
Stewart menatap pria berkacamata hitam yang memakai setelan cokelat di depannya dengan penuh tanda tanya.
“Apa dia suruhan wanita itu ?Dan ingin mengerjai ku ?” batinnya waspada sekaligus takut dan bergerak mundur hingga merapat ke dinding.
“Tenang, aku bukan suruhan wanita gila itu.” ucap detektif Carl seolah bisa membaca apa yang ada di pikiran anak lelaki itu.
“Lalu ?” tanya Stewart tak mudah percaya begitu saja pada orang asing.
“Aku suruhan ibumu. Dia meminta bantuanku untuk mencarimu.” Detektif Carl menjelaskan, namun Stewart masih tak yakin.
Detektif Carl pun mengeluarkan kartu identitasnya lalu menunjukkannya pada Stewart.
“Detektif Carl ?” ucap Stewart barulah percaya dia bukan orang yang berniat buruk padanya.
Ia berharap pria itu menyelamatkannya saat ini juga namun kembali terdengar suara langkah kaki dari kejauhan.
“Sial ! Aku harus pergi dulu.” Detektif Carl segera keluar dari sana dan mengunci pintunya lagi.
Kali ini dia tak bersembunyi lagi di balik almari tapi langsung melompat keluar beberapa detik sebelum Louisa datang.
“Aku seperti mendengar ada seseorang di luar sana.” gumam Louisa jadinya tiba di sana namun tak mendapati siapapun. “Apa mungkin ada penyusup yang masuk ?”
Ia pun segera memeriksa tempat itu bahkan mencarinya hingga ke balik almari tempat detektif Carl tadi bersembunyi.
__ADS_1
“Tak ada siapapun di sini.” desaunya tapi masih merasa kurang puas aja maka ia pun menuju ke sisi dinding untuk melihat ke arah luar.
“Mungkin hanya perasaanku saja.” gumamnya tak menemukan siapapun di luar sana.
Masih merasa tak yakin juga maka ia pun menuju ke ruangan tempat ia menyekap Stewart.
“Pintu ini masih terkunci rapat. Berarti anak sialan itu masih ada di dalam.” gumam Louisa saat memeriksa pintu.
Karena situasi menurutnya aman dan tak ada penyusup maka Ia pun kembali ke depan.
Stewart menatap ke arah pintu setelah mendengar suara langkah itu benar-benar menghilang dari sana.
“Kemana detektif tadi pergi ? Bukankah dia bilang ingin menyelamatkan diriku ?” Ia berharap detektif Carl datang kembali padanya dan membebaskannya.
“Siapa itu ?” Louisa yang saat itu kebetulan ada di ruang tamu mendengar suara deru mobil yang ada di depan rumahnya.
Ia pun segera berlari keluar rumah untuk memeriksa.
“Tak ada siapa pun disini.” gumamnya saat berada di depan pagar rumah dan tak ada mobil siapapun di sana. “Mungkin hanya orang lewat saja.”
Ia pun kemudian segera kembali masuk ke rumahnya tanpa rasa curiga sama sekali.
“Untung sekali wanita gila itu tak melihatku.” gumam detektif Carl keluar dari sebuah gang kecil untuk bersembunyi sementara karena ia melihat Louisa keluar dari pagar rumah.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian pria itu tiba di kantornya.
“Leo belum kembali rupanya.” ia melihat hanya ada mobilnya saja yang terparkir di depan kantornya.
Pria itu kemudian masuk ke dalam dan segera mengeluarkan ponselnya sembari duduk.
“Halo, nyonya Gaby.” ucap pria itu Setelah telepon tersambung dengan klien keduanya.
“Oh detektif Carl, aku harap aku mendengar kabar baik.”
“Benar nyonya Gaby, aku meneleponmu untuk mengabarkan sesuatu. Aku sudah menemukan di mana keberadaan putramu Stewart.” jelas pria itu langsung ke pokok permasalahan.
“Oh, benarkah detektif ? Tak ku sangka kau menemukannya secepat ini. Katakan padaku di mana dia sekarang.” jawab Nyonya Gaby antusias.
Detektif Carl Kemudian menceritakan panjang lebar kronologis kejadian penculikan itu juga memberitahukan siapa pelaku penculikannya.
Setelah percakapan berakhir terlihat Nyonya Gaby merupakan tangannya sembari memegang erat ponselnya.
“Dasar wanita ****** kau Louisa. sudah merebut suami ku kau masih belum puas juga dan sekarang malah menyekap putraku. Awas kau nanti !” ucap wanita itu penuh kekesalan, kemarahan dan kebencian.
Baru saja detektif Carl ingin mengambil air minum untuk membasahi tenggorokan yang kering tiba-tiba Leo datang.
“Detektif Carl.” panggil satu-satunya asisten pria itu yang tersisa masuk ke kantor dengan membawa berkas penyelidikan dengan wajah yang tegang.
__ADS_1