Super Sistem Detektif Kaya

Super Sistem Detektif Kaya
Eps. 116 Mencari Cincin


__ADS_3

Detektif Carl menarik nafas panjang, lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Menyesal sudah ia, kenapa tadi meninggalkan tali tambang itu di sana. Dan sekarang tali itu sudah hilang. Satu-satunya petunjuk yang ada hilang.


“Oh My God...”


Detektif Carl merasa lemas, hingga ia duduk berjongkok di sana. Ia menatap jejak kaki di tanah basah sekitar danau.


“Melihat dari kedalaman jejak ini dan juga sisi terluar jejak, jejak ini baru ditinggalkan 2 jam yang lalu.” cetusnya, setelah mengamati.


Ia pun kemudian berpikir ulang. Dia jam yang lalu berarti waktu saat dirinya tadi mampir kemari.


“Astaga! Apa ada seseorang yang datang kemari tepat setelah aku pergi?” pekiknya, menyimpulkan.


Kenapa bisa miss seperti ini? Padahal ia tadi sudah hati-hati dan memeriksa semua tempat, tapi rupanya masih kecolongan seperti ini.


Dengan sabar dan telaten, ia mengamati jejak kaki tersebut. Ia bahkan mengeluarkan alat ukur dan langsung mengukur jejak tersebut. Panjangnya 43 senti.


“Sudah bisa dipastikan ini adalah jejak kaki seorang pria dengan ukuran sepatu 43. Berarti tingginya 170-180 senti,” gumamnya menyimpulkan sendiri.


Tepat di saat ia masukkan kembali alat ukurnya dia melihat sesuatu yang berkilau di tengah jejak kaki tersebut.


Detektif Carl lalu mengambilnya dengan cepat, sebuah cincin emas putih.


“Ceroboh sekali, pria itu menjatuhkan cincinnya di sini,” tuturnya akhirnya bisa tersenyum kecil setelah mengumpat berulang kali.

__ADS_1


Ia memeriksa cincin itu dan juga melihat bagian dalam cincin. Polos luar dalam, tak ada tulisan di bagian dalam ataupun hiasan di bagian luar cincin.


Langsung saja ia memasukkan cincin tadi ke sebuah wadah dan menyimpannya dalam saku bajunya dengan aman.


“Ternyata kedatanganku kemari tak sia-sia. Setelah kehilangan satu bukti aku mendapatkan satu bukti lainnya.”


Detektif Carl kemudian kembali berjalan untuk mencari petunjuk lainnya, namun sayang sekali dia tak menemukan petunjuk lainnya.


Ia pun memutuskan untuk pulang dan melanjutkan investigasinya dari rumah. Dalam perjalanan menuju ke rumah Tuan Adolf tadi, Leo mengirimkan informasi untuknya melalui surel pribadi yang terhubung dengan ponselnya.


Ya, Detektif Carl punya alamat surel pribadi dan hanya Leo yang mengetahui itu. Memang alamat surel itu ia khususkan untuk mengirim data informasi tentang penyelidikan semua kliennya selama ini. Bahkan ada password nya juga untuk melindungi dari oknum yang tidak bertanggung jawab.


Password yang sekarang sudah ia bikin dengan multiproteksi sehingga tidak bisa ditembus oleh siapapun, tidak seperti pada saat awal Detektif Darcy dulu bisa mencuri semua datanya.


Cuckoo yang tergantung depan pintu berbunyi saat detektifkan menarik pintu masuk ke rumahnya.


Ia melonggarkan dasinya yang melilit di leher dan terasa ketat setelah menaruh tas yang dibawanya ke meja.


Glug! Ia mengambil segelas air besar dari dispenser yang ada di dekatnya untuk membasahi tenggorokannya yang kering. Bisa dipastikan jika ia serius melakukan pendataan maka ia akan lupa minum, dan dia mengantisipasinya sebelum itu terjadi.


Klak! Detektif Carl mengeluarkan laptop dan membukanya. Ia langsung masuk ke inbox untuk memeriksa informasi yang dikirimkan oleh Leo.


Ada lima halaman panjang yang dikirimkan oleh asistennya itu. Ia pun membaca tiap halamannya dengan teliti akan mengulanginya kembali setelah selesai membacanya, khawatir jika ada yang terlewat.

__ADS_1


Di lain tempat, di sebuah rumah. Nampak seorang pria sedang mencuci kakinya yang kotor, terkena lumpur.


Ia menaruh bootnya di sudut kamar mandi, setelah melepasnya. Empat senti bagian boot itu rendam oleh lumpur.


“Kotor sekali. Sialan!” gerutunya hampir 15 menit berada di kamar mandi namun boot dan kakinya belum bersih dari lumpur.


Ia menyentornya dengan banyak air dari selang yang ia sambungkan ke kran air hingga semua kotoran itu akhirnya amblas.


Ia kemudian mengambil sabun cair untuk membersihkan tangannya yang juga berlumpur setelah terkena lumpur dari sepatu bootnya.


“Licin sekali.” celetuknya, saat meraba bagian jemarinya.


Ia baru menyadari jika cincin yang dipakainya tak ada di jari manisnya.


“Di mana cincinku?” pekiknya, kalut.


Pria itu kemudian mencari di seisi kamar mandi namun tidak menemukannya.


“Di mana cincinku?”


Ia bergegas masuk ke ruang tengah dan menyisir seluruh ruangan untuk mencari keberadaan cincinnya.


Karena tak kunjung menemukannya, bahkan sampai ia mencarinya di saku baju tuxedonya. Tak ada apapun di sana. Kecuali sebuah kartu nama sebuah perusahaan yang terjatuh dari saku di dekat kaki meja.

__ADS_1


__ADS_2