
Octo mengulas senyum lebar di ujung bibirnya melihat kedatangan enam rekannya kemari dan bahkan rekannya itu kini menodongkan senapan mereka pada Detektif Carl.
“Kita lihat siapa yang akan mati di sini.” Octo menatap tajam Detektif Carl, merasa sudah mendapatkan bala bantuan.
Detektif Carl tak merespon ucapan Octo. Jika mau dia bisa langsung mengakhiri nyawa pria itu. Tapi tak dilakukan olehnya. Menyiksanya dulu sampai puas itu pantas untuk Octo.
Ia ingin bermain dengan Octo seperti pria itu bermain dengan Leo atau para korban yang sudah dibunuh oleh pria gila kelainan itu.
“Ck! Kalian mengganggu saja!” Detektif Carl terbalik dan menatap enam orang yang menodongkan laras panjang padanya.
Ia menatap tajam pada Alex. Bagaimana bisa pria itu melanggar kesepakatan yang telah dibuat dengannya dengan menodongkan laras panjang seperti ini padanya.
Apa yang meluncur dari bibir seseorang eks-napi tak bisa dipercaya bukan? Meskipun itu hanya rasa solidaritas saja pada rekannya dan tidak benar-benar ingin menembak atau memang mengingkari janjinya, yang jelas menodongkan laras panjang sama artinya dengan mengibarkan bendera perang.
Tapi Detektif Carl tak mempermasalahkan hal itu sama sekali. Itu sudah resiko baginya. Memang tak ada yang bisa dipercayai selain dirinya sendiri.
“Siapa kau sebenarnya?” hardik salah satu napi.
“Aku?Apa kalian sudah lupa siapa namaku? Bukankah aku tadi sudah memberitahu kalian sebelumnya?”
“Kenapa kau mau menggantung Octo seperti itu?” cecar yang lain.
__ADS_1
“Apa aku harus jelaskan pada kalian? Bukankah kalian bisa lihat sendiri? Oke, karena kalian tak tahu, maka aku akan menjelaskan pada kalian. Aku ingin bermain-main dengannya. Sudah jelas?” Dengan tenang dan santai Detektif Carl, menatap enam pasang mata yang ada di depannya. “Sepertinya kalian juga ingin bermain-main denganku?” Detektif Carl malah mengulas senyum tipis.
“Apa tujuanmu datang kemari?” cecar satu orang lagi dan mulai membidik Detektif Carl.
“Berburu.”
Enam orang itu sedikit ngeri dengan senyum yang dilemparkan oleh Detektif Carl kalo ini yang berbeda dengan sebelumnya, senyum seorang malaikat maut.
“Baik, kita adu kecepatan saja siapa yang bisa menembak cepat maka dia akan menang.”
Lima eks napi semakin terbakar emosi dengan tantangan Detektif Carl yang arogan dan sok itu. Dia pikir dia siapa? Bisa melawan mereka?
Akh! Namun peluru yang meleset itu bersarang pada tubuh Octo, menembus paha juga lengan pria itu.
“Bodoh kalian!” sentak Octo merasakan sakit setelah terkena lima tembakan secara bersamaan.
Enam orang tadi seketika menurunkan laras panjang mereka, tak menyangka tebakan mereka melesat dan malah mengenai rekannya sendiri yang semakin memperparah keadaan.
“Kau licik! Kau sengaja menjebak kami bukan?” tuntut seorang eks napi.
“Licik? Kau sendiri yang menantangku. Jadi jangan salahkan aku yang hanya menghindarinya saja. Salahkan tanganmu, kenapa kurang jitu dalam menembak? Bagaimana apa masih mau bermain denganku?”
__ADS_1
Enam eks napi itu terdiam tak menjawab. Ternyata mereka salah, sudah bermain-main dengan Detektif Carl. Jika mereka terima tantangan ini lagi, mungkin saja mereka bisa membunuh Octo secara tidak langsung.
“Katakan, apa maumu sekarang?”
“Apa itu artinya kalian sedang menyerah sekarang?” sindir Detektif Carl.
Semuanya terdiam, tak ada yang merespon.
“Bebaskan aku. Kalian cepat tembak tali ini. Aku sudah tak bisa bertahan lagi. Tembak belum aku benar-benar mati!” ujar Octo, menatap enam rekannya yang kini masih berdiri membeku.
Tak ada di antara mereka yang berani bergerak. Salah tembak saja bisa beresiko fatal, bisa membuat nyawa Octo melayang.
“Pengecut kalian semua!” Bukan Octo yang bicara, melainkan Detektif Carl yang bicara begitu.
“Aku yang akan melepaskanmu.” Seseorang datang di ujung sana. Dan setelahnya terdengar suara tembakan.
Dor! Peluru melesat tepat mengenai tali yang mengikat Octo hingga putus dan membuat pria itu jatuh ke tanah.
Tujuh pasang bola mata itu kemudian mengunci pandangan mereka pada sosok yang barusan menembak tadi.
“Sherif Tasman?”
__ADS_1