
Semua para tamu undangan yang ada di villa seketika merasa lega setelah polisi mengamankan dua pria tersebut.
“Sepertinya besok kita bisa pulang cepat waktu,” ujar seorang tamu undangan.
“Akhirnya titik gelap itu menjadi terang sekarang.”
Beberapa tamu undangan yang ada di sana kemudian buyar. Kembali ke kamar masing-masing. Mereka lelah dengan kasus pembunuhan yang ada.
“Aku tak menyangka dua pria itu urusan dengan polisi.”
“Sama aku juga begitu. Ternyata meskipun argumen Detektif Carl benar adanya, tapi Tuan Dawn juga tersangkut masalah lain.”
“Detektif Darcy dan Detektif Carl memang sama hebatnya.”
Di sudut ruangan nampak Tuan Leo menghampiri Detektif Carl. Pria itu senang sekali Detektif bisa mengungkap kasusnya dengan tepat.
“Kau muncul di saat yang tepat, Detektif Carl.” Tuan Noel memuji, sembari menepuk bahunya tiga kali.
Dia memang sangat mengandalkan kemampuan Detektif Carl, dia juga merupakan kelainan tetap pria itu.
“Kau sudah hafal bagaimana denganku, Tuan. aku tak bisa membiarkan kejadian yang ada di depan mataku lolos begitu saja.”
“Baik, baik.” Tuan Noel mengangguk, mengulas senyum penuh arti. “Nanti sebelum berkemas datanglah ke ruanganku untuk mengambil gift dariku.”
Detektif Carl hanya mengangguk meresponnya. Sebenarnya ia tak mengharapkan imbalan dari Tuan Noel, tapi menolak rezeki bukan hal yang bagus, bukan?
Dari sudut lain Detektif Darcy yang masih berada di ruangan itu menatap rival abadinya yang masih bicara dengan Tuan Noel.
__ADS_1
Sungguh ia benci sekali melihat pemandangan di depannya. Muak...
Bahkan Tuan Noel berpihak pada si brengsek itu. batin Detektif Darcy semakin geram saja. Tangannya di bawah sana sudah terkepal sempurna.
“Kau mempermalukanku di depan publik seperti ini, Carl.” geramnya, dengan gigi yang mulai menggemeletuk dan yang mengeras.
Si Darcy pasti geram sekali padaku, batin Detektif Carl.
Sesekali pria itu melirik ke arah Rival abadinya itu. Dan ia yakin apa yang ada di pikiran Detektif Darcy. Pasti lah pria itu sedang mengumpat dirinya habis-habisan.
Setelah Tuan Noel pergi, sesaat setelahnya Detektif Carl pun melangkahkan kakinya keluar dari sana.
Tepat di saat ia melintasi Detektif Darcy, ia berhenti sebentar.
“Apa masih ada yang ingin kau bicarakan denganku?” ujar Detektif Carl. Dengan suara bassnya dan sudut mata yang berkerut serta kedua tangannya masuk pada saku celana, menatap datar rivalnya.
“Ingat ya! Kau sudah mempermalukanku dan aku akan membalasnya!” ancam Detektif Darcy.
Perkataan Detektif Carl yang santai benar-benar membuat darah Detektif Darcy mendidih.
“Kau! Awas saja kau ya!” Detektif Darcy yang sudah tak bisa mengontrol emosinya yang meledak-ledak sedari tadi, menarik kerah baju Detektif Carl.
“Ingat, kau bahkan mengambil semua klienku dengan trik kotormu dan itu pun aku belum membalasnya sampai sekarang. Aku akan segera membuat perhitungan denganmu. Ingat itu.”
Detektif Carl menyingkirkan tangan rivalnya itu dari kerah bajunya. Lalu mengusap dengan jemari tangannya seolah membersihkan debu. Merasa tangan rivalnya itu kotor dan mengotori bajunya.
Dengan mengulas senyum kemenangan, Detektif Carl berjalan meninggalkan Detektif Darcy sendiri.
__ADS_1
“Ingat, Carl! Semua ini belum berakhir. Aku akan membuatmu menderita. Tunggu saja!”
Ia mengepalkan kedua tangannya erat lalu memukulkannya dengan cepat ke salah satu dinding yang ada di dekatnya hingga kedua tangannya itu nampak berwarna merah.
***
Keesokan paginya, semua tamu undangan beserta Tuan Noel sudah berada kembali di kapal Ferry mewah.
Beberapa bagian kapal yang rusak sudah diperbaiki jadi Takkan terulang kembali kejadian yang sama seperti pertama kali mereka datang ke pulau Brisago ini.
“Tuan Noel, di mana nahkoda kapal ini?” tanya Detektif Carl sembari memegang ujung dagunya.
Ruang kendali itu nampak kosong, tak ada nahkoda atau pria lain yang duduk di sana.
“Nahkoda kapal ini sudah kembali duluan. Dia ada urusan mendadak,” papar Tuan Noel.
Seketika raut muka Detektif Carl nampak kecut.
“Jangan bilang Anda memintaku menjadi nahkoda lagi.”
“Kurasa untuk sementara tak apa. Karena aku sendiri sudah melihat kemampuanmu.”
“Sial!” gerutu Detektif Carl, setelah Tuan Noel pergi dari sana. Niatnya ingin bersantai ternyata malah sibuk kembali. “Baiklah, aku akan kemudikan dengan baik kali ini.”
Kapal ferry pun mulai melaju di perairan.
“Oh, astaga! Siapa nahkoda kapal saat ini? Lebih parah dari sebelumnya.”
__ADS_1
Seseorang menggerutu hebat karena kapal terus berguncang dengan kecepatan tinggi membelah lautan. Padahal awan di atas sana nampak berwarna putih bergumpal dan sinar mentari terang.
“Oh, Ya ampun. Kepalaku hampir saja terbentur!” Pria lain sampai berpegangan pada tiang untuk menahan tubuhnya.