
Tuan Adolf mengangguk dengan wajah sedikit tertekuk.
“Baiklah, tidak salah Aku menyerahkan berkas kasus ini padamu. Tolong, ungkap pelakunya,” balasnya dengan berbisik pula.
Detektif Carl hanya mengangguk meresponnya
Ia pun kembali setelah membahas beberapa hal dengan Tuan Adolf.
Karena masih acara berkabung, maka Tuan Adolf kembali ke acara tersebut. Tak enak meninggalkan rekan bisnisnya dan juga kerabatnya terlalu lama.
“Ouh!” Seseorang menabrak Detektif Carl, di tengah jalan.
“Maaf, maaf Tuan. Aku tidak sengaja,” ucap seorang pria tampak buru-buru kemudian berhenti sebentar, dan merasa bersalah.
“Ya, tak apa.”
Detektif Carl menatap sejenak pria tersebut. Dari usianya ia bisa memperkirakan sekitar 30-35 tahun. Dari cara berpakaiannya yang terlihat rapi dan mengenakan setelan jas ia bisa menilai jika pria itu merupakan kolega bisnis Tuan Adolf.
Namun pria tadi masih berdiri di tempatnya.
“Sungguh, aku tak apa, Tuan. Anda bisa lanjutkan aktivitas,” tutur Detektif Carl, tak tahu kenapa pria itu masih berdiri di sana.
“Terima kasih.”
Pria tadi kemudian berjalan kembali. Malahan saat ini ia setengah berlari masuk ke rumah Tuan Adolf.
“Lexy! Aku sudah menunggumu.” teriak Tuan Adolf, begitu melihat dan mendengar seseorang yang baru saja masuk.
__ADS_1
“Maaf, aku terlambat. Ada acara di kantor yang tak bisa kutinggal,” tukasnya.
“Ya, tak apa. Aku tak menyangka saja kau menghadiri acara ini meskipun kau sudah tidak lagi berhubungan dengan putriku,” balas Tuan Adolf, lalu segera mengajaknya bergabung bersama yang lain.
Lexy adalah calon suami Sarah Michelin. Pria yang membatalkan pernikahannya, satu hari sebelum acara pernikahan berlangsung.
Ia sendiri turut berduka sedalam-dalamnya atas kejadian meninggalnya Sarah akibat bunuh diri, yang mungkin saja pemicunya adalah dirinya.
Tapi percayalah, bukan tanpa alasan pria itu membatalkan acara pernikahan mereka. Ia terpaksa membatalkannya, karena atas desakan orang tuanya yang tak menyetujui hubungan mereka.
“Sarah, seharusnya aku tidak langsung membatalkan pernikahan itu sehingga kau tidak sampai melakukan bunuh diri seperti ini,” sesalnya menatap foto Sarah Michelin di meja, di samping lilin yang menyala redup kala itu.
“Siapa pria itu sebenarnya?” gumam Detektif Carl, melihat wajah sosok pria yang tadi menabraknya dan kini juga terlihat sedih bahkan terlihat paling terpukul diantara para undangan yang hadir.
Detektif Carl, lalu melanjutkan langkahnya setelah berhenti sejenak untuk melihat pria tadi, lalu masuk ke mobilnya.
Di tengah jalan menuju ke rumah tiba-tiba ponselnya bergetar hebat.
Ia mengeluarkan ponselnya dengan cepat untuk melihat siapa yang menelepon atau mungkin saja ada pesan masuk untuknya.
Sistem telah pulih. Misi selanjutnya telah diaktifkan.
“Aku kira siapa,” decaknya setelah mengetahui ternyata notifikasi dari sistem.
Dan seketika jam yang ada di dasbor mobil pria itu kini berubah menjadi timer pelaksanaan misi.
“Astaga! Kenapa secepat ini misi berikutnya hadir? Aku jika tidak tahu misinya apa, tolong hentikan,” tukasnya menolak.
__ADS_1
Jujur saja, dia masih lelah setelah menyelesaikan kasus yang sebelumnya. Kasus dari biru kepolisian yang cukup menguras pikiran dan tenaga. Rasanya lelah itu belum lah hilang meski sudah beristirahat seharian.
Misi ini merupakan misi kasus dari Tuan Adolf.
“Oh, kebetulan sekali.”
Detektif Carl tersenyum pipis di tengah rasa penatnya karena merasa beruntung misinya merupakan misi yang sudah ia tangani saat ini.
Deadline pelaksanaan misi tiga hari. Dan rewardnya berupa 30.000 poin jika berhasil menyelesaikan misi sebelum deadline.
“Shiit!” umpat Detektif Carl keras, mengutuk sistem.
Kenapa sistem tidak pulih besok atau dua hari ke depan saja? Ia benar-benar di buat kalang kabut seperti ini jika waktunya terlalu mendadak. Terlebih, dia sudah melewatkan beberapa jam namun sistem tak menghitungnya.
Sepanjang jalan pria itu terus memaki sistem. Hingga di tengah jalan ia berhenti memakai karena melewati Danau Eire.
Sebenarnya ia lebih ingin segera pulang ke rumah tapi berhubung karena mandat dari sistem terpaksa ia berhenti di sana.
“Malam begini, apa ada petunjuk yang bisa kutemukan di sini?”
Dengan mendesah kesal pria itu turun dari mobil. Ia parkir mobilnya di depan jauh dari pintu masuk ke danau.
Detektif Carl berjalan pelan dengan malas menyisiri danau yang sepi, hanya ada dirinya seorang di sana.
Ia pun berhenti di area tempat sebelumnya menemukan tali tambang yang tertinggal di sana.
“Ada jejak kaki di sini?” gumamnya, melihat jejak kaki basah.
__ADS_1
Ia pun segera menatap ke arah tali tambang tadi berada.
“Astaga, tali itu sudah hilang. Ada yang mengambilnya!” pekiknya, melihat tali tambang tadi sudah raib dari tempatnya.