
Pria yang memakai baju setelan berwarna orange terang itu sudah duduk di sebuah kursi yang ada di pesawat, dekat jendela.
“Perjalaan ke Swiss tak akan lama. Ada baiknya sambil menunggu pesawat tiba di sana, aku baca daftar film yang akan tayang bulan depan.” Ia mengeluarkan buku saku yang tadi di bawanya dan dia masukkan di saku baju.
Buku dengan halaman setebal seratus halaman itu mulai ia buka lembar demi lembar.
Ada sederetan daftar film yang akan rilis bulan depan. Ada 20 lebih judul film yang terlampir dalam buku saku tersebut.
“Aku belum pernah melihat film di Swiss. Mungkin film di sini lebih bagus daripada di Prancis? Bisa untuk referensi.” Pria berbaju setelan orange terang itu kembali membalik halaman selanjutnya.
Hingga tiga puluh menit lebih, pria itu baru selesai membaca buku saku yang di bawanya. Ia meletakkan kembali buku tersebut dalam saku bajunya.
Setelah membaca, jujur saja matanya terasa berat dan mulai terasa kantuk menyergap kedua kelopak matanya, membuatnya tertidur.
“Perhatian bagi para penumpang semua, diharapkan untuk segera bersiap dan memeriksa lagi barang bawaan Anda. Karena sepuluh menit lagi pesawat akan landing.” Pramugari pesawat memberikan penuturan dengan menggunakan pengeras ada di pesawat.
Beberapa penumpang pesawat yang tertidur membuka mata setelah mendengar pengarahan dari pramugari. Beberapa dari mereka lalu mengecek kembali barang bawaan mereka, apakah ada yang tertinggal atau tidak?
__ADS_1
“Tuan, pesawat hampir sampai.” Seorang pramugari menghampiri penumpang yang mengenakan baju setelan berwarna orange terang. Pria itu masih saja tertidur di saat yang lainnya sudah bangun.
“Astaga! Aku benar-benar ketiduran. Terima kasih, Nona.”
Pria baju orang itu memeriksa kembali semua barang yang ada di sampingnya. Ternyata dia hanya membawa buku saku saja yang terjatuh di dekat kaki.
“Beruntung, aku menemukanmu.” Ia Mengambil buku saku tersebut dan memasukkannya kembali dalam saku bajunya.
Lima menit setelahnya pesawat benar benar mendarat di Bandara Swiss. Semua penumpang berjubel untuk keluar.
“Aku akan sabar menunggu sampai pintu keluar terlihat sepi,” ujar pria berbaju orange terang.
“Akhirnya aku tiba juga di Swiss. Tempat mana dulu yang harus ku kunjungi?”
***
Di kantor kepolisian
__ADS_1
“Oh, Briptu Scarlet, benda apa itu yang melingkar dan berkilau di jari manismu?” tanya seorang agen polisi yang baru menyadari rekannya itu saat ini memakai cincin yang tersemat di jari manis.
“Tentu saja ini sebuah cincin. Apa kau tak bisa melihatnya dengan jelas?”
Briptu Scarlet lalu mengangkat tangannya ke udara sembari menunjukkan cincin yang tersemat di jari manisnya itu pada rekannya.
“Oh, jangan bilang seorang sudah melamarmu?”
“Benar dugaanmu. Tidak salah, memang seseorang melamarku.”
Agen polisi tadi mengangkat satu alisnya. beberapa waktu yang lalu rekannya Itu tampak sedih kehilangan Detektif Carl, tapi hari ini kelihatan sangat-sangat ceria sekali.
Siapa pria yang telah melamarnya? Apakah itu dia?”
“Katakan padaku, pria mana yang melamarmu tengah keadaan berduka seperti ini? Apakah dia Detektif Darcy?” Karena pria terakhir kali yang dilihatnya berhubungan dengan rekannya itu adalah Detektif Darcy.
“Cuckoo. Dia yang memberiku cincin ini.” Lagi Briptu Scarlet, menerbitkan senyum di sudut bibirnya.
__ADS_1
“Carl? Maksudmu Detektif Carl?!” tegas agen polisi itu, tak percaya. Apakah mayat bisa melamar seseorang? Atau rekannya itu yang semakin bertambah parah sakit mentalnya karena terpukul berat?