
“Hey, kunci mobilnya ketinggalan!” Sherif Tasman berlari keluar dari kantor.
Pria itu meminjamkan mobil pribadinya pada Detektif Carl, bukan mobil dinas untuk misi kali ini selama Detektif Carl berada di Prancis.
“Ck! Bagaimana bisa aku lupa?”
Detektif Carl yang hampir tiba di mobil kemudian berbalik menghampiri Sherif Tasman.
“Tangkap ini.” Sherif Tasman terpaksa melempar kunci mobil karena telepon di kantor tiba-tiba berdering.
Beruntung kunci mobil tersebut berhasil ditangkap oleh Detektif Carl dengan mudah.
“Aku pakai mobilmu dulu.” Ia segera kembali ke mobil merah milik Sherif Tasman.
Mobil melaju setelahnya, ke tempat tujuan. Detektif Carl sudah beberapa tahun tidak kemari. Ia melihat jalanan tapak berbeda dan banyak bangunan baru di sana.
“Rupanya aku sudah ketinggalan jauh di sini. Mungkin nanti sebelum kembali ke Swiss aku perlu jalan-jalan sebentar di sini.”
Ia lalu kembali membaca secarik kertas yang diberikan oleh Sherif Tasman padanya. Ada beberapa daftar nama di sana beserta alamatnya.
Tentunya daftar nama itu bukan daftar nama biasa. Daftar nama itu berisikan daftar nama napi yang sudah bebas, lebih istimewanya lagi mereka adalah teman Octopus. Bisa dibilang teman satu selnya dulu.
“Jackson, Clinton,....” Detektif Carl menyebut beberapa nama napi lainnya. “Hais, di antara mereka siapa yang merupakan ketuanya?”
__ADS_1
Dari tujuh nama yang terlampir, ia kemudian menemukan satu nama yang ditandai oleh Sherif Sherma dengan diingkari warna merah.
“Alex, kurasa dia pasti ketuanya. Jadi Lebih baik aku langsung mendatangi dia saja daripada membuang waktu percuma mendatangi lainnya. Sisanya biar si Alex ini yang urus.”
Setelah membaca alamatnya kemudian ia mengaktifkan GPS untuk mencari alamat tersebut. Jujur saja, dia tidak begitu mengetahui alamat yang terlampir pada catatan tadi.
Mobil kemudian melaju mengikuti arah yang ditunjukkan oleh GPS. Setelah 15 menit perjalanan, Detektif Carl menghentikan mobil di depan sebuah rumah bercat putih dengan pagar tinggi 1 meter yang mengelilingi rumah berlantai dua tersebut.
Ding-dong! Langsung saja Detektif Carl menekan bel di dekat pagar rumah.
Seorang pria kekar kemudian datang dan membuka pagar. Pria bertato penuh di lengan kiri segera mengunci pandangannya pada sebuah mobil merah yang terparkir di depan pagar rumahnya.
Mobil itu kan mobil milik Sherif Tasman? batinnya langsung tahu.
Apakah dia mengirimkan anggotanya untuk menangkap ku? batinnya curiga.
“Kau Alex Zakovic, bukan?” tanya Detektif Carl, langsung.
Pria ini juga memakai anting di cuping telinga kanan itu tak menjawabnya dengan kata, tapi dia langsung menarik pistol yang ada di saku celana, lalu menodongkan pada Detektif Carl.
“Siapa kau? Lalu apa tujuanmu kemari?”
Detektif Carl pun sudah menduga tanggapannya akan seperti itu. Ia pun sudah berjaga-jaga dan langsung menarik 2 pistol dari saku bajunya, lalu menodongkan pistol itu pada Alex.
__ADS_1
“Aku rekan Sherif Tasman, Detektif Carl. Kedatanganku kemari atas perintahnya. Jika kau menolak perintah ini, maka Sherif Tasman akan mengirimmu kembali ke balik jeruji besi.” Ia menarik dua pelatuk pistol di tangannya.
Tentu saja maksudnya itu membuat Alex Zakovic merinding.
“Katakan, apa perintah dari Sherif Tasman?”
“Aku memberimu waktu satu hari penuh untuk mengadakan acara perburuan di hutan esok hari. Di acara itu kau harus mengundang Oktopus Viedra, bersama temanmu yang lain dalam catatan ini.” Detektif Carl kemudian menunjukkan catatan yang di bawanya tadi.
Alex Zakovic mengangkat kedua alisnya membaca nama tersebut. Semua nama yang tertera di sana adalah temannya satu sel dulu saat masih mendekam dalam penjara.
“Kenapa aku harus mengadakan acara ini?” Jujur saja, ia bingung dengan tugas yang diberikan oleh Sherif Tasman.
“Ini adalah misi rahasia untuk menangkap seseorang. Awas, jika kau sampai membocorkan informasi ini pada salah satu dari mereka, maka kau harus memberikan nyawamu sebagai gantinya !” ancam Detektif Carl.
Tentu saja Alex Zakovic tak berkutik dengan ancaman tersebut. Hanya saja itu Obatnya juga penasaran siapa satu di antara enam temannya yang menjadi target polisi kali ini.
Alex Zakovic menelan salivanya dengan berat, baru bicara.
“Baik, aku akan beri tahu semuanya sekarang juga.” Barulah Detektif Carl menarik dua pistolnya dari kepala Alex Zakovic, anu menyarungkan kembali ke saku baju.
Ternyata ada manfaatnya juga tadi dia meminjam pistol milik Sherif Tasman satu yang di ambilnya dari dasbor mobil.
“Ingat! Jangan sampai informasi ini bocor pada siapapun.” Detektif Carl berhenti sebentar dan mengulangi ancamannya lagi.
__ADS_1
“Tentu, kau bisa percaya padaku.”