
“Ada apa Detektif?” tanya Leo ikut berhenti karena atasannya itu berhenti dan mukanya tampak serius.
“Ini, petugas yang tadi memperbaiki susunan kabel di sini tidak bekerja dengan benar. Lihat saja!” tunjuknya langsung.
“Detektif Carl, kenapa berhenti?” panggil seseorang, dari kejauhan.
“Oh, ya sudahlah sebaiknya aku pergi saja Ini bukan urusanku.”
Detektif Carl kemudian berbalik dan menatap sumber suara yang memanggilnya.
“Aku akan segera menyusul, Tuan Andrew!” jawabnya, sekaligus mengajak Leo untuk segera angkat kaki dari sana. “Sudah biarkan saja itu,” ucapnya, menepuk bahu Leo pelan.
Mereka berdua hampir tertinggal oleh rombongan dan segera berlari menyusul para tamu undangan dan tiba di depan sebuah kantor yang besar.
“Ini adalah kantor pemasaran wine ku. Sebenarnya aku ikut berduka juga di acaraku ini ada salah satu dari kita yang meninggal. Aku minta maaf karena membuat kalian semua merasa tidak nyaman. Tapi Aku berharap pelakunya akan segera ditemukan setelah ini.” Tuan Noel tampak terpukul atas peristiwa yang tidak diharapkan ini.
Selepas memberikan sedikit sambutan maka Tuan Noel memotong pita merah sebagai tanda resminya kantor pemasaran wine yang baru itu dibuka.
Terdengar suara tepuk tangan meriah menyambut pemotongan pita merah tersebut.
“Silahkan kamu undangan semua dipersilahkan untuk masuk dan melihat-lihat,” tutur Tuan Noel lagi, setelah menara gunting yang barusan dipakai untuk memotong pita.
Para ketemu undangan masuk rame-rame ke kantor pemasaran mungkin saja luasnya jika ditaksir selebar satu hektar. Bisa dibayangkan berapa jumlah pemain yang ada di dalamnya? Tak terhitung. Mungkin saja bisa berendam wine di sana, jika diperbolehkan.
“Mewah dan elegan sekali, penataan semua botol wine ini,” celetuk Tuan Albert memuji etalase wine di sana.
__ADS_1
Terlihat Tuan Albert Kemudian beberapa kali melirik ke arah Tuan Noel yang ada di depan sana.
Pria itu melewati tamu undangan lain yang bersejarah di tengah jalan melihat etalase yang ada, untuk menemui Tuan Noel.
“Tuan Noel, aku rasa usaha Anda ini mungkin akan sukses juga seperti usaha lain Anda lainnya. Bagaimana jika aku menawarkan kerjasama denganmu,” ucap Tuan Albert.
Tuan Noel mengerutkan keningnya, tidak tahu kerja sama macam apa yang ditawarkan oleh pria itu padanya.
Tuan Albert lalu semakin mendekat dan berbisik, entah apa yang dibisikannya pada Tuan Noel.
“Maaf, Tuan Albert, sepertinya aku belum bisa bekerja sama denganmu untuk saat ini mungkin lain waktu aku akan pikirkan itu lagi,” tolaknya dengan halus setelah mendengar tawaran kerjasama yang dibisikkan padanya.
Tuan Albert nampak kecewa, namun ia tak bisa berbuat apa-apa dan tak mungkin memaksanya.
Tak lama setelahnya terlihat Tuan Albert sudah pergi dari sana. Kini Tuan Noel tampak sedang bicara dengan tamu undangan lain, Tuan Jose.
Di sana setiap meja sudah disediakan beberapa wine yang memang khusus dihidangkan untuk para tamu undangan yang hadir. Dan siapa saja tanpa terkecuali bebas mengambilnya.
“Ya, Tuan mari.” Tuan Noel kemudian mengambil segelas wae yang ada di depannya dan meminumnya segera.
Selesai minum dengan Tuan Jose, tamu undangan lain datang mengajak Tuan Noel bicara setelah Tuan Jose pergi. Ya memang Tuan Noel seorang pengusaha terkenal dan sukses maka tak sedikit yang mendekati pria itu selama di sana. Sekedar untuk bicara basa-basi atau tentang bisnis.
Ada Tuan Joe dan Duffy juga yang mengajaknya bicara selama beberapa waktu ke depan. Hingga kali ini Tuan Smith yang menemani Tuan Noel bicara.
Kenapa tiba-tiba badanku rasanya tak enak? batin Tuan Noel.
__ADS_1
Bahkan dia pun mulai berkeringat dingin.
“Tuan Noel, apakah Anda bersedia minum denganku?” ajak Tuan Smith.
“Maaf, Tuan Smith. bukannya aku menolak tawaran Anda tapi tiba-tiba saja aku merasa badanku tidak enak.”
Tuan Smith sudah mengangkat gelas main menaruhnya kembali ke meja dan terlihat kecewa, batal minum dengan Tuan Noel.
“Maaf Tuan Smith, Aku permisi dulu.” usai berpamitan, Tuan Noel kemudian segera pergi dari sana.
Di luar kantor pemasaran baik pria itu terlihat buru-buru mengambil ponsel dan menghubungi seseorang. Dua menit berikutnya datanglah sebuah mobil yang menjemput pria itu dengan petugas medis di dalamnya.
Mobil meluncur dengan cepat membawa Tuan Noel kembali ke villa. Dokter di mobil saat itu segera memeriksa kondisi pria tersebut.
“Ada apa dengan Tuan Noel?” tanya seorang tamu undangan yang sempat melihat pria itu berjalan sempoyongan dengan keringat bercucuran.
“Aku tidak tahu.”
Di lain sudut, nampak Detektif Carl yang berkeliling dari satu meja ke meja lain, dari satu etalase ke etalase lain. Dia memperhatikan tempat itu dengan seksama.
Tiba-tiba saja netranya terkunci pada sebuah tangan seorang tamu undangan.
“Kenapa jari tangannya?” lirihnya melihat lima jari tangan pria itu memakai plester di ujungnya.
“Tuan, permisi!” panggil Detektif Carl.
__ADS_1
Namun entah mendengar atau memang karena tergesa-gesa pria itu berjalan cepat menyisip di tengah keramaian.