
“Jadi lampu mati di sini beberapa kali bukan karena pemadaman tapi sebuah kesengajaan?” tanya seorang tamu undangan.
“Ya, itu murni sebuah sabotase dari salah satu tamu undangan lain,” terang Detektif Carl.
Para tamu undangan nampak semakin penasaran saja dengan paparan Detektif Carl saja.
“Lalu siapa pelakunya?”
Seseorang di sana tampak mulai tegang dan mulai berkeringat.
“Tenang, Tuan semuanya. sebelum aku mengungkap siapa pelakunya. Ada baiknya kita kulik dulu masalah Tuan Noel.”
Detektif Carl berhasil mengalihkan sementara perhatian para tamu undangan untuk menyimak paparannya sebentar.
“Kalau begitu jelaskan bagaimana Tuan Noel bisa sampai menjadi korban?”
Detektif Carl merubah posisinya dari bersandar dinding menjadi tegap menatap semua pasang bola mata yang tertuju pada dirinya. Jangan lupakan sorot mata penasaran mereka yang memburu.
“Saat itu ada lima orang pria yang sering nampak bicara dengan Tuan Noel. Ada Tuan Dawn, Tuan Robert, Tuan Curtis, Tuan Smith dan Tuan Picasso.”
“Nama Tuan Dawn muncul lagi, berarti memang dia.”
“Bukan. Pelaku yang sebenarnya sudah mengaturnya sedemikian rupa agar dirinya tersamarkan.”
Pernyataan itu semakin membuat para tamu undangan penasaran saja kenapa tak segera mengungkapkannya saja?
__ADS_1
“Cepat Detektif Carl, katakan saja siapa pelaku yang sebenarnya jangan berbelit-belit!”
“Atau mungkin pelakunya adalah Tuan Picasso? Karena dia tampak mencurigakan sekali. Berulang kali sering menarik diri dari yang lainnya dengan berbagai alasan,” tutur seseorang.
Tatapan para tamu undangan pun kemudian beralih menyorot Tuan Picasso yang berada di tengah.
“Hey! Tidak. Bukan aku, tolong jangan tatap aku seperti itu.” Tuan Picasso langsung menyangkal dan nampak tegang. “Detektif Carl cepat ungkap dan jelaskan saja siapa pelakunya.”
“Jika bukan Picasso, berarti pelakunya adalah tuan Robert atau Tuan Smith.”
Kembali sorot mata tajam pada tamu undangan mengarah pada dua pria itu.
“Bukan... bukan aku. Aku sama sekali tak ada masalah dan tak punya motif tersembunyi.” Pria bernama Tuan Robert segera menyangkalnya dengan tegas.
“Anda mau ke mana, Tuan Smith?” Bukan Leo yang bertanya tapi Detektif Carl.
“Tuan Smith tolong jelaskan pada kami semua apa motif Anda melakukan ini semua?”
Pertanyaan dengan suara tenang dan berwibawa dari Detektif Carl menahan langkah pria itu yang sedari tadi memaksa keluar namun ditahan oleh Leo.
“Tuan Smith, apakah tuduhan Detektif Carl padamu benar?”
Sungguh tak bisa dipercaya sama sekali. Tuan Smith yang kesehariannya tampak ramah pada siapa saja, bahkan tak pernah terlibat suatu masalah dengan siapapun ternyata adalah pembunuh keji tak berhati nurani itu.
“Buka jalan! Aku mau ke toilet. Kenapa kau menghalangiku Sedari tadi?” protes Tuan Smith.
__ADS_1
Hal itu pun mengundang reaksi dari para tamu undangan yang ada di sekitar Tuan Smith.
“Tuan setidaknya berikan penjelasan dulu sebelum Anda pergi dari sini.”
Sial! Harusnya aku sudah membungkam dulu mulut Detektif Carl, geram Tuan Smith dalam hati.
Ia tak hanya menyorotkan mata tajam pada Leo, orang di sekitarnya, tapi juga pada Detektif Carl.
“Jelaskan jika tuduhan itu memang salah, Tuan Smith.”
Atas desakan dari para tamu undangan yang lain akhirnya pria itu pun mengurungkan niatnya untuk keluar dan berbalik untuk mengklarifikasinya.
Sebenarnya para tamu undangan yang ada di sana masih tak percaya jika pelakunya adalah Tuan Smith.
“Aku tidak tahu atas dasar apa detektif kau menuduhku? Apa kau punya buktinya?”
Pria itu malah berbalik dan menantang Detektif Carl. Ia yakin sudah melenyapkan semua bukti penting yang ada jadi tak mungkin ada yang menemukannya. Dan ia bisa tenang.
“Pada obat yang ada di nakas Tuan Curtis, ada bagian sidik jari yang terhapus. Sebenarnya itu bukan sidik jari yang terhapus, melainkan sidik jari yang tak terbaca dengan sempurna,” papar Detektif Carl.
“Apa maksudnya Detektif Carl?”
“Tuan Smith, lima jari tangan kirimu terluka. Aku tidak tahu pasti apa penyebab luka tersebut. Tapi yang jelas dengan memegang obat menggunakan tangan kirimu hanya akan meninggalkan sedikit sidik jari atau bahkan tidak meninggalkan jejak sama sekali terlebih lagi jika mempelesternya. Tak akan ada dicek sama sekali.”
Semua pasang bola mata kemudian tertuju pada jemari tangan kiri Tuan Smith yang saat ini memakai satu plester pada jari tengah.
__ADS_1