Super Sistem Detektif Kaya

Super Sistem Detektif Kaya
Eps. 184 Kota Pengirim Paket


__ADS_3

Di mobil, Leo kemudian menarik benang merah di antara semua potongan puzzle yang ada.


“Nama Richard dan Octo bisa jadi bukan nama asli atau istilahnya nama beken.” pikir Leo menyimpulkan.


Jika memang penjual online, biasanya nama yang dipakai bukan nama asli, bisa jadi nama yang dianggapnya bagus atau nama pembawa keberuntungan dan sejenisnya.


Tapi semuanya lagi-lagi belum jelas dan masih samar.


“Semoga saja untuk investigasi kali ini tidak memerlukan waktu lama.” Mengingat ada tiga pria yang harus ditemuinya sebagai saksi nanti. Selain itu ada nama tiga wanita juga yang disebutkan oleh orang tua Amy. Meskipun merasa ragu sebenarnya, jika pelakunya bukan seorang wanita.


Tak lama kemudian Leo tiba di rumah Tuan Colton. Dan sudah bisa diduga dua orang itu sudah menunggunya, karena sebenarnya dia sudah janjian dan molor dari waktu yang dijanjikannya.


“Maaf Tuan Colton dan Nyonya Paula, aku terlambat dan membuat Anda berdua menunggu. Tadi ada klien lain yang datang ke kantor.”


“Tak masalah Tuan Leo, mari masuk.”


Leo kemudian masuk ke rumah. Sebelum berkeliling ke rumah enam saksi, ia mengajukan pertanyaan lainnya terlebih dulu.


“Tuan, apakah Nona Amy sebelumnya menyimpan kacang di kamar?”


Tentu saja Tuan Colton dan Nyonya Paula saling menatap dalam kebingungan. Karena pertanyaan itu terasa mengganggu telinga dan juga konyol sekali. Buat apa putri mereka menyimpan kacang di kamar? Sedangkan lemari es aja masih kosong, bisa untuk menyimpan berbagai bahan lainnya.


“Maaf, maksudku bukan kacang, tapi mutiara yang berbentuk mirip seperti butir kacang.” Leo meralat ucapannya.

__ADS_1


Nyonya Paula mengerutkan keningnya. Dia berpikir sejenak. Tanpa banyak bicara tiba-tiba wanita itu bangkit dari tempat duduknya kemudian masuk ke kamar Amy.


Tak lama kemudian ibunya Amy itu kembali lagi ke ruang tamu.


“Tuan, apakah yang kau maksud adalah tiga butir mutiara ini?” Ia menunjukkan tiga butir mutiara berwarna putih dengan ujung berbentuk elips, mirip seperti punya Isabelle.


Ternyata semua sesuai dengan dugaanku. Jika semua korban yang meninggal mendapatkan kacang mutiara ini.


Leo melihat mutiara tersebut dan memeriksanya dengan teliti lalu mengembalikannya lagi.


“Apa Nyonya tahu dari mana Nona Amy mendapatkan mutiara ini?”


“Amy mendapatkan paket tiga hari yang lalu dan isinya itu. Setelah menerima paket tersebut dia tampak sering melamun di malam hari sebelum tidur. Tapi dia tidak pernah bercerita padaku jika ada masalah atau ada sesuatu yang menakutkan mungkin.”


Kini Nyonya Paula nampak cemas dan berpikir ada yang tak beres dah mutiara tersebut.


Nyonya Paula meggeleng, “Tunggu sebentar.” Ia kemudian kembali masuk ke kamar Amy.


“Sayang, kau mau ke mana lagi?” Tuan Colton ikut merasa cemas melihat kecemasan istrinya.


Tak ada respon.


Tepat di saat dia akan berdiri dan menyusul istrinya itu, Nyonya Paula kembali ke ruang tamu dengan membawa sebuah kotak.

__ADS_1


“Ini bungkus paket itu, Tuan. Amy memasukkannya pada tong sampah di kamar, tapi aku belum membuangnya.”


Nyonya Paula menyerahkan kotak kosong tersebut pada Leo.


Leo segera menerimanya dan meneliti kotak paket tersebut. Meskipun sudah dibuka namun Kondisinya masih utuh. Hanya lakban saja yang ditarik oleh Amy, sedangkan bagian lainnya masih utuh.


Ia memeriksa setiap sisi untuk mencari nama pengirim ataupun alamatnya.


“Sayang sekali paket ini pengirimnya no name. Hanya ada alamat kota pengirimnya saja. Bordeaux, Perancis. Bahkan nomor pengirimnya pun tak ada,” decak Leo.


Tapi setidaknya Leo sudah mendapatkan kuota tempat pengiriman paket tersebut, Bordeaux. Satu keping puzzle lagi berhasil ia temukan.


Setelah memotret paket tersebut Leo mengembalikan lagi pada Nyonya Paula.


“Perancis? Bagaimana bisa Amy kenal dengan orang Perancis?!”


Tak hanya Nyonya Paula yang terkejut tapi Tuan Colton pun ikut terkejut.


“Katakan apakah pengirim paket itu yang membunuh putriku?” tanya Tuan Colton yang sebelumnya tenang kini terlihat mulai memerah mukanya akibat tensinya yang mulai naik.


“Kemungkinan itu ada, Tuan. Tapi Aku tidak berani menyimpulkannya terlalu dini. Dan perlu Anda ketahui aku masih berusaha keras mencari identitas pengirim paket ini.”


Beberapa saat setelahnya, Leo segera meminta dipertemukan dengan saksi kematian Amy.

__ADS_1


“Baiklah Tuan, sekarang ikut lah bersama kami pergi ke rumah Samuel.” Tuan Colton berdiri dari tempat duduknya.


Setelahnya, Leo dan Nyonya Paula ikut berdiri dan mengikuti pria itu menuju ke rumah Samuel.


__ADS_2