
Sementara yang lain duduk dalam keheningan, Detektif Carl tampak tenang. Ia bahkan sedang menunggu petunjuk dari sistem untuknya.
Bantu dan selesaikan misi agen kepolisian ini. Dapatkan 100 000 poin saat selesai menyelesaikan misi kasus pembunuhan berantai ini.
“Bagaima dengan tenggat waktunya?” tanya Detektif Carl, karena mungkin menyelesaikan misi sebesar ini dalam waktu satu hari saja.
Satu minggu. Waktumu hanya satu minggu. Jika lebih dari itu maka poin yang akan didapatkan hanya separuh saja. Jika berhasil menyelesaikan sebelum deadline maka akan mendapatkan tambahan poin.
“Kenapa kau tersenyum,” ucap Briptu Scarlet melihat pria itu tersenyum sendiri di saat yang lainnya tampak tegang.
Detektif Carl hanya mengunci pandangannya saja pada Briptu Scarlet yang saai ini duduk di sampingnya, tanpa menjawab ataupun menjelaskannya.
100 000 poin? Itu banyak sekali. Dengan poin sebanyak itu mungkin aku bisa membeli apapun yang ku mau. Batin Detektif Carl lagi-lagi tersenyum kecil, namun hanya dalam hati, tak ingin orang lain mempertanyakan makna dari senyumnya.
“Sherif Sharma, aku curiga itu bukanlah luka biasa. Ada indikasi organ hati para korban di ambil,” terang Detektif Carl yang membuat para agen kepolisian yang ada di sana semakin tercengang.
“Aku ingin laporan menyeluruh dari tiap korban pembunuhan berantai ini.” Sherif Sharma, yang juga merupakan ketua tim penyelidikan di agen kepolisian tersebut menatap ke arah Briptu Scarlet.
“Baik, Sherif. Aku akan mengambilnya sekarang.”
Langsung saja wanita yang baru tetap sekitar 5 menitan itu kembali masuk ke ruangannya.
Dia membawa setumpuk berkas tentang keterangan 10 korban pembunuhan berantai tersebut.
“Sherif, dari laporan tim penyidik di lapangan yang masuk menyebutkan jika satu korban bernama Oxy Claire mempunyai bekas jahitan pada perut bagian kanan. Setelah jaringan investigasi ternyata pria tersebut pernah menjalani operasi usus buntu,” terang Briptu Scarlet panjang lebar sembari menunjukkan berkas yang di bawanya.
__ADS_1
“Lalu bagaimana dengan tubuh sembilan korban lainnya? Apakah ada bekas operasi juga di bagian perut sebelah kanan?”
Briptu Scarlet menggeleng cepat.
Sedangkan Detektif Carl masih diam, dan kembali melihat satu per satu foto para korban dalam keadaan utuh.
Ya, semua foto ini menunjukkan baju basah oleh bekas darah, seandainya saja foto mereka tanpa baju. Jadi bisa melihat dengan jelas semuanya. Batin Detektif Carl, ia merasa ada yang janggal saja masihan.
“Apakah tim forensik sudah mengecek semua tubuh para korban?” tanya Detektif Carl mengunci pandangannya pada Briptu Scarlet.
“Bukan aku yang bertugas saat itu.”
Sherif Sherma diam dan berpikir ulang.
“Coba hubungi keluarga semua korban, lalu tanyakan pada mereka apakah dulu ada bekas luka di bagian kanan perut?”
Sherif Sharma beralih menatap agen polisi lain di sana, yang langsung di angguki oleh petugas polisi tersebut, Bripka John Power.
Pria itu langsung saja beranjak dari tempat duduknya dan menuju sudut ruangan di mana di sana terdapat mesin telepon.
Ia segera memutar nomor salah satu keluarga korban untuk menanyakan perihal luka di perut bagian kanan.
“Halo, keluarga Jensen? Ini dari kantor Kepolisian. Kami ingin bertanya... bla-bla-bla,” ucapnya ditelepon setelah tersambung.
Setelah mendapatkan jawaban dari pertanyaannya, Bripka Jhon Power lalu kembali menelepon anggota keluarga korban lainnya.
__ADS_1
“Bagaimana hasilnya?” tanya Sherif Sharma, melihat urusannya kembali dengan membawa catatan.
Bripka Jhon Power tak langsung menjawab, namun kembali duduk di tempatnya dengan tenang.
“Sherif, ini dari hasil keterangan yang aku minta barusan.”
Ia menyerahkan catatan tangannya yang langsung diterima oleh Sherif Sherma.
Pria itu mengerutkan keningnya membaca semua Keterangan tersebut.
“Jadi, semua bagian perut sebelah kanan korban ada bekas jahitan?!”
Semua yang ada di sana terlihat kaget, hanya Detektif Carl saja yang tampak tenang.
Sesuai prediksi ku. Tinggal pengecekan satu langkah lagi baru bisa diketahui. Batin Detektif Carl.
“Coba buka jahitan para korban tersebut untuk melihat apakah organ hatinya masih ada di sana atau tidak?” ungkap Detektif Carl, yang membuat semua muka agen Polisi ada di sana tertekuk.
Brak! Kenapa kalian semua tidak menyelidiki secara mendalam sebelumnya?” tanya Sherif Sherma pada bawahnya yang saat itu mengurusi kasus ini.
Lima orang yang duduk di depannya dan ditatap dengan tajam hanya menunduk. Mereka tahu mereka sudah teledor, hingga hal seperti itu tak mereka teliti dan periksa mendalam.
Brak! Sekali lagi Sherif Sherma menggebrak meja yang membuat kelima orang tadi mengkerut.
“MA-maafkan kami Sherma, kami mengaku salah dan siap dihukum.” jawab mereka berlima serempak.
__ADS_1