
“Leo, cepat. Kau sedang apa?” panggil Detektif Carl.
“Ya, Detektif, tunggu sebentar,” balas Leo, berlari keluar dari pabrik wine, sampai berlari menyusul.
Semua tamu undangan sudah keluar dari pabrik dan kembali ke villa karena hari sudah siang.
Tuan Noel menyarankan untuk kembali ke villa dan akan melanjutkan acara melihat-lihat perusahaan wine baru pada esok hari, di hari terakhir mereka berada di Pulau Brisago ini.
“Sepertinya kau akan datang paling terakhir dan tak akan dapat jatah makan siang,” sindir Detektif Darcy, yang berjalan di belakang Detektif Carl dan mendahului.
Pria itu sengaja memancing emosi rivalnya karena sedari tadi merasa sepi dan suntuk saja.
“Ya, jika kau mau aku akan memberikan jatahku padamu nanti, tapi apa kau tidak malu?”
Detektif Carl terkekeh kemudian mendahului Detektif Darcy.
Senjata makan tuan. Sindiran itu justru berbalik pada Detektif Darcy. “Sialan kau Carl!”
Namun Detektif Carl sudah tak responnya lagi dan sudah hilang dari pandangan pria itu.
Di villa mewah Tuan Leo, sudah terhidang berbagai menu makan siang.
Detektif Carl memang datang belakangan, dibandingkan yang lainnya jadi tempat itu sekarang sudah penuh dan ramai.
Semua tamu undangan sudah mengambil makan siang mereka. Namun ada beberapa meja yang gosong sepertinya sebagian dari mereka belum makan siang juga entah siapa saja itu.
__ADS_1
“Detektif, kita ke meja sebelah sana saja, sepi.” Leo menunjuk sebuah meja yang sepi dan di sana masih penuh hidangan makanan.
Detektif Carl hanya mengangguk seperti biasanya dalam respon. Dia sedang menghemat kata kelihatannya karena sedang tidak mood, entah kenapa.
Di saat Detektif Carl dan Leo menyantap hidangan makan siang, Stuart ikut bergabung bersama mereka.
Hmm! Leo hanya mendesau saja dengan kedatangan Stuart. Selera makannya bahkan hilang seketika.
Ia mempercepat makannya daripada melihat Stuart dan merasa lebih enek lagi.
“Detektif Carl, aku permisi dulu,” lirihnya lalu meninggalkan meja dan langsung menuju ke kamarnya.
Tepat di depan kamar, Leo berhenti dan menatap kamar di sebelahnya yang tidak tertutup, kamar Tuan Curtis.
“Cepat sekali dia dan sudah mengambil istirahat siang duluan,” ceplosnya.
“Permisi, Tuan. Aku mau menutup pintu Anda.” Tak ada sahutan.
Entah kenapa tangan Leo bukannya menarik pintu tersebut dan segera menutupnya namun ia malah mendorongnya dan membuka lebar.
Terlihat Tuan Curtis sedang berbaring di tempat tidur.
“Aneh sekali posenya tidur. Dia benar tidur, kan?” Leo merasa aneh saja melihat cara pria itu tidur. Terlihat kaku dan posisinya tak wajar.
Terlintas pikiran buruk dalam benaknya dan cepat-cepat ia memeriksanya untuk membuktikannya.
__ADS_1
“Tuan Curtis, Anda kenapa?” tanya Leo, melihat wajah pria itu pucat sekali.
Tuan Curtis miring ke kanan, lalu memakai selimut tebal. Padahal cuaca di luar sangat panas. Di tangannya tergenggam erat secarik kertas dengan tulisan tangannya.
“Tuan, Anda baik-baik saja?” Tak ada respon. Dan detik itu juga tuan Curtis jatuh dari tempat tidur.
“Tuan!” Leo segera mendekat, bermaksud untuk membantunya. Namun ia terkejut setelah menyentuh kulitnya yang dingin sekali. “T-Tuan Curtis.....”
Leo tercengang begitu memeriksa denyut nadi dan juga pernafasannya ternyata sudah berhenti. Pria itu ternyata sudah meninggal.
***
Saat itu juga suasana villa menjadi horor setelah adanya seorang tamu undangan yang meninggal. Kasak-kusuk di antara tamu undangan membahana ke seisi ruangan.
“Tolong minggir semua, aku akan melakukan pemeriksaan,” ucap Detektif Darcy mengambil alih kasus ini.
Sengaja pria itu bergerak cepat di sana sebelum Detektif Carl turun tangan. Tentu saja itu demi pamor dan pencitraan dirinya. Ia ingin menunjukkan di depan semuanya jadi dia lebih mumpuni daripada rivalnya.
Detektif Darcy segera memeriksa kamar Tuan Curtis. Dia juga menandai lokasi meninggalnya.
“Detektif, Anda tak mengusut kasus ini?” tanya Leo di luar kamar Tuan Curtis.
“Hmm. Biar Darcy saja yang mengusut kasus ini. Kita lihat seberapa jauh dia bisa menyelesaikannya.” Detektif Carl, mengulas seringai tipis, sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
Dia tak peduli dan malah kembali ke meja jamuan untuk melanjutkan makan siangnya yang tertunda.
__ADS_1
“Aku menyatakan ini adalah kasus pembunuhan,” ucap Detektif Darcy, mengumumkan hasil penyelidikannya.
“Pembunuhan?” Para tamu undangan yang ada di kamar Tuan Curtis, terlihat shock sekaligus merinding.