Super Sistem Detektif Kaya

Super Sistem Detektif Kaya
Eps. 256 Menemukan Salinan Rumus


__ADS_3

Detektif Carl sudah mengira hal itu jika Louis Sanderman dan Darwin Hemington lebih dari sekedar teman biasa. Ternyata terjawab sudah melalui foto itu.


“Mereka seusia plus sepertinya mereka teman satu kampus.” Detektif Carl saya bilang begitu karena latar foto mereka berada di depan kampus Osborn.


“Aku menemukan ini,” imbuh Detektif Carl menunjukkan jarum suntik dan flash disk yang ditemukannya.


“Mungkin kita masih bisa menemukan sesuatu di rumah ini.”


Brigadier Darell lalu kembali memeriksa ruangan bersama Detektif Carl. Bisa dibayangkan seperti apa kondisi rumah Louis Sanderman sekarang. Berantakan seperti kapal pecah.


Sudah lima puluh menit lebih mereka berdua mengeksekusi rumah Louis Sanderman.


“Sepertinya sudah tak ada lagi yang bisa kita bawa pulang dari sini,” tutur Detektif Carl, menghela napas panjang.


“Apa menurutmu Louis Sanderman punya rumah lain selain di sini, Detektif Carl?”


“Kurasa begitu. Apalagi seorang artis mestinya dia punya rumah lebih dari satu.”


“Apa kita perlu mencari rumah Louis lainnya? Mungkin saja ada banyak barang menarik yang kita temukan?”

__ADS_1


“Tidak perlu, Brigadier Darell. Menurutku rumah inti yang dihuni pasti dijaga banyak pelayan dan belum tentu peran pentingnya ada di sana. Dugaanku semua barang pentingnya dia simpan di sini, di tempat yang tidak ada layanan atau penjaganya. Jadi pelayan pun tak bisa mengetahui barang penting yang disimpannya, bukan begitu?”


Brigadier Darell memikirkan ulang pendapat Detektif Carl, dan ada benarnya juga.


“Kita kembali saja sekarang untuk melihat apa isi flash disk tersebut.”


Brigadier Darell dan Detektif Carl kemudian keluar dari penthouse mewah itu.


***


Di tempat lain agen polisi yang diutus oleh Sherif Tasman, sedang menggeledah rumah Darwin Hemington.


“Kita menyebar saja jika begitu,” ujar seorang agen polisi. Di depan rumah Darwin.


Setelah salah satu dari mereka membuka pintu rumah yang terkunci, anggota lainnya langsung menerobos masuk ke rumah Darwin.


Rumah yang rapi itu dalam waktu singkat kini sudah tampak berantakan.


Beberapa agen polisinya ada di kamar Darwin Hemington, menyesal seisi kamar tersebut. Mulai dari lemari, nakas, brankas dan sebagainya tak luput dari pemeriksaan mereka.

__ADS_1


“Tak ada apapun di sini.” Agen polisi menghela napas panjang setelah lelah mencari.


Harusnya ada sesuatu yang bisa mereka bawa pulang dari sana. Tapi nyatanya tak ada. Memang sesuatu itu disembunyikan atau belum ditemukan? Tak ada yang tahu.


“Aku mengira barang bukti penting di bakabur oleh Darwin Hemington.” Seorang agen polisi menyampaikan dugaannya.


“Tapi tidak mungkin barang bukti itu hanya satu, pasti ada yang lain di sini hanya saja kita belum menemukannya dan perlu bekerja keras untuk mendapatkannya.”


Agen polisi yang ada di sana kembali melakukan pencarian. Bahkan 120 menit sudah mereka melakukan pencarian. Mungkin karena Darwin Hemington adalah seorang pakar matematika, jadi hidupnya pun semua sudah diperhitungkan secara rinci sampai hal terkecil sekali pun.


“Lihat apa ini?” Seorang agen polisi menemukan sebuah salinan rumus yang diambil dari nangkas terkunci.”


Agen polisi lain berdatangan, dan melihat apa yang ditemukan oleh rekannya itu. Sebuah salinan rumus hidupkan rumus matematika biasa.


“Rumit sekali rumus ini. Apakah ini rumus untuk membuat bom rakitan?” celetuk salah satu agen polisi berkomentar.


Sedikit banyak dia mengetahui rumus senyawa yang digunakan untuk merakit sebuah bom.


“Kita akan menanyakannya pada pakar ahlinya nanti. Kita lanjutkan penyisiran tempat ini.”

__ADS_1


Para agen polisi kembali bergerak mencari petunjuk lainnya.


__ADS_2