Super Sistem Detektif Kaya

Super Sistem Detektif Kaya
Eps. 94 Kehilangan Jejak


__ADS_3

Detektif Carl masuk ke mobil putihnya dan sesaat setelahnya segera melaju di jalanan. Dia sendiri juga tak tahu akan menuju ke mana.


Setelah berkendara agak jauh, ia pun menepi sejenak di sebuah minimarket yang ada di pinggir jalan.


“Aku haus. Aku ingin kopi instant.” cicitnya ringan.


Ia pun segera turun dari mobil setelah menepikan mobilnya di sebuah minimarket.


Bagi pecinta cafeine seperti Detective Carl, dengan meneguk sedikit cafeine saja bisa membuat otaknya yang buntu kembali bisa berpikir jernih, seperti saat sekarang ini.


Dan ia tak mau repot untuk membuatnya sendiri, maka ia memilih untuk membelinya saja.


Di minimarket tersebut ada layanan coffee maker.


“Tolong moccacino dua,” pesan Detektif Carl, setelah mengambil sendiri kopi yang dibelinya, kemudian menyerahkan pada petugas coffee maker.


Tak perlu menunggu lama, hanya beberapa menit saja moccacino pesanan detektif sudah jadi.


“Terima kasih.” Detektif Carl menerima moccacino pesanannya.


Ia lalu memilih untuk duduk di depan minimarket. Disebuah kursi yang memang disediakan oleh minimarket tersebut untuk pengunjungnya duduk-duduk santai di sana.


Jujur, pria itu malas untuk duduk di mobilnya lagi saat ini. Ia hanya ingin melepas penatnya dengan merasakan udara bebas di luar dengan aroma kopi yang menyeruak ke udara.


Detektif Carl tampak menikmati sekali kopi pesanannya itu. Bahkan ia tak langsung menghabiskannya dan malahan meminumnya pelan-pelan.


“Haah. Hanya seteguk kopi saja sudah membuat otakku terasa rileks kembali saat ini.” gumamnya, lalu meletakkan secangkir moccacino itu ke meja.

__ADS_1


Beberapa saat setelahnya beberapa pengunjung tampak keluar masuk ke minimarket tersebut.


Tanpa sengaja Detektif Carl menatap beberapa pengunjung yang keluar dari minimarket.


Sebuah cahaya menyilaukan terpantul dari gelang yang dipakai oleh seorang pengunjung minimarket, mengenai sebelah mata kirinya.


“Astaga! Itu kan...” pekiknya terkejut, melihat gelang dengan simbol seekor ikan menelan bom.


Pria itu pun seketika berdiri dari tempat duduknya. Ia mencari pria tadi, pria yang mengenakan gelang yang sama dengan gelang yang dikenakan oleh pelaku pembunuhan berantai.


Detektif Carl sampai menyibak para pengunjung yang sedang lewat kala itu sampai ke depan, ke jalanan.


“Di mana dia, di mana?” cicitnya, menyasar ke seluruh jalanan.


Sosok pria tadi sudah menghilang dengan cepat dari jalanan.


Kini pandangannya beralih pada beberapa mobil yang terparkir di samping minimarket.


Dengan cepat ia perhatikan semua mobil yang terparkir di sana. Bahkan ia pun sampai berlari mendatangi mobil itu satu per satu.


“Aku kehilangan jejaknya.” umpatnya kesal, tak menemukan pria yang dicarinya tadi.


Di saat Detektif Carl berbalik, sebuah mobil hitam melintasi dirinya. Pengemudi mobil itu menaikkan tangannya ke atas untuk menggantung pengharum mobil yang baru.


Terlihat di tangan kiri pria itu terpasang gelang dengan simbol seekor ikan menelan bom. Namun sayang sekali, detektif tidak mengetahui itu.


Dengan langkah berat, pria itu kembali duduk di kursi yang dia duduki tadi, menyesap habis dua cangkir moccacino yang kini tak lagi terasa nikmat seperti sebelumnya.

__ADS_1


Detektif Carl pun tak menyerah begitu saja. Ia mengeluarkan ponselnya lalu mencoba menghubungi nomor Briptu Scarlet.


Dia menjelaskan jika barusan bertemu dengan sosok pria yang mengenakan gelang bersimbol seekor ikan memakan bom, tapi kehilangan jejak.


Baiklah, Carl. Aku akan melihat rekaman CCTV di alamat yang kau sebutkan. Aku akan memberimu kabar secepatnya. ucap Briptu Scarlet di ujung telepon, setelah panggilan tersambung.


Detektif Carl kemudian berjalan masuk ke mobilnya.


“Ini sudah hari ke dua, tapi aku belum menemukan petunjuk untuk menangkap pelakunya. Apa lah sistem bisa membantuku?” gerutunya, menghitung Hari sembari menginjak gas mobil.


Tidak ada bantuan dari sistem. Waktu penyelesaian misi 122 jam 40 menit 32 detik.


Detektif Carl malah merasa semakin pening mendapatkan balasan dari sistem langsung, bahkan jam di atas dasbor pun belum normal dan masih dalam bentuk waktu yang harus dia selesaikan dalam menyelesaikan kasus ini.


Malam bergulir. Hingga malam, Detektif Carl belum mendapat kabar juga dari Briptu Scarlet.


Pria itu pun kemudian memutuskan untuk ke luar rumah saja daripada berada di rumah.


Ia memacu mobilnya menuju ke Power Gym, untuk melihat kondisi di sana. Firasatnya mengatakan mungkin saja pembunuh itu kali ini menyambangi tempat itu.


Tak lama setelah kepergian Detektif Carl, Briptu Scarlet datang ke rumahnya.


“Sepertinya dia tak ada di rumah.” gumamnya, setelah menarik cuckoo tiga kali di depan pintu.


“Kemana dia? Padahal aku ingin membicarakan sesuatu terkait kasus pembunuhan berantai ini.”


Briptu Scarlet pun masuk kembali ke mobilnya. Ia mengira pria itu pasti mendatangi tiga gym yang akan menjadi target dari pembunuh. Maka ia pun menuju ke sana, tanpa meneleponnya terlebih dulu.

__ADS_1


__ADS_2