
Briptu Scarlet tiba di rumah sakit dan tetap mendapatkan perawatan intensif. Sedangkan Chocho sedari tadi masih menangis saja.
“Aku takut... takut...” Hanya itu kalimat yang terus di ucapkan gadis kecil itu.
Padahal pihak kepolisian ingin meminta keterangan padanya. Jadinya mereka memilih menunggu kondisi Choco tenang terlebih dulu.
Detektif Carl masih menunggu di rumah sakit. Dia duduk di samping Briptu Scarlet. Sudah dua jam lamanya dia menunggu, tapi wanitanya itu belum sadarkan diri juga.
Dokter mengatakan jika terdapat cairan laparasol, zat berbahaya di tubuh Briptu Scarlet. Zat berupa racun yang bisa melemahkan syaraf.
“Scarlet, buka matamu. Aku akan membalas perbuatan pria yang telah membuatmu jadi begini. Aku akan menyuntikkan padanya zat serupa atau zat yang lebih parah lagi padanya nanti.”
Detektif Carl menggenggam erat tangan wanitanya itu dan juga medaratkan ciuman di kening Briptu Scarlet, namun wanita itu masih belum sadarkan diri juga.
__ADS_1
***
Detektif Carl yang marah dan tak sabar dengan hasil penyelidikannya, terbang ke Perancis. Dia menemui Sherif Tasman lagi untuk mengkonfirmasi hal tersebut.
“Sherif Tasman, aku ingin menangkap sendiri pria itu. Aku yakin Louis Sanderman adalah pelakunya. Aku akan menangkapnya dan membalasnya karena melukai tunanganku,” ungkap Detektif Carl dengan berapi-api.
Ia benar-benar marah karena pria itu sudah melukai Briptu Scarlet yang masih belum sadarkan diri hingga saat ini dan masih terbaring di rumah sakit untuk menjalani perawatan dan pembersihan zat laparasol di tubuh.
Sherif Tasman pun menunjukkan rekaman pada Detektif Carl agar pria itu bisa melihatnya sendiri.
“Pasti ada kesalahan, aku yakin Louis Sanderman ini pasti memanipulasi waktu. Dia artis, Mudah Saja baginya pergi kemanapun tanpa sepengetahuan siapapun, bukan?” tandas Detektif Carl.
Membuat Sherif Tasman berpikir dan mulai ragu dengan rekamannya ia lihat barusan. Apa sebenarnya diucapkan oleh rekannya itu? Sedangkan dari rekaman menunjukkan Louis Sanderman sedang berada di studio film saat kejadian berlangsung. Dan di studio film itu dia tak punya rekaman CCTV, sehingga bisa menjadi celah.
__ADS_1
“Apa kau sudah menyelidikinya di studio filmnya? Apa dia benar-benar ada di sana? Atau kau sudah menyelidiki Airport? Mengecek penerbangan pada hari itu?”
Sherif Tasman diam saja. Karena dia memang belum menyelidiki sampai sejauh itu dikarenakan banyaknya kasus yang masuk. Sebenarnya memang dia butuh asisten lebih banyak lagi untuk membantu kinerjanya. Namun dari sektor pusat memberikan wewenang kepadanya untuk menambah jumlah agen polisi untuk membantu kinerjanya.
“Lalu apakah kasus pengeboman di pesawat Canary Airlines, kau sudah menetapkan tersangkanya?”
Kembali Sherif Tasman diam seribu bahasa. Dia belum menetapkan tersangkanya karena belum cukupnya bukti yang kuat untuk menangkap tersangka. Dan jujur saja, kasus itu masuk dalam daftar antrian tunggu setelah kasus besar lainnya.
“Apa kau bersedia membantuku menangani kasus ini? Dengan senang hati bila kau membentuk aku akan mengerjakan kasus lainnya.” Sherif Tasman menunjukkan setumpuk kasus yang masuk dalam seminggu terakhir ini cukup banyak dan membuatnya kewalahan.
“Aku dengan senang hati akan membantumu memecahkan kasus ini. Dengan syarat, aku boleh bermain-main sebentar dengan pelakunya sebelum menyerahkannya padamu.”
“Oke, dealt.”
__ADS_1