Super Sistem Detektif Kaya

Super Sistem Detektif Kaya
Eps. 112 Menyerahkan Berkas


__ADS_3

Empat hari yang lalu Tuan Adolf mendatangi Biro Detektif Darcy dan jelaskan kasus kematian putrinya itu pada dirinya.


Setelah menerima berkas tersebut ia mengembalikannya. Kenapa?


Karena ia sudah bergerak menyelidiki kasus tersebut. Tapi semua bukti petunjuk yang mengarah pada pembunuhan hilang, tepatnya tak bisa di cari lagi. Seperti ada yang melindungi ataupun menutup semua akses ke sana.


“Aku yakin Detektif Carl pasti juga tak akan bisa mengungkap kasus itu, Tuan.” Asisten Detektif Darcy ikut menimpali dan berpendapat.


Tuan dan asistennya setali tiga uang. Sama saja, mereka sama-sama merendahkan Detektif Carl.


“Kau benar. Dia itu seorang pecundang sejati,” balas Detektif Darcy.


Ia tak mau membahas hal itu lagi dan memilih untuk fokus mengemudi karena ada janji bertemu dengan seorang klien di luar kantor.


Sementara di kantor Detektif Carl, pria itu masih duduk termenung. Ia membaca berkas yang disodorkan oleh Tuan Adolf, dan terlihat sedang mempelajarinya.


Apa benar kasus ini murni pembunuhan? batin Detektif Carl, meletakkan berkas yang ada pada tangannya ke meja.


Ia sendiri kurang yakin dengan data yang disodorkan padanya yang terasa minim. sehingga susah untuk disimpulkan apa itu kasus pembunuhan atau murni bunuh diri.


“Tuan Adolf, aku sebelum melakukan penyelidikan dulu apakah kasus ini merupakan murni bunuh diri atau bukan,” ucap Detektif Carl pada akhirnya.


Ia tak berani menyimpulkan sedini mungkin.

__ADS_1


Namun jawaban itu cukup membuat pasangan suami istri tersenyum.


“Terima kasih, sudah mau menerima kasus kami Detektif,” ujar Nyonya Adolf.


“Belum Nyonya, aku akan menyelidikinya dudlu baru aku bisa memutuskannya akan menerima kasus ini atau tidak,” ucapnya tegas. Tak mau memberikan harapan palsu atau lebih mengecewakan lagi kliennya.


Pasangan suami istri itu mengganggu kemudian mereka berpamitan. Setidaknya, Detektif Carl akan melakukan penyelidikan dulu. Dan itu membuat mereka tenang. Minimal, putrinya bisa tersenyum meskipun di alam baka di sana.


Setelah kepergian kliennya, Detektif Carl membuka kembali berkas tadi. Ia melihat foto korban meninggal dengan seksama.


Bahkan sampai ia mengeluarkan alat pembesar angker bisa melihatnya lebih jelas. Tentu saja alat itu merupakan item dari shop sistem. Bukan alat pembesar biasa.


“Aku akan melihatnya dulu dari foto ini,” tukasnya. Menaruh alat pembesar itu.


Terlihat tubuh itu mulus tanpa goresan luka sedikitpun di sekujur tubuh. Hanya pucat saja wajahnya. Mungkin karena terkena suhu dingin air hingga membuatnya membiru.


Ada sehelai rambut putih terlilit di salah satu jari mayat, di bagian cincin. Padahal rambut Sarah Michelin berwarna merah bukan putih seperti rambut orang tua.


“Bagaimana bisa ada selai rambut putih di sini? Milik siapa rambut ini?” gumamnya, terkejut.


Berbagai pikiran negatif pun mulai muncul dalam benaknya. Mulai dari wanita itu menjalin hubungan dengan seorang kakek-kakek, hingga berpikiran wanita itu menjadi korban kekerasan seksual oleh pemilik rambut putih.


“Kancing bajunya.” Refleks saja pria itu kemudian menatap kancing baju mayat.

__ADS_1


Kancing bajunya semua utuh, jadi tidak mungkin dia merupakan korban pemerkosaan oleh seorang tua renta.


Detektif Carl lalu berani menatap bagian kaki mayat.


“Tak ada apapun di sini, dan semuanya tampak normal.” cicitnya, melihat tak ada yang aneh pada bagian kaki mayat.


Detektif Carl pun tak bisa menyimpulkan hanya dengan melihat dari foto saja. Ia perlu melihat foto tiga mayat wanita lainnya ditemukan.


“Leo, coba kau cari foto dan semua data mengenai tiga mayat wanita lainnya yang diangkut bersama mayat Sarah Michelin.” titahnya, pada Leo yang masih duduk di sampingnya.


“Baik, Detektif.”


Seperti biasa, Leo pun segera berdiri dari tempat duduknya. Ia bergerak cepat dan masuk ke ruangannya untuk mencari data tersebut.


“Mungkin jika mayat masih fresh aku bisa langsung memeriksanya tapi ini sudah 5 hari berlalu dan saat ini mayat sudah masuk ke liang Lahat.” decaknya, merasa harus bekerja ekstra untuk menggali informasi.


Di tengah pikirannya tentang kasus tersebut tiba-tiba saja dia teringat pada sistem.


Apakah terus ini juga merupakan misi dari sistem? batinnya, karena dari tadi dia tak mendapatkan notifikasi dari sistem.


Padahal biasanya, sistem akan langsung mengkonfirmasi dengan cepat apakah itu masuk dalam misi atau tidak.


Detektif Carl lalu mengeluarkan ponselnya dan mengecek notifikasi yang masuk.

__ADS_1


“Astaga, sistem sedang error,” pekiknya. Lalu pengaruh kembali benda pipih itu ke balik saku. “Kenapa ya, sistem error?”


Daripada menunggu lama sistem pulih, maka ia pun keluar dari kantor dan menuju ke danau Eire sendiri untuk melihatnya secara langsung. Barangkali saja dia menemukan petunjuk di sana.


__ADS_2