
“Darcy! Jaga ucapanmu! Mungkin aku mempunyai hoki yang besar seperti kucing yang bernyawa 9. Kau memang pecundang brengsek! Semua klienku sudah kau ambil, sekarang kau juga mau mengambil wanitaku! Bisamu hanya merebut saja. Apa kau bisa mencari sendiri segala sesuatunya?!” hardik Detektif Darcy.
Kali ini amarahnya benar-benar meluap sudah. Ia tak bisa menahan lagi dengan apa yang sebelumnya ia lakukan. Beruntung, Detektif Darcy hanya mendekati Briptu Scarlet, jika sampai menyentuhnya, mungkin Detektif Carl akan langsung membunuhnya. Tak peduli dengan hukuman apa yang akan ia terima.
“Kau tahu, segala sesuatu itu akan terasa lebih menyenangkan jika kita dapatkan dari hasil merebut. Ada tingkat kepuasan sendiri setelah mendapatkan kemenangan. Aku akan merebut semuanya darimu kalau perlu!” ujar Detektif Darcy mengulas seringai.
Briptu Scarlet yang masih ada di sana ikut geram mendengarnya. kebenciannya pada Detektif Darcy semakin menjadi setelah pria itu berkata demikian.
“Kau psikopat gila Darcy!” Kali ini Briptu Scarlet benar-benar berang pada pria itu. Ternyata pria itu mendekati dirinya murni, hanya untuk bersaing dengan Detektif Carl.
Detektif Darcy hanya diam menatap Briptu Scarlet. Sepertinya wanita itu salah paham dengan ucapannya.
Aku mendekatimu karena aku benar-benar menyukaimu bukan sekedar balas dendam saja pada Carl. Tapi adakah gunanya aku jelaskan kesalapahaman itu sekarang! Kurasa tak ada.
“Detektif Darcy! Sebaiknya kau segera pergi dari sini atau aku akan bertindak.” Briptu Scarlet mengusir pria yang membuat emosinya memuncak, sebelum emosinya semakin meledak.
Tanpa bicara sepatah kata pun lagi, Detektif Darcy kemudian angkat kaki dari rumah Briptu Scarlet.
“Carl, aku benar-benar tak percaya. Kau kembali lagi ke sisiku. Keyakinanku terbukti.” Briptu Scarlet kembali mendekap Detektif Carl.
Setelah puas memeluknya lama, wanita itu mengajaknya duduk di sofa panjang.
__ADS_1
“Kau tahu seperti apa aku. Jika aku mati maka aku akan berpamitan lebih dulu padamu atau setidaknya meninggalkan pesan untukmu, agar kau tenang,” tukas Detektif Carl.
Briptu Scarlet masih diam setelah duduk bersisian dengan lelakinya itu. Baru kali ini dia merasa sangat bersyukur sekali setelah sebelumnya merasa terpukul dan begitu kehilangan jika lelaki itu benar-benar tidak kembali.
“Kau ini bicara apa? Itu tak akan pernah terjadi. Kita akan terus bersama.”
“Scarlet, apa kau ingin bersamaku selamanya?”
“Tentu saja. Siapa lagi yang akan menemani hidupku selain dirimu. Aku bahkan membayangkan setelah kita hidup bersama akan ada keluarga baru. Carl junior dan Scarlet junior. ”
Briptu Scarlet tak henti-hentinya mengulas senyum tipis ketika bercerita begitu.
“Aku kira hanya aku yang berpikir dan merasakan demikian. Ternyata pikiranmu sama denganku. Aku tidak tahu ini tepat atau tidak. Jika kau ingin hidup bersama denganku, maukah kau menjadi pendamping hidupku?” balas Detektif Carl.
Ada sepasang cincin di sana. Cincin itu sudah Detektif Carl persiapkan jauh-jauh hari sebelum terbang ke Perancis. Bahkan selalu ia bawa kemanapun dia pergi.
“Carl? Aku tak percaya kau melamarku seperti ini.” Briptu Scarlet nampak terkejut sekali juga senang.
Kebahagiaan terbesar seorang wanita adalah saat mendapatkan lamaran dari pria yang dikasihinya.
“Bagaimana, apa kau menerimanya?” tegas Detektif Carl. Sudah lama sekali ia ingin melamar wanitanya itu tapi belum ada waktu yang tepat. Dan menurutnya sekarang ia harus melamarnya daripada ada pria lain yang mengejar wanitanya lagi.
__ADS_1
Briptu Scarlet mengangguk. Maka Detektif Carl pun segera menyempatkan cincin itu di jari manis Briptu Scarlet.
“Carl!” Briptu Scarlet sekali lagi mendekap Detektif Carl.
Kali ini malah kedua bibir mereka saling beradu, terpagut lama hingga mereka jatuh ke kursi.
***
“Satu minggu lebih aku meninggalkan kantor. Ternyata kondisinya masih sama dengan sebelumnya.” Detektif Carl masuk ke kantornya, kemudian duduk di kursinya setelah menyapukan pandangan ke seisi kantor.
Dia belum tahu jika Leo sudah melewati masa kritisnya, bahkan sudah masuk kerja kembali.
“Kantor ini tampak bersih. Apakah Leo...” Ucapannya terjeda saat mendengar suara pintu terbuka.
“Detektif! Detektif Carl! Apakah Anda benar-benar kembali? Aku tidak bermimpi, bukan?” Leo tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Dia sampai mengucek matanya berulang kali. Dan sosok di depannya memang nyata, tidak hilang dari pandangannya.
“Aku senang Anda kembali, Detektif.” Leo mengulas senyum yang pernah dia punya.
“Aku juga senang kau sudah sehat kembali, Leo. Aku kira butuh waktu lama kau kembali pada kesadaranmu.” Detektif Carl merasa lega melihat asistennya kembali padanya dengan kondisi baik.
__ADS_1
Mereka berdua kemudian duduk bersebelahan di kursi, karena saat itu kantor sedang sepi.
“Tuan, Bagaimana Anda bisa selamat?”