kode yang tentu saja harus dipecahkan terlebih dulu, apa maksud kode tersebut. Dan mungkin saja itu menunjukkan pelaku pembunuhnya.
“Apa isi dari pesan itu, Detektif?”
“Aku tak bisa menjawabnya sekarang dan akan mencari tahunya terlebih dulu.” Detektif Darcy lalu menyimpan pesan tersebut.
Demi keamanan dan mencegah pelaku yang sebenarnya mengambil barang bukti atau lainnya, maka Detektif Darcy meminta semua yang ada di kamar saat itu untuk keluar.
__ADS_1
“Kenapa acara holidays ini yang seharusnya menyenangkan jadi berubah menyeramkan seperti ini?” celetuk tamu undangan, merasa merinding.
“Aku juga tidak tahu. Dari awal keberangkatan sudah ada masalah. Semoga saja pelakunya segera ditemukan.”
***
Di sebuah kamar, terlihat Tuan Noel sedang duduk sembari memegang kepalanya yang terasa berdenyut.
“Kenapa acara ini berubah menjadi seperti ini? Pasti para tamu undangan mengeluh. Semuanya tidak sesuai dengan prediksiku di awal. Aku bisa malu karena hal ini. Lagian siapa pula yang membunuh di acaraku seperti ini? Dan kenapa tidak nanti saja setelah selesai dari acara ini?” desaunya protes, tapi tak sanggup melakukan apapun.
Di saat Tuan Noel tertunda dari luar kamar ada sepasang mata yang mengawasinya.
Dua jam setelahnya
Detektif Carl tampak tenang, di saat yang lainnya sedang bingung, gelisah ataupun takut. Pria itu malah menghirup udara bebas di luar villa.
“Detektif, kenapa tidak ikut memeriksa kasus ini?” tanya Leo, spontan.
“Buat apa? Kan sudah ada si brengsek Darcy yang haus pamor dan harta. Biar diambil dia sepenuhnya, kecuali...” Detektif Carl tak meneruskan perkataannya karena itu tak penting sama sekali baginya.
Dia lebih mengutamakan misi dari sistem. Kecuali jika misi ini merupakan misi dari sistem, barulah dia akan bergerak.
“Kecuali apa, Detektif Carl?”
“Kecuali si brengsek itu tak mampu mengatasinya,” kekehnya, lalu membuang pandangan.
Lain di hati lain di bibir. Detektif Carl bisa bilang begitu padahal sebenarnya dalam hatinya dia gemas, melihat kasus di depan matanya seperti ini. Apalagi masih fresh, begini. Ingin rasanya dia segera mengungkap pelakunya saja. Secepat mungkin.
“Leo, mereka siapa?” Detektif Carl melihat di luar villa ada sebuah mobil berhenti.
__ADS_1
Ada beberapa orang turun dari mobil, mengeluarkan sebuah peralatan.
“Aku tidak tahu, mungkin itu pekerja konstruksi,” Jawab Leo, melihat beberapa alat yang dikeluarkan.
“Jalanan di depan villa sepertinya tidak ada yang rusak. Lalu kenapa ada petugas konstruksi kemari?” gumam Detektif Carl merasa aneh.
Seingatnya memang jalanan di sekitar Villa mulus dan halus. Meskipun sebelumnya diberitahukan jika ada perbaikan jalan, tapi yang di maksud bukan area sini. Ia bisa ingat dengan jelas, apa yang diberitahukan sebelumnya oleh Tuan Noel.
“Tunggu, Detektif! Anda mau ke mana?” panggil Leo, karena Detektif Carl sudah berlari keluar villa.
Ya, pria itu kini sudah ada di dekat mobil tadi.
Tiga petugas konstruksi turun mengulur kabel panjang.
“Permisi, apa ada masalah di tempat ini?” tanya Detektif Carl, mendekati salah satu petugas.
“Listrik di sini padam dua hari ini dan kami mau memeriksanya.”
Detektif Carl mengerutkan keningnya, bukankah insiden lampu padam itu sudah teratasi dan lampu terus menyala sampai saat ini?
Jadi listrik yang ada di wilayah ini sampai saat ini adalah daya dari jenset?
“Tuan, coba periksa instalasi di belakang sana.” ucap seseorang menghampiri petugas.
“Tuan Dawn?!” panggilnya, terpekik.
Detektif Carl, tak menyangka saja ada pria itu di sini. Bahkan, amati pria itu sepertinya mengenal salah satu petugas konstruksi dilihat dari kedekatan mereka.
Apa yang mereka bahas? Kenapa sampai harus berpindah tempat di area yang sepi? batin Detektif Carl, mengamati.
__ADS_1