
Pria misterius yang menutupi wajahnya dengan masker hitam kemudian membuka maskernya ketika tiba tepat di bawah wanita yang kita sudah tergantung di sebuah pohon.
“K-kau r-rupanya. K-kenapa k-kau m-melakukan i-itu p-padaku?” ucap wanita tadi dengan suara terbata-bata. Karena sulitnya bicara dengan leher terjerat, terlebih pasokan oksigen yang masuk semakin menipis.
Pria itu hanya menerbitkan smirk. “Pergilah ke surga yang kau cari.” Dengan cepat, ia menarik tali yang terurai ke tanah di dekat kakinya.
Ia menariknya kuat dan membuat leher wanita itu semakin tercekik. Dan barulah ia melepaskan tali itu dari tangannya setelah wanita di depannya itu lemas juga bergerak lagi.
***
Di Hawaii....
“Carl, kita sudah sampai. Kenapa kau tak kunjung turun juga?” kata Briptu Scarlet.
Sudah 10 menit pesawat landing. Bahkan para penumpang pesawat pun sudah semakin sedikit yang turun.
Detektif Carl entah kenapa masih bertahan di tempat duduknya. Malahan kali ini ia kembali bersandar pada kursi yang didudukinya dengan santai dan tenangnya.
“Carl, kau sendiri yang bilang padaku untuk melupakan sejenak masalah di Swiss dan fokus ke liburan kita,” tandas Briptu Scarlet.
“Entah kenapa, feelingku rasanya tak enak. Apa terjadi sesuatu yang buruk di sana?”
__ADS_1
Sejujurnya, Detektif Carl tiba-tiba saja merasa ada sesuatu yang terjadi di tempatnya. Meskipun ia tak tahu pasti apa itu. Ingin sekali rasanya dia pulang saja kembali ke Swiss.
“Sudah cukup! Jika kau terus seperti ini maka aku akan benar-benar meninggalkanmu. Kau tahu aku sudah meluangkan banyak waktu ku di setengah kesibukanku demi dirimu.” Briptu Scarlet jengah dan mulai berang.
Detektif Carl kemudian segera melepas seat belt yang masih terpasang di tubuhnya setelah mendengar ancaman dari wanitanya barusan.
“Kita turun sekarang jika begitu.” Ia segera berdiri dan menarik lengan Briptu Scarlet turun dari pesawat. “Jangan kembali ke Swiss, Sayang.”
Briptu Scarlet hanya mengulas senyum tipis berhasil membawa kesadaran lelakinya itu.
***
“Dimana Isabelle? Aku tak melihatnya sejak pagi ini,” ucap seorang wanita.
Pagi tadi ia melihat putrinya itu keluar seorang diri di pagi hari untuk berjalan-jalan menghirup oksigen bebas di udara, di kebun dekat rumah.
“Mungkin dia menemukan buah cherry di tengah perjalanan dan sedang memetiknya,” tukas seorang pria.
Isabelle memang menyukai buah kecil berwarna merah juga berair tersebut. Entah apa yang membuat putrinya itu sampai sangat menyukai buah mini seukuran kelereng itu.
Bahkan beberapa atributnya juga berdesain berbentuk buah mungil tersebut. Apalagi dia menemukan buah tersebut di hutan. Bisa dibayangkan sendiri berapa lama waktu yang akan ia habiskan di sana.
__ADS_1
“Tom, coba cari Isabelle. Perasaanku tidak enak,” timpal sang wanita.
Sang suami mengangguk kemudian keluar rumah menuju ke hutan yang ada di sana.
Dengan pesannya yang tinggi dan langkah kakinya yang lebar dengan cepat ia pun tiba di tempat tujuan.
“Aku menemukan pohon cherry di sini. Berarti Isabelle ada di sekitar sini. Mungkin ia tak berada jauh dari pohon ini.” Tom berhenti sejenak dan mempercepat lari setelahnya.
Benar saja setelah ia berjalan ada banyak pohon cherry di sana. Netranya kemudian terkunci pada sebuah keranjang berisi penuh oleh cherry.
Namun perasaannya tak enak saat melihat keranjang itu teronggok di tanah dengan sebagian isinya jatuh terburai ke tanah.
“Apakah terjadi sesuatu pada Isabelle?” pekiknya, memungut beberapa buah yang terjatuh.
Feelingnya semakin bertambah buruk saja saat melihat jejak kaki basah di sana. “Apakah ini jejak kaki Isabelle?” Sudut matanya mengerut seketika menatap ke mana jejak kaki itu mengarah.
“Isabelle! Kau dimana?” Tom kembali berlari mengikuti jejak kaki basah yang dilihatnya.
Tom nampak semakin cemas. Karena berulang kali ia memanggil nama putrinya itu tak kunjung ada suara yang menyahut panggilannya.
Hingga jejak kaki itu berakhir di sebuah pohon. Betapa terkejutnya dia melihat sosok yang tergantung di pohon dengan baju berwarna putih yang tadi dikenakan Isabelle. Juga potongan rambutnya yang mirip sekali dengan putrinya.
__ADS_1
“Isabelle! Isabelle, Ayah datang. Tenang, Ayah akan menurunkanmu.” Dengan cepat ia pun menurunkan Isabelle dari pohon.
“Tidak!” Pria itu menjerit histeris memeluk Isabelle yang tubuhnya sudah pucat, dingin dan kaku dengan mata yang masih terbuka lebar.