Super Sistem Detektif Kaya

Super Sistem Detektif Kaya
Eps. 87 Jarum


__ADS_3

Dengan matanya yang jeli, Detektif Carl menuju ke tempat dia menemukan benda tipis berkilau tersebut.


Ia sampai tengkurap saat mengambilnya berada di bawah kolong meja berukuran rendah 40x50 senti itu.


Dengan hati-hati Detektif Carl mengambilnya setelah mengetahui benda apa itu.


“Jarum?”


Ia berhasil mengambil benda sepanjang 3 cm itu kemudian berdiri lagi.


“Tuan, apakah Bob Julian sebelumnya pernah menjahit?” tanya Detektif Carl, sembari mengamati jarum tersebut.


Sam menggeleng. Ia juga menjelaskan jika korban tak pernah menjahit atau menyukai pekerjaan sejenis itu.


Jika dipikir memang benar dan mustahil seorang instruktur yang macho mempunyai hobi menjahit seperti wanita.


“Atau mungkin keluarga, seperti ibu atau saudara perempuan korban ada yang menjahit disini?” tanya Detektif Carl lagi, terlihat makin curiga.


Sam tak langsung menjawab dan mencoba mengingat kembali, keluarga sepupunya itu.


“Maaf Detektif, ibunya Bob Julian sudah berusia 70 tahun dan kurang jelas penglihatannya. Sementara adik perempuannya seorang pekerja kantoran. Tapi sebelumnya juga tidak pernah memegang jarum jahit. Plus mereka berdua tak pernah datang ke gym ini.” jelas Sam panjang lebar.


Jawaban dari Sam semakin membuat bias masalah tersebut. Jika jarum ini bukan milik korban ataupun keluarga, maka pemilik jarum ini hanya ada dua kemungkinan. Milik pengunjung gym atau pembunuhnya.


“Baiklah, aku akan membawa ini untuk pendidikan lebih lanjut.” Detektif Carl lalu memasukkan jarum tersebut pada sebuah wadah steril dan akan memeriksanya nanti.

__ADS_1


Setelah menemukan jarum tersebut pikirannya pun semakin kemana-mana, banyak muncuk kepingan puzzel baru yang membuatnya semakin bingung.


“Satu lagi, apakah ada sesuatu yang mencurigakan pada mayat korban selain bekas jahitan di perut bagian kanan?” tanya Detektif Carl lagi sebelum pergi dari sana.


Sam mengingat kembali dan menceritakan jika terakhir kali melihat jasad sebelum dikebumikan terdapat banyak bekas merah kecil di bagian leher.


“Ya, ukurannya sebesar jarum jahit. Tapi kami tidak pernah tahu apa itu. Mungkin saja itu alergi atau apalah.” jelas Sam lagi.


Waktu itu keluarga tak melakukan visum pada tubuh korban dan segera mengebumikannya dengan layak. Jadi tidak tahu memang apa sebenarnya titik-titik merah di leher korban.


“Titik merah sebesar jarum jahit?!” tanya Detektif Carl menegaskan kembali.


Sam mengangguk dan pikiran detektif seketika tertuju pada jarum jahit yang di temukannya tadi.


Ia menduga jarum itu adalah milik pelaku yang digunakan untuk melukai korban dan tertinggal di sana.


Detektif Carl berpamitan pada pria tersebut. Namun sebelum ia pergi dari sana, ia meminjam daftar pengunjung gym selama enam bulan ini dan akan melakukan pemeriksaan nantinya.


“Sekarang aku akan pergi ke Horizon Gym.” gumam Detektif Carl, setelah ia duduk di mobil putihnya.


Ia pun kemudian memacu mobilnya menuju ke Horizon Gym.


Disana Detektif Carl menemui pemilik gym yang sekarang.


“Permisi, bisa aku bertemu dengan pemilik gym ini?” ucap Detektif Carl pada seorang pria berotot yang tercetak pada kaos ketat.

__ADS_1


Pria itu menaruh sebotol air mineral yang dipegangnya ke meja. Ia menatap pria asing yang tidak dikenalnya itu.


“Aku Dancel, instruktur baru di sini sekaligus pemilik baru.” jawab pria itu.


“Ada yang bisa kubantu, Tuan?” tanyanya lagi, menatap lurus Detektif Carl.


“Ada sesuatu yang ingin kau bicarakan dengan mu, Tuan Dancel.” Detektif Carl lalu menunjukkan kartu identitasnya.


Pria tadi membaca kartu identitas pengunjungnya.


“Detektif Carl?!” pekiknya terkejut, setelah mengetahui identitas pengunjungnya tersebut.


“Maaf, ada yang bisa kubantu?”


Detektif Carl melirik ke sekitar. beberapa pasang mata tampak mengawasi mereka berdua.


“Ini tentang Tuan Neil Cortex. Aku ingin bertanya semua informasi mengenai dirinya saat meninggal untuk keperluan investigasi.” bisiknya lirih, karena tak ingin ada orang lain yang mendengarnya.


Dancel yang merupakan adik korban, Neil Cortex pun mengangguk mengerti.


Dia dan keluarganya masih berduka atas meninggalnya kakaknya tersebut. Apalagi sampai detik ini pelaku masih berkeliaran di luar dan belum tertangkap.


Kebetulan sekali ada Detektif yang datang dan mengusut kembali kasus itu, membuat hatinya sedikit lega juga berharap udah itu bisa menangkap pelakunya.


“Baik, silahkan masuk kesini.” ucap Dansel, lalu berjalan menuju ke sebuah ruangan.

__ADS_1


Detektif Carl pun berjalan dan mengekor di belakang pria tersebut lalu masuk ke ruangan.


__ADS_2